Pengalaman Batin (Esoterik): Pengalaman Bersama Pengorganisiran

6 - Jan - 2012 | Akbar Yumni | No Comments »

Clifford Greetz, salah seorang Indonesianis, mengandaikan sindrom etnosentrisme, dan sindrom etnosentristik dalam proses penarasian dalam menghimpun fakta di suatu masyarakat. Sindrom etnosentrisme adalah menganggap bahwa manusia sebagai benda belaka, ia mendengar kata-kata, namun tidak mendengar musiknya, kemudian sindrom etnosentristik adalah menganggap manusia sebagai boneka, ia mendengar musiknya, yang sesungguhnya belum tentu ada. Terpisah dari pengalaman atau larut dalam kesan (impresi), kedua sindrom tersebut memang menjadi cakrawala dalam proses memahami fakta yang terkandung dalam suatu komunitas masyarakat tertentu.

Pengalaman dalam melakukan proses pembelaan (advokasi) yang dilakukan oleh kelompok pendamping (LSM, aktivis) pada suatu entitas komunitas masyarakat yang sedang memperjuangkan ‘hak’ nya dari tekanan-tekanan modal, masih menyisakan cakrawala sindrom etnosentrisme dan etnosentristik. Hal ini terkait dengan banyak nya prakarsa perlawanan yang lahir justru dari sistem nilai dan keyakinan mereka sendiri. Pengalaman mendapingi komunitas masyarakat Sedulur Sikep Sukolilo Pati dalam melakukan penolakan pendirian pabrik Semen Gresik di wilayah mereka, adalah pengalaman melihat keberhasilan mengorganisir diri mereka sendiri, serta entitas masyarakat di sekitarnya, dalam menggalang aksi penolakan. Keberhasilan mengorganisir masyarakat dalam aksi penolokan pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati oleh komunitas Sedulur Sikep, sesungguhnya prakarsa yang lahir dari sistem nilai dan keyakinan yang mereka anut. Prakarsa-prakarsa tersebut tidak lepas dari frasa dan kosa kata ‘bahasa’ yang memiliki ‘cara mengada’ yang berbeda dalam padanan kerangka berpikir dari pihak pendamping yang melakukan pembelaan. Menginsyafi anasir-anasir perlawanan yang sesungguhnya lahir dari komunitas yang melakukan perlawanan, setidaknya mungkin bisa dimaknai sebagai ‘pengalaman bersama’ dalam melakukan aksi penolakan pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati.

Prakarsa dari Nilai Yang Subtil

“Sing paling kena dampak dari onoe pabrik Semen Gresik kuwi, yo ibu-ibu”. Setidaknya itu sisa-sisa ingatan dari yang saya sering dengar. Ketika usaha untuk menggalang para kaum ibu di Sukolilo Pati, dalam gerakan penolakan pabrik Semen Gresik di wilayah mereka, muncul dari prakarsa seorang perempuan Sedulur Sikep. Renungan-renungan bahwa kaum ibu adalah paling paling terancam dari adanya pendirian pabrik Semen Gresik tersebut, bagi kalangan perempuan komunitas masyarakat Sedulur Sikep memang tidak lepas dari perihal ekonomi mereka, sampai kemudian prakarsa penggalangan kaum ibu di Sukolilo Pati, terwujud dengan nama ‘Simbar Wareh’.

Sesungguhnya kosa kata ‘ibu’ yang pertama kali saya dengar, ketika prakarsa pendirian komunitas Simbar Wareh sebagai bagian dari strategi penolakan pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati. Keberangkatan kosa kata ‘ibu’ merupakan anasir dari situasi sosial budaya yang berlangsung di kalangan masyarakat Sukolilo Pati, khususnya di kalangan komunitas masyarakat Sedulur Sikep. Ketika situasi perlawanan yang diprakarsai para kaum ‘bapak’ di Sukolilo Pati dalam aksi-aksi penolakan pabrik Semen Gresik di wilayah mereka, bagi kaum ibu ancaman-ancaman dan intimidasi dari pihak aparat dan Semen Gresik, justru lebih terasa dan berujung di rumah mereka.

Beberapa situasi ancaman dan intimidasi pada kala awal penolakan pabrik Semen Gresik di Sukolilo, memang terjadi di beberapa rumah masyarakat yang melakukan aksi penolakan. Ancaman dan intimidasi bukan hanya dilakukan oleh para pihak aparat, namun juga di kalangan masyarakat sendiri. Beberapa masyarakat yang diuntungkan secara sepihak dari pendirian pabrik Semen Gresik, juga turut memberikan pengaruh bagi mereka yang menolak agar menerima pendirian pabrik semen tersebut. Secara nyata, situasi-situasi intimidasi dan ancaman yang sangat khas tersebut, semua berlangsung dalam di rumah mereka, para masyarakat Sukolilo penolak pabrik semen. Anasir-anasir sosial yang sangat khas inilah yang kemudian menjadikan pemaknaan ‘rumah’, yang notabene identik dengan entitas ‘ibu’, sebagai perihal yang menentukan dari keberhasilan, bahkan kegagalan dari perlawanan terhadap pendirian pabrik Semen di wilayah mereka. Dalam pembayangan salah seorang perempuan masyarakat Sedulur Sikep, ‘sing ngukuhno’ perlawanan para kaum bapak yang sedang melakukan aksi perlawanan, tidak lepas dari ‘kukuh’ nya para kaum ibu dalam memaknai perjuangan penolakan pendirian pabrik Semen Gresik yang akan mengancam mereka.

Rumah merupakan ‘cara mengada’ yang khas pada keseharian, bagi perempuan di kalangan komunitas masyarakat Sedulur Sikep. Pembayangan terhadap ‘rumah’ merupakan anggitan (abstraksi) yang paling pondasi, dari bangunan sosial masyarakat. Budaya egaliter dan juga bisa dianggap demokratis, membuat keberadaan para kaum ibu di kalangan masyarakat Sedulur Sikap menjadi perihal yang menentukan dalam keputusan politik di kalangan mereka. Dan situasi yang sangat khas tersebut berlangsung di rumah. Frasa-frasa macam ‘kahanan keluarga (rumah)’, ‘kahanan masyarakat’, ‘kahanan negara’, merupakan bagian dari ‘kahanan alam’ sebagai anggitan nilai yang dianut, merupakan tatanan yang saling mengandaikan di antara frasa tersebut. Mungkin kita mengenalnya sebagai bentuk kosmologi (keteraturan), ketika dipadankan dengan paham-paham Jawa umumnya yang dekat dengan kesadaran holistis. Sedemikian hingga, ‘cara mengada’ rumah akan menentukan ‘cara mengada’ masyarakat, dan negara. Tatanan sosial yang sangat khas ini, menjadikan keberadaan ‘kaum ibu’ sebagai entitas penting dalam menentukan keberhasilan perjuangan penolakan pabrik Semen Gresik di wilayah mereka.

Pembayangan kosa kata ‘ibu’, setidaknya memang memiliki ‘cara mengada’ yang khas di kalangan perempuan komunitas masyarakat Sedulur Sikep dalam menghadapi pendirian pabrik Semen Gresik di wilayah mereka. Hal ini terkait dengan anasir-anasir perlawanan terhadap pendirian pabrik Semen yang berasal dari kalangan kaum Ibu Sedulur Sikep, lahir dari kesadaran-kesadaran atas nilai yang melekat di komunitas mereka yang khas pula. Menempatkan sesuatu yang khas, terhadap semangat pengorganisiran di kalangan para kaum ibu, sesungguhnya adalah melepaskan andai-andaian sektoral yang selama ini justru kurang mendapatkan tempat dalam kaidah sosial yang berlaku di masyarakat mereka.

Belakangan ini, pemaknaan peran-peran kaum perempuan, khususnya para kaum ibu, dalam organisasi Simbar Wareh, masih dimaknai pada hubungan ekonomi belaka. Bahkan cendrung mengembalikan posisi domestik para ibu sebagai titik pijak pengorganisiran. Bahwa para kaum ibu yang mengurus rumah tangga sebagaian mengurus ekonomi rumah tangga, sesungguhnya bukan pembayangan yang dimaksud dari awal berdiri nya organisasi yang diprakarsai seorang perempuan Sedulur Sikep. Pun demikian hal nya, wacana-wacana sektoral dalam kerangka gender masih menjadi jarak dalam kaidah sosial dikalangan kaum perempuan Sedulur Sikep, dan kaum perempuan di Sukolilo.

Pemaknaan ‘rumah’ beserta entitas kaum ‘ibu’ nya, sesungguhnya tidak bisa dimaknai sebagai perihal domestik belaka. Anasir-anasir pengorganisiran yang berjalan dan efektif dilakukan selama ini, di kalangan kaum perempuan masyarakat penolak pabrik semen Sukolilo Pati, tidak mengandaikan perihal kerangka berfikir sektoral. Kosa kata ‘ibu’ merupakan kosa kata yang berasal dari kalangan mereka sendiri, sebagai sesuatu yang ‘menjadi (becoming)’, karena andanian-andaian ‘pengalaman’ yang personal, dari ‘pengalaman negatif’ yang menyelimuti para kaum ibu dalam menghadapi situasi penolokan pabrik semen. Ketika ancaman-ancaman yang paling terasa—ancaman yang paling berpengaruh justru datang secara horisontal, yang datang dari para tetangga yang menyetujui pendirian pabrik semen—terhadap pengalaman penolakan pabrik semen berada di rumah, sesungguhnya adalah pengalaman negatif yang subtil, karena bersifat khas.

Konteks penggunaan kosa kota ‘ibu’ sebagai awal pertama kali dari dasar prakarsa pendirian organisasi Simbar Wareh, tidak lepas dari situasi khas yang menyelimuti mereka. Semangat-semangat ‘mengukuhkan’ rumah tangga, khususnya bagi para kaum ‘bapak’ yang sering berada diluar rumah dalam aksi penolakan, sesungguhnya berasal dari ‘kekukuhan’ para kaum ibu itu sendiri. Pembayangan penolakan pabrik semen bagi para kaum ibu, khususnya kalangan perempuan Sedulur Sikep, sekaligus pembayangan mengurus rumah tangga mereka, yang andaianya tidak bisa dipisahkan.

Kosa kata ‘ibu’ adalah entitas yang terus ‘menjadi’, dalam menghadapi situasi-situasi yang khas, yang menjadi pengalaman negatif bagi mereka. Tanggapan dan prakarsa yang berasal dari paham atau nilai yang melekat pada suatu komunitas masyarakat, sering memang diluar dugaan, namun sebaliknya justru membuka peluang terhadap peluang-peluang strategi dan sikap dalam melestarikan lingkungan mereka. Andaian mempertahankan Gunung Kendeng di Sukolilo Pati, tidak serta merta menjadi frasa ‘kelestarian lingkungan’ mereka, frasa-frase ‘menjaga Watu Kembar’, dan situs-situs kebudayaan, justru menjadi perihal yang fitrah untuk diinsyafi bagi kita diluar masyarakat yang terkena dampak pendirian pabrik Semen Gresik. Prakarsa-prakarsa yang lahir dari komunitas masyarakat Sedulur Sikep terhadap aksi penolakan pabrik Semen Gresik, menjadikan pengalaman-pengalaman perjumpaan nilai yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Sedulur Sikep, adalah sesuatu yang subtil.

‘Serawung’ sebagai Pengalaman-pengalaman Batin (Esoterik) Pengorganisiran

Srawung, serawung, tentu sebuah istilah yang tidak asing lagi ketika kita mengalami perjumpaan dengan masyarakat Sedulur Sikep. Hampir setiap perjumpaan dengan masyarakat Sedulur Sikep itu sendiri, bisa dimaknai sebagai serawung bagi mereka. Sampai kemudian kita mengenal frasa ‘Sinau, seko serawung (belajar dari saling mengenal dan mengunjungi, pen)’. Sedemikian hingga, serawung tidak sekedar dianggap sebagai keseharian yang ‘banal’ di kalangan masyarakat Sedulur Sikap, serawung bisa jadi adalah bagian dari tatanan nilai yang melekat secara khas, dalam khasanah kesadaran di kalangan masyarakat Sedulur Sikep.

Cukup sulit menafsirkan secara ajek dalam memaknai kosa kata ‘serawung’. Bagi masyarakat Sedulur Sikep kata ‘serawung’ juga mengandaikan frasa-frasa yang lain, macam ‘sing sak nyotone (pada yang tampaknya, pen)’, yang mungkin bisa diterjemahkan sebagai pengejawantahan dari praktik terhadap kontrol representasi. Mungkin kurang pas kira nya, bagi masyarakat di kalangan Sedulur Sikep menyampaikan sesuatu, tidak bertemu ‘empu’ nya. Dari pengalaman ‘serawung’ dan ‘diserawungi’ bersama Sedulur Sikep, merupakan pengalaman-pengalaman batin (esoterik), yang kadang sulit dibahasakan, namun terasa di hati (roso). Berangkat dari pengalaman-pengalaman batin ini lah, yang sesungguhnya, banyak prakarsa yang dilakukan oleh kalangan komunitas Sedulur Sikep dalam mendorong masyarakat di luar dan sekitarnya, untuk melakukan penolakan pendirian pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati, berhasil dilakukan.

Situasi penolakan dalam menghadapi kehadiran pabrik Semen di Sukolilo Pati, Jawa Tengah, serawung tetap sebagai ‘cara mengada’ di kalangan masyarakat Sedulur Sikep. Tekanan-tekanan baik dari pihak aparat maupun para pemerintahan daerah, serawung tetap menjadi nuansa keseharian yang khas di kalangan mereka. Dari serawung lah, prakarsa-prakarsa penolakan terhadap pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati, yang berasal dari masyarakat Sedulur Sikep, sedikit banyak lahir dari perilaku serawung yang melekat dalam kesadaran mereka. Tingkat keberhasilan komunitas masyarakat Sedulur Sikep, ketika mengorganisir masyarakat—masyarakat di luar komunitas Sedulur Sikep—yang terkena dampak pendirian pabrik Semen Gresik, sedikit banyak karena ‘cara mengada’ sedulur sikep melalui budaya serawung mereka.

Saya masih mengingat, ketika penggalangan para kaum ibu di kalangan masyarakat penolak pendirian pabrik Semen Gresik, diprakarsai oleh salah seorang perempuan (seorang ibu) yang berasal dari komunitas Sedulur Sikep, melalui serawung dalam menggalang aksi pertama nya di Gua Wareh, desa Kedumulyo, Sukolilo Pati. Di kemudian hari para ibu yang berkumpul di Gua Wareh tersebut, menjadi cikal bakal berdirinya organisasi perempuan Simbar Wareh. Nama Simbar Wareh sendiri diambil dari dua mata air yang berada di wilayah mereka, Simbar Joyo di Jimbaran, dan Wareh adalah nama gua yang terdapat sumber air, berada di desa Kedumulyo. Mungkin nama ‘wareh’ diambil karena tempat pertama para kaum ibu di Sukolilo Pati, berkumpul mengukuhkan sikap penolakan terhadap pendirian pabrik Semen di wilayah mereka. Keberhasilan menggalang para kaum ibu berkumpul di Guo Wareh pada saat itu, tidak lepas dari semangat serawung yang dimiliki seorang perempuan dari komunitas Sedulur Sikep.

Pembayangan pengorganisiran melalui semangat serawung memang membutuhkan ketekunan. Saya masih teringat, bagaimana secara telaten, prakarsa menggalang para kaum ibu, dilakukan dengan menyerawungi satu per satu di rumah para kaum ibu di Sukolilo Pati. Melihat ketelatenan dalam menindaki serawung oleh seorang perempuan Sedulur Sikep, menjadi pengalaman batin (esoterik) tersendiri. Pembayangan terhadap pengorganisiran para kaum ibu, bagi seorang perempuan Sedulur Sikep yang memiliki prakaras terhadap hal tersebut, sesungguhnya bukan persoalan teknis belaka. Ketelatanan menyerawungi kaum ibu, satu demi satu mendatangi rumah para kaum ibu warga Sukolilo Pati, tidak lepas dari pengejawantahan nilai –nilai yang berasal dari komunitas masyarakat Sedulur Sikep. Hal ini terkait dalam hal memaknai hubungan sosial sesama warga, khususnya warga di luar masyarakat Sedulur Sikep. Tindakan serawung dalam rangka mendorong para kaum ibu untuk berkumpul di Gua Wareh, sebagai sikap penolakan terhadap pendirian pabri Semen Gresik di wilayah mereka, sesungguhnya tidak bisa diandaikan sebagai tindakan ‘mobilisir’ dalam khasanah pengorganisiran yang selama ini kita kenal. Ada semacam komunikasi yang bersifat esoterik, yang memiliki makna kultural, dan nilai ‘kedekatan personal’ yang subtil. Sedemikian hingga, serawung menjadi tindakan kultural yang efektif sebagai bagian dari penggalang kaum ibu di Sukolilo Pati, oleh seorang perempuan Sedulur Sikap.

Memaknai serawung sebagai modal budaya, adalah usaha memahami kepekaan-kepekaan yang dimiliki masyarakat Sedulur Sikep itu sendiri, ketika mengorganisir para kaum ibu di wilayah Sukolilo Pati, untuk terlibat aktif dalam aksi penolakan pendirian pabrik Semen Gresik. Dalam khasanah kalangan intelektual, atau kelompok pendamping yang turut serta melakukan pembelaan terhadap masyarakat yang terkena dampak pendirian pabrik semen tersebut, Serawung bisa jadi dianggap sebagai bagian ‘strategi’ atau siasat dalam mengorganisir masyarakat melalui budaya masyarakat Sedulur Sikep. Namun sesungguhnya, serawung bagi kalangan masyarakat Sedulur Sikep, bukanlah sesuatu yang sektoral, apalagi terpisah dengan kesadaran mereka dalam memandang relasi sosial. Serawung bagi saya pribadi adalah pengalaman esoterik, dalam tingkatan praktik mungkin jauh berbeda dari yang kita (pihak luar) bayangkan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai pengalaman bersama, karena mengandaikan perjumpaan pada wilayah yang batin (esoterik), ketimbang hal-hal yang perjumpaan pada wilayah yang praktik (esoterik).

Sisa-sisa Inklusifisme dalam Keberagaman (Multikultural)

Tidak selamanya kerangka berpikir yang dimiliki oleh kelompok-kelompok pendamping (Lembaga Swadaya Masyarakat, aktivis) dalam pembelaan-pembelaan (advokasi) terhadap kelompok-kelompok minoritas, bisa dijalankan sepenuhnya dalam kaidah sosial dari kelompok-kelompok minoritas yang dibelanya. Pengalaman keberhasilan penolakan pabrik Semen Gresik di Pati Sukolilo, Jawa Tengah, justru lebih banyak berhasil melalui prakarsa-prakarsa yang berasal dari paham atau nilai yang dianut dari komunitas setempat. Hal ini memberikan renungan (evaluasi) baru, terhadap cara pandang sektoral yang dimiliki kelompok-kelompok yang melakukan pembelaan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

Masyarakat Sedulur Sikep di Sukolilo Pati, merupakan satu diantara entitas masyarakat yang memberikan sumbangsih besar terhadap keberhasilan gerakan penolokan pabrik Semen Gresik di wilayahnya. Prakarasa-prakarsa perlawanan dalam bentuk aksi penolakan, penggalangan solidaritas, sampai dengan prakarsa-prakarsa pengorganisiran masyarakat yang terkena dampak pabrik Semen, sedikit banyak lahir prakrasa yang berasal dari paham atau nilai yang anut komunitas masyarkat Sedulur Sikep. Simbar Wareh, merupakan satu diantara wujud keberhasilan pengorganisiran, yang diprakarsai oleh salah seorang perempuan dari kalangan komunitas Sedulur Sikep. Organisasi yang terdiri dari kamu perempuan (para ibu rumah tangga) yang berasal dari masyarakat Sukolilo dalam penolak pendirian pabrik Semen Gresik ini, telah mampu mendorong para kaum perempuan untuk terlibat aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan di wilayahnya.

Renungan-renungan yang muncul dari pengalaman pengorganisiran bersama masyarakat Sedulur Sikep Sukolilo Pati, melahirkan pertanyaan-pertanyaan; apakah kelahiran komunitas kelompok perempuan Simbar Wareh yang diprakarsai komunitas masyarakat Sedulur Sikep lahir memiliki padanan pada kerangka berpikir dalam konsepsi gender, maupun gerakan feminim? Atau yang lebih luas lagi, apakah kerangka penolokan pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati, yang diprakarsai komunitas masyarakat Sedulur Sikep adalah bersandar pada pelestarian lingkungan an sich?
Memaknai nilai-nilai yang terdapat pada sistem nilai dan keyakinan komunitas masyarakat Sedulur Sikep, sebagai sesuatu yang subtil, memiliki andaian-andain terhadap situasi ketertindasan yang dialami mereka yang khas. Sedemikian hingga situasi ketertindasan oleh komunitas masyarakat Sedulur Sikep merupakan pengalaman negatif yang lebih berasal dari semangat nilai dan keyakinan yang terdapat pada identitas komunitas mereka, ketimbang persoalan hak warga sebagai individu. Penolakan pabrik Semen Gresik yang akan mengekslporasi pegunungan Kendeng di wilayah sekitar mereka, lebih banyak dibahasakan sebagai ancaman terhadap identitas, karena pegunungan Kendeng banyak memuat situas kebudayaan yang melekat dalam khasanah kesadaran mereka dalam identitas nya sebagai komunitas Sedulur Sikep. Demikian pula hal nya, kosa kata ‘ibu’ bagi kalangan masyarakat Sedulur Sikep, memiliki pemaknaan yang sulit diraba jika disandingkan pada kerangka berpikir sektoral. Nilai-nilai identitas yang dimiliki komunitas masyarakat Sedulur Sikep, selalu mengalami tegangan yang khas, dalam menyikapi peristiwa-peristiwa penolakan pendirian pabrik Semen Gresik di wilayah mereka.

Ada pengalaman yang berbeda dalam perjumpaan dengan komunitas masyarakat Sedulur Sikap, dalam melakukan pembelaan penolakan pendirian pabrik Semen di wilayah mereka. Ketika melihat prakarsa penolokan pabrik Semen Gresik oleh komunitas masyarakat Sedulur Sikep, justru banyak lahir dari nilai atau paham yang diyakini komunitas tersebut. Kerangka-kerangka berpikir sektoral selama ini, justru mengundang kemacetan ketika diterapkan dalam khasanah masyarakat tradisi seperti Sedulur Sikep. Celakanya ideologi turisme masih mewarnai ketika memandang khasanah pemikiran yang berasal dari kelompok masyarakat tradisi sebagai sesuatu yang ‘unik’, ‘langka’ dan sebagainya. Namun persoalan turisme sesungguhnya lebih banyak pengalaman mengenai sikap, dan proses integrasi dengan masyarakat di luar kita macam Sedulur Sikep. Andaian-andaian posisi emik dalam khasanah etnografi tidak selama masih menyisakan semangat metodis dalam mencari keabsahan.

Pluralisme adalah keniscayaan, yang pada praktik nya sesungguhnya lebih pada persoalan mental dan sikap berpikir, ketimbang wacana. Sikap-sikap inklusif masih cukup kental melakat dikalangan kita, ketika memandang suatu entitas masyarakat ‘diluar’, atau ‘berbeda’ sebagai sesuatu yang secara ‘tersirat (implisit)’ adalah sama. Hal ini bisa mungkin terjadi, karena pada agenda-agenda sektoral bagi kelompok pendamping, masih menyisakan semangat ‘mengasimilasikan’, atau malah ‘mengkanalisasi’ suatu entitas di luar mereka. Karena tidak membuka peluang terhadap kemungkinan-kemungkinan cara berpikir, frasa, dan bahasa, yang berasal dari luar kerangka berpikir kita sebagai pendamping.

Sekiranya persoalan penolakan pendirian Pabrik Semen Gresik di Sukolilo Pati, adalah persoalan ‘kemanusiaan’. Perjumpaan dengan komunitas masyarakat Sedulur Sikep, sesungguhnya bisa dianggap sebagai perjumpaan dalam merumuskan persoalan kemanusiaan secara sejajar dan bersama-sama. Perjumpaan tersebut bisa dimaknai sebagai ‘dialog’ yang saling menghidupkan diantara entitas yang berbeda, untuk saling memperluas cakrawala dalam mengemban identitas tertentu.

Saya lebih mengusulkan sebagai ‘pengalaman bersama’, ketika pengalaman perjumpaan-perjumpaan dengan entitas masyarakat di luar kita, sebagai sesuatu yang batin (esoterik).

Keberadaan nilai-nilai yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Sedulur Sikep, sebagai sesuatu nilai yang subtil, membutuhkan pengalaman batin sebagai jembatan mengenali kesadaran mereka. Perjumpaan secara esoterik inilah yang bagi saya pribadi bisa dianggap sebagai perjumpaan dalam ‘pengalaman bersama’.

Modernitas dan Tradisionalitas Nan Taksa (Ambigu)

Pegunungan Kendeng di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, tidak saja memiliki potensi alam berupa gua krast, sebagai mata rantai sistem ekologi alam di wilayah sekitarnya. Sejarah ‘Jawa’, begitu pula sejarah pegunungan Kendeng, merupakan bagian dari i ‘cara mengada’ masyarakatnya. Keberadaan situs seperti ‘Watu Kembar’, Makam Syekh Jangkung , Gua Wareh, dan situs lainnya yang berada di Pegunungan Kendeng, merupakan simbolisasi dari proyeksi serta ekspresi kebudayaan masyarakat disekitarnya. Situs-situs kebudayaan di Pegunungan Kendeng tersebut, sampai hari ini masih menjadi bagian dari ekspresi dan proyeksi kesadaran masyarakat dalam memaknai kehidupan.

Masyarakat komunitas Sedulur Sikep, sebagai entitas yang hidup disekitar Pegunungan Kendeng, dalam melakukan penolakan pendirian Pabrik Semen Gresik di wilayah Pegunungan Kendeng, juga tidak lepas dari proyeksi dan ekspresi identitas kultural mereka dalam memaknai keberadaan pegunungan tersebut. Dalam memberikan alasan penolakan Pabrik Semen Gresik di Pegunungan Kendeng, salah seorang sesepuh komunitas Sedulur Sikep, justru lebih banyak memberikan alasan-alasan mitologi yang melekat dalam kesadaran sehari-hari mereka, ketimbang alasan-alasan sektoral seperti ancaman banjir dan lain sebagainya. Pegunungan Kendeng dalam proyeksi masyarakat Sedulur Sikep, bukan sekedar pegunungan yang mendukung mata pencaharian mereka sebagai petani, lebih jauh lagi, Pegunungan Kendeng sudah menjadi ‘cara mengada’ mereka sebagai perwujudan sistem nilai yang mereka yakini.

Sejauh ini, ranah befikir yang dilakukan oleh kelompok pendamping dalam melestarikan Pegunungan Kendeng dari ancaman Pabrik Semen Gresik, lebih banyak dilakukan dalam wilayah sektoral. Pendekatan-pendekatan kultural dalam membela hak-hak kelompok identitas, sejauh ini belum banyak diperbincangan sebagai bagian dari kebijakan pelestarian lingkungan. Sejauh ini, yang dimaksud dengan pelestarian lingkungan pada dasarnya adalah, sejauh mana alam sebagai sumber hidup dilihat dari cara pandang ekonomi dan ‘keamanan lingkungan’ dari bencana yang dimungkinkan. Sedemikian hingga khasanah cara berpikir pelestarian lingkungan yang dilakukan dalam proses pembelaan oleh pihak pendamping, tidak lepas dari frasa-frasa ‘bencana banjir’, ‘kurang nya air bagi lahan pertanian’, ‘hilangnya mata pencaharian’ sebagai petani, dan seterusnya.

Andaian-andaian ‘pelestarian lingkungan’ dalam ranah berpikir ‘sektoral’, tentu akan mengundang jawaban sektoral pula dari pihak pemodal yang ingin berniat mengeksplorasi potensi alam Pegunungan Kendeng. Beberapa kasus dipenambangan di wilayah lain, ukuran-ukuran pelestarian lingkungan bisa disiasati dengan penyelsaian teknologi, sehingga proses eksplorasi alam bisa terus berjalan tanpa mengganggu masyarakat disekitarnya dari ancaman bencana alam, maupun bencana mata pencaharian mereka. Sejauh ini, wacana tentang pelestarian lingkungan, masih membuka peluang masuk nya pemodal untuk mengeksplorasi Pegunungan Kendeng, terkait dengan alasan-alasan penolakan yang masih di wilayah penolakan.

Sesungguhnya kerangka berfikir pada ‘pelestarian lingkungan’ belum tentu sebangun dengan keberadaan Pegunungan Kendeng sebagai ‘cara mengada’ masyarakat disekitarnya. Keberadaan situs-situs budaya yang terdapat di Pegunungan Kendeng, masih menjadi ekspresi dan proyeksi keyakinan masyarakat disekitarnya. Hal ini bukan saja membuka ranah pembelaan dalam menghindari Pegunungan Kendeng dari ancaman pendirian Pabrik Semen Gresik semata, namun juga terkait dengan siasat dan strategi pengorganisiran masyarakat, yang memanfaatkan identitas suatu komunitas di suatu masyarakat menjadi bagian dari strategi perlawanan dan pengorganisirannya.

Modernisme memang membawa pergulatan dalam masyarakat Indonesia yang khas dan plural. Penggunaan ranah budaya sebagai cara pandang pembelaan dalam melakukan penolakan pendirian Pabrik Semen Gresik di Pegunungan Kendeng, Pati, sesungguhnya bukan pergulatan tradisionalitas dan modernitas sebagai ukuran-ukuran pembangunan masyarakat ‘bangsa’. Penggunaan ranah-ranah budaya sebagai siasat penolakan pendirian Pabrik Semen Gresik, sesungguhnya bukan usaha menciptakan ‘tradisionalitas baru’. Modernisme adalah keniscayaan. Hingga hari ini pun, komunitas masyarakat Sedulur Sikep tetap memiliki semangat dalam mengakses teknologi, khususnya dalam hal pertanian. Perbincangan ranah budaya yang melekat dalam masyarakat tradisi, macam Sedulur Sikep, Sesungguhnya bisa dibaca sebagai antropologi pembangunan, atau sosiologi pembangunan, sebagai prakarsa membuka ruang partisipasi masyarakat berdasarkan identitas yang mereka yakini.

Sejarah kolonialisme di Indonesia, pada satu sisi membawa arah modernitas, namun pada sisi yang lain juga turut serta menyuburkan ‘tradisionalisme’. Modernitas sebagai agenda kolonialisme bisa kita lihat pada program emansipasi yang banyak memutus mata rantai kaum ‘terperintah’ dari akar tradisi nya. Di saat bersamaan, kolonialisme tetap memelihara beberapa eleman tradisional bangunan sosial masyarakat tradisi di Indonesia, sebagai penopang tata pemerintahan kekuasaan kolonial. Sambil menyuburkan mitologi-mitologi dan pepatah yang sebagai strategi ‘penundukan’ melalui siasat kebudayaan.

Sampai hari ini, perbincangan tentang modernitas dan tradisionalitas dalam khasanah multikultural masih berlangsung hingga kini. Namun istilah ‘tradisional’ tersebut telah mengalami ‘campur tangan’ yang berasal dari sejarah kolonialisme, sehingga kadang sulit memisahkan otentisitas yang terdapat dalam khasanah-khasanah tradisi dalam suatu komunitas masyarakat. Di sini, tugas etnografi bisa menemukan konteks ideologinya, mengurai ketaksaan modernitas dan tradisionalitas yang tersembunyi sebagai warisan kolonial.

Peluang-peluang Pergesaran.

Jarak-jarak kesadaran dalam ranah pembelaan (advokasi) pada wilayah multikultural, khususnya terkait dengan pembelaan pada hak-hak minoritas, lebih sering mendorong ranah kesadaran praktis, ketimbang memanfaat modal budaya yang melekat pada keseharian masyarakat di suatu komunitas. Andaian-andaian pengorganisiran, banyak membawa jarak kesadaran dari baik dari segi ‘bahasa’, formalisme organisasi, dan seterusnya, sedemikian hingga malah cendrung menciptakan ‘feodalisme baru’ dikalangan masyarakat di suatu komunitas.

Penumpukan informasi di satu orang di suatu komunitas masyarakat, sebagai bagian dari pembentukan ‘feodalisme baru’ , sesungguhnya tidak lepas dari semangat para pihak pendamping dalam memaknai ‘representasi’ suatu komunitas sebagai ‘agen’. Sialnya, sejarah bangunan sosial masyarakat pada kala kolonial kembali dipraktikan, yakni kecendrungan menggunakan strata sosial yang paling atas—para pemimpin komunitas—sebagai landasan pihak yang direpresentasikan dalam sebuah komunitas. Kaidah ini sesungguhnya cukup bertolak belakang, dengan diktum ‘pluralisme adalah sebuah keniscayaan’ yang sering kita dengungkan. Karena meng-‘agen’-kan seseorang sebagai praktik merepresentasikan suatu komunitas, sesungguhnya adalah bentuk lain menyeragamkan komunitas. Dalam khasanah penelitian, kosa kata ‘agen’ mungkin dikenal sebagai ‘informan’, atau seseorang yang dianggap mewakili keseluruhan komunitas.

Dalam konteks masyarakat komunitas Sedulur Sikep, sesungguhnya masing-masing pribadi yang berada dalam komunitas tersebut, justru memiliki kemampuan yang kuat sebagai ‘agensi’. Pemaknaan ‘agensi’ disini seperti yang diperlihatkan khasanah kaum paska kolonial, merujuk pada kemandirian (otonomi) terhadap kemampuan atau daya seseorang untuk melakukan atau menunjukkan sebuah perilaku tertentu1. Hal ini menjadikan entitas komunitas Sedulur Sikep, menjadi masyarakat yang sangat plural dikalangan mereka sendiri. Kemampuan ‘agensi’ yang kuat di antara mereka sebagai pribadi, menyebabkan penafsiran terhadap identitas mereka sendiri cukup beragam. Selain dalam khasanah komunitas masyarakat Sedulur Sikep itu sendiri, tidak mengenal kodifikasi sistem keyakinan, atau semacam ‘kita suci’, sehingga sangat dimungkinkan bagi para pribadi di komunitas tersebut dalam menafsirkan identitas mereka secara mandiri. Namun yang cukup penting diperhatikan bahwa, pluralisme mereka justru memperkuat ikatan komunal diantar sesama masyarakat Sedulur Sikap.

Perkembangan kekiniaan dalam membaca dinamika suatu komunitas masyarakat tertentu, membawa kecendrungan terhadap pembacaan yang homogen. Hal ini pada dasarnya tidak lepas dari cara memahami konteks representasi, dalam memandang suatu komunitas masyarakat. Kecendrungan memaknai pengorganisiran suatu komunitas oleh pihak pendamping, sering kali menjadi pelembagaan-pelembagaan representasi. Memaknai sebuah ‘organisasi ‘ yang terdapat pada suatu komunitas masyarakat, sebenarnya tidak sebangun ketika memandang suatu entitas masyarakat sebagai sesuatu yang otentik. Pelembagaan-pelembagaan representasi sebenarnya tidak lepas dari cara pandang kita, ketika melihat suatu praktik representasi berdasarkan tatanan sosial komunitas masyarakat yang paling atas. Kecendrungan ini sering kali terjadi dilakukan oleh pihak LSM maupun aktivis, untuk mendapatkan klaim untuk memudahkan agenda-agenda sektoral mereka.

Pada sisi yang lain, menganggap Sedulur Sikap sebagai ‘yang lian’, kadangkala cendrung melahirkan ‘fundamentalisme baru’. Pada dasarnya, identitas suatu komunitas, selalu mengalami ‘tegangan’ ketika mengalami suatu peristiwa yang khas.

Akbar Yumni
Aktif menulis tentang sinema di www.jurnalfootage.net, Forum Lenteng, dan masih bersekolah di Strata 1 (S1), Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.


Beranda  |  Kategory: Esai | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia