Ora Ubet Ora Ngliwet: Keswadayaan Perempuan dalam Krisis di Pedesaan Jawa

6 - Jan - 2012 | Desintha Dwi Asriani | 1 Comment »

Yen nyawa sapa sing maringi, yen urip sapa sing nguripi?
Pangan dan perempuan di Jawa merupakan cerita tersirat dari kisah-kisah cerita rakyat. Salah satunya ada Jaka Tarub dan Nawang Wulan seperti yang dituturkan Mbah Panto (84 tahun), seorang tokoh masyarakat di wilayah Karangmojo, Gunung Kidul. Secara sederhana, cerita tersebut menceritakan Jaka Tarub yang hidup bersama Nawang Wulan, seorang dewi/bidadari yang karena selendangnya yang hilang sewaktu mandi ditemukan oleh Jaka Tarub, sehingga bersedia menikah.

Dalam kehidupan sehari-hari, Nawang Wulan selalu menanak nasi dan Jaka Tarub yang menungguinya. Nawang Wulan hanya meninggalkan pesan agar Jaka Tarub tidak membuka periuk tempat menanak nasi. Jaka Tarub yang heran karena setiap hari menanak nasi tetapi merasa bahwa persediaan padi di lumbungnya tidak pernah berkurang, kemudian membuka periuk tempat menanak nasi. Heranlah Jaka Tarub karena yang ada di periuk hanya sebutir padi. Nawang Wulan yang mengetahui peristiwa tersebut marah luar biasa. Karena dengan begitu, Jaka Tarub telah membuka wadi (rahasianya) yang berarti juga membuat Nawang Wulan kehilangan kemampuannya dan harus menanak nasi seperti manusia biasa. Sehingga satu butir padi yang dahulu dimasak dapat cukup untuk berapa orang, sekarang tidak lagi.1

Pesan tersirat sedemikian kuat, bahwa perempuan mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh laki-laki dalam mengelola urusan rumah tangga. Tulisan ini tidak hendak mengkaji tentang cerita rakyat ini. Namun tulisan ini akan mengkaji tentang peranan perempuan dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Konteks tulisan ini adalah bagaimana perempuan petani menghadapi situasi krisis pangan yang ada di desa-desa Jawa. Cara mengatasi situasi krisis ini dapat dilihat dari bagaimana cara perempuan memandang kehidupan dan hidup dalam tradisi dan budaya Jawa.

A. Krisis Pertanian di Pedesaan Jawa

Dunia mengalami krisis pangan, bahkan Indonesia pantas khawatir dengan ancaman kelangkaan pangan yang akan terjadi. Walaupun data BPS menunjukkan angka aman dengan angka panen padi mencapai 65,15 juta ton pada tahun 2010 atau naik 117 persen dibandingkan tahun 2009. Angka aman ini bukan jaminan adanya kecukupan pangan. Banyak faktor musti diwaspadai, mulai dari perubahan iklim, menyusutnya lahan pertanian dan sebagainya.

Disinyalir 77 desa di kabupaten Gunung Kidul, di Provinsi D.I. Yogyakarta mengalami rawan pangan (Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi DIY). Kerawanan pangan di wilayah ini lebih disebabkan produktifitas pertanian yang tidak setinggi daerah lain. Hal ini karena minimnya pasokan air untuk daerah ini. Selain itu karena sebagian besar lahan di Gunung Kidul adalah batuan kapur yang bertanah (karst).

Secara kuantitatif memang terjadi kenaikan jumlah produksi pangan di Kabupaten Gunungkidul. Namun tetap saja temuan atas krisis pangan di beberapa wilayah bukanlah sekadar hisapan jempol. Persoalannya memang bukan hanya besaran jumlah produksi/panen yang meningkat saja, tetapi juga perlu dilihat serapan pekerjaan bertani terhadap tenaga kerja. Konversi lahan pertanian menjadi perumahan, dan pembangunan-pembangunan lainnya jelas sekali mengurangi tenaga kerja di sektor pertanian. Tentu saja juga tenaga kerja perempuan yang paling merasakan dampaknya. Jika tenaga kerja laki-laki dapat beralih menjadi penambang batu karst atau buruh bangunan, perempuan agak kesulitan untuk beralih mata pencaharian kecuali menjadi migran baik di kota-kota besar di Indonesia bahkan di luar negeri.

Modernisasi teknologi pertanian mempunyai peran yang sangat besar atas tergesernya peran tenaga kerja perempuan di sektor pertanian. Walaupun secara keseluruhan modernisasi pertanian berdampak pada melemahnya lembaga ketenagakerjaan non-upahan yang berbasiskan pada kegotongroyongan, sehingga di desa Jawa dikenal adanya sambatan dan bawon.2Sambatan sendiri dalam lingkungan sosial budaya desa Jawa sebenarnya merupakan kerja bersama yang tidak mendapatkan upah. Begitu pula dengan bawon yang lebih berarti pemberian ulih-ulih dari orang yang mempunyai pekerjaan di sawah/ladang. Bawon sendiri sebelumnya tidak dianggap sebagai upah, karena sifatnya yang saling bergantian. Namun perkembangan saat ini telah menempatkan sambatan dan bawon dalam tata kerja sosial baru yang tidak berarti hanya sekadar kerja sukarela saling membantu.

Masuknya mesin penggilingan padi (huller) misalnya telah menggeser peran perempuan yang biasanya melakukan ngerek. Belum lagi sekarang ada mesin penyosohan/penggilingan padi yang bisa berkeliling desa, sehingga pekerjaan nyelep, nyosoh, dan sebagainya telah berpindah dari perempuan ke teknologi. Dengan demikian, teknologi pertanian dapat dikatakan telah mengambil alih keberadaan tenaga kerja perempuan. Bagi perempuan kehilangan pekerjaan sambilan di lahan pertanian berarti kehilangan sebagian tambahan penghasilan mereka. Mereka harus berhitung ulang tentang belanja rumah tangganya.

B. Dhisik Apik, Keri Dadi

Tahun 2010 ini, kecemasan akan kegagalan panen (sawah puso) semakin menjadi-jadi. Dengan kondisi salah mangsa3, perubahan musim, yang tidak lagi dijadikan patokan untuk menentukan awal mulainya musim tanam. Saat ini petani kebingungan karena terlambat menanam berarti tanah sudah terlalu basah akibat hujan yang sudah mulai turun dengan curah tinggi.Terlalu cepat menanam juga dikhawatirkan biji yang ditanam masih mendapati tanah yang terlalu kering.

“Kalau dulu, perhitungan pranata mangsa masih bisa digunakan, kalau sekarang mungkin sudah tidak bisa. Dulu mangsa kanem seperti ini, kaum tani sudah mulai menjatuhkan benihnya. Ada pertandanya air mengalir dan air tadahan. Biasanya juga sudah tampak burung bibis,” jelas Mbah Panto yang berasal dari Karangmojo, Gunungkidul.

Menurutnya, petani saat ini mengalami kesulitan dalam membuat patokan berdasarkan pranata mangsa. Dengan kondisi yang sulit ini, petani tetap saja menyebar benih padi atau palawija lainnya. “Dhisik apik, keri dadi (lebih dulu baik, agak akhir pun tetap jadi –pen). Ya, tetap nanam saja. Tidak apa-apa. Kalau tidak pakai pranata mangsa bisa juga pakai hitungan Jawa yang lain seperti cucuk, waduk, cangkem, sikil.4 Cara menghitungnya berdasarkan jumlah hari (Jawa)5 dijumlahkan, lalu dihitung jatuh pada apa. Kalau jatuh cucuk (paruh) artinya padi atau tanaman akan banyak dimakan burung, kalau waduk (bendungan/dam) banyak yang hanyut dibawa air, kalau cangkem (mulut) akan kenyang atau panen melimpah, dan kalau sikil (kaki) hanya akan capek saja. Ya begitu petani Jawa, semua pakai perhitungan,” jelasnya panjang lebar.

Mbah Panto hanya tinggal bersama istrinya, anak-anaknya semua sudah banyak bekerja di luar kota. Dengan tanah yang tidak mencapai satu hektar, Mbah Panto dan istrinya seringkali kebingungan untuk mengelolanya. Kalau harus dikerjakan sendiri, tenaganya sudah tidak sanggup.Kalau digaduhkan (dikelola orang lain dengan bagi hasil) juga tidak layak yang didapat. Sebagai ilustrasi, jika tanah dengan luas satu hektar untuk padi dengan sawah basah akan menghasilkan dua ton, jika tanah kering seperti di Gunungkidul kemungkinan panen yang didapatkan jauh lebih kecil.

Ancaman semacam ini, bagi Mbah Panto dan istri sudah merupakan hal biasa. Biasa menurutnya karena setiap masa ada pertandanya. Kejadian salah musim (mangsa) seperti ini menurutnya sudah pernah terjadi di tahun 1964 dan 1994. Kekhawatiran tidak bisa mendapat pangan dalam kondisi gagal panen akibat perubahan musim atau kesalahan membaca musim bagi petani bukanlah alasan. Mereka meyakini bahwa Tuhan dan alam akan memberikan ganti yang setimpal atau bahkan lebih dalam bentuk lain. Bagi Mbah Panto sendiri, kecukupan pangan sudah bukan wilayahnya. Karena porsi terbesar dalam urusan ketersediaan pangan adalah istrinya.

“Babagan nedha nggih kanca setri ingkang nyekapi lan ngupadi. Kula namung ngrahabi ingkang cumawis wonten meja (Persoalan makan ya teman perempuan saya yang mencukupi dan mencari. Saya hanya menikmati yang tersedia di meja saja –pen.),” pengakuan Mbah Panto.

Pengakuan Mbah Panto atas peran istrinya tidak serta merta membuat Mbah Panto Putri mau berbicara panjang lebar tentang perannya dalam memenuhi kecukupan kebutuhan rumah tangganya. Menurutnya, yang terpenting adalah serba cukup. Konsep cukup ini didasarkan pada prinsip harmoni di dalam masyarakat, sehingga sejahtera bagi masyarakat Jawa merupakan kepentingan yang terintegrasi dengan lingkungannya. Bagi petani, nilai rukun ini berarti “suatu modus vivendi keras yang tercapai melalui suatu proses pemberian dan penerimaan antara orang-orang yang masing-masing mengusahakan kepentingannya sendiri.”6

Lebih jauh, kerukunan itu sendiri mampu menciptakan harmonisasi. Harmonisasi inilah yang secara konseptual mengantisipasi adanya ‘krisis’ dalam rumah tangga/individu di dalam masyarakat Jawa. Dengan demikian, krisis yang terjadi pada individu atau satu rumah tangga tertentu adalah gangguan atas tatanan harmoni yang dibayangkan sudah ada. Sehingga nilai rukun diekspresikan dengan jelas dalam ideal memberi bantuan timbal balik dan berbagi beban (gotong-royong) dan pengambilan keputusan dengan konsultasi yang timbal balik (musyawarah).7

“Tidak ada orang mati kelaparan, yang ada orang mati karena malu. Ya malu berusaha, ya malu meminta, ya malu kepada tetangga. Kenapa malu? Ya malu karena tidak pernah rukun. Kalau ada orang punya gawe (hajat) tidak nyumbang (membantu bisa dalam bentuk uang atau tenaga), ada orang layon (meninggal dunia) juga tidak datang, ada kerja bhakti juga tidak kelihatan. Kalau ada yang mati kelaparan ujungnya tetangganya juga yang malu. Malu karena dianggap tidak rukun, tidak mau berbagi. Maka kalau hidup di desa harus rukun,” jelas Mbah Panto Putri (80).

Krisis pangan bagi Mbah Panto seharusnya tidak terjadi di dalam masyarakat yang memegang prinsip kerukunan. Menurutnya, dengan kerukunan, ketercukupan pangan dengan saling berbagi akan menjadi solusi. Artinya juga tidak akan ada yang menimbun secara berlebih hasil produksi mereka. Tidak berlebihan inilah di dalam masyarakat Jawa dikenal dengan prasaja, yang juga berarti sederhana. Konsep inipun masih sangat relatif, karena prasaja bukan berarti tidak berumah tembok atau tidak punya televisi. Prasaja lebih berarti hidup yang ‘apa adanya’. Kalau memang bisa membuat rumah tembok ya tidak menjadi masalah membuat rumah tembok, tapi kalau tidak mampu ya jangan dipaksakan. Sehingga prasaja tidak berarti kesamarataan secara konsumtif.

“Kalau seperti saya, walaupun hanya punya sedikit lahan tetapi kalau ada iuran desa untuk acara apapun ya harus lebih banyak sedikit iurannya dibandingkan dengan warga lain. Ya biar prasaja saja. Karena teman lelaki saya kan sudah dianggap sebagai kamituwo (tetua –pen) di desa ini,” terang Mbah Panto Putri.

Konsep kekurangan pangan, bagi Mbah Panto Putri tidak ada, karena baginya setiap pagi harus tersedia teh hangat dan makanan kecil bagi Mbah Panto Kakung. Apapun nama dan bentuk makanannya, yang penting mampu mengisi dan mengganjal perut. Begitu pula untuk makan, makanan harus ada begitu waktu makan tiba. Diakuinya memang tidak selamanya mereka makan nasi. Beras, jika memang tidak ada mereka ganti dengan nasi tiwul dari gaplek (ketela pohon) atau nasi jagung. Untuk sayur, Mbah Panto dapat saja memetik sayur yang berada di ladang.

“Kalau hanya daun lung-lungan, katu, bayam, atau daun singkong di sini gampang mencarinya. Tidak perlu membeli seperti di kota,” jawab Mbah Panto Putri ketika ditanya asal sayur yang dimasaknya.

Kearifan lokal juga dapat ditemukan dari cara mengatasi ketiadaan minyak goreng. Mereka dapat membuat sendiri minyak goreng dari kelapa dengan cara memasak santan kelapa hingga berminyak. Minyak kelapa ini memang biasanya jauh lebih harum menyengat bila dibandingkan minyak goreng curah. Namun, dengan membuat sendiri minyak goreng, Mbah Panto Putri mendapatkan keuntungan tambahan yaitu ampas dari santan yang menjadi minyak, blondo, yang dapat dijadikan makanan kecil mendampingi teh panas pahit. Karena blondo ini biasanya sudah manis dan gurih.

“Lisahe nggih saged dingge minyak rambut. Klimis tur dados cemeng subur rekmanipun (Minyaknya juga dapat dipakai sebagai minyak rambut. Selain mengkilap juga membuat rambut bertambah hitam dan subur –pen),” jelas Mbah Panto Putri tentang minyak kelapa buatannya sendiri.

Jika minyak kelapa buatan sendiri juga tidak ada, maka menggoreng bukan persoalan rumit bagi Mbah Panto Putri. Untuk menggoreng telur, Mbah Panto Putri bisa saja menggunakan daun pisang yang diletakkan di atas wajan, barulah telur dipecahkan diatas daun pisang. “Jadi tidak ada yang tidak bisa sebenarnya kalau mau,” tegasnya.

C. Ora Ubet Ora Ngliwet

Kisah krisis pertanian (pangan) tidak hanya persoalan kesalahan dalam memilih waktu mulai menanam namun juga banyak faktor lainnya seperti penyusutan luas lahan pertanian, produktifitas lahan pertanian yang semakin berkurang, teknologisasi peralatan pertanian dan sebagainya. Faktor-faktor ini juga yang dihadapi petani perempuan Jawa yang hanya mempunyai lahan kurang dari satu hektar. Kecilnya lahan garapan membuat mereka tidak jarang memutuskan untuk menjadi buruh tani upah. Mereka biasanya diupah untuk ndaud (menanam padi), derep/ani-ani8(mengetam), dan panen. Nderep pun saat ini sudah tidak lagi berperan signifikan seperti beberapa tahun yang lalu. Saat ini, ani-ani sebagai alat untuk memetik padi telah tergantikan dengan sabit, yang mampu lebih banyak dan lebih cepat dalam memanen padi. Nderep sekarang ini lebih banyak dilakukan untuk mengambil sisa panen yang terlewat dari para penyabit.

“Dapatnya ya tidak seberapa. Tetapi ya cukuplah untuk menyambung hidup kami sekeluarga,” kata Suparni (40 tahun). Suparni adalah salah satu buruh tani di wilayah Parangjoho, Wonogiri. Daerah perbatasan antara Gunungkidul, Provinsi DIY dengan Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Suparni dengan beberapa teman perempuannya sering diminta untuk membantu nderep di sawah-sawah yang mulai dipanen.

Biasanya, memanen padi di pedesaan masih dilakukan secara beramai-ramai. Pemilik sawah sehari sebelumnya datang ke rumah-rumah tetangga yang dimintai bantuan tenaganya untuk memanen. Untuk sekali panen, satu orang akan mendapatkan upah sebesar Rp 25 ribu atau mendapat bawon9 berupa padi basah sebanyak 15 kilogram setiap harinya. Untuk laki-laki, upah yang diberikan satu harinya sebesar Rp 30 ribu atau padi basah sebanyak 20 kilogram. Harga satu kilogram gabah kering mencapai Rp 3.500,00 setiap kilogramnya. Jadi jika system bawon dikonversi dalam bentuk uang akan mencapai nilai sebesar Rp 52,5 ribu untuk perempuan dan Rp 70 ribu untuk laki-laki. Hanya saja tetap harus dihitung penyusutan berat dari gabah basah ke gabah kering. Upah ini sudah bersih, karena biasanya mereka yang memburuh untuk memanen di sawah orang akan mendapatkan pacitan (snack) dan minuman di pagi hari sekitar jam 09.00, makan siang dengan lauk seadanya sekitar jam 12.00, dan pacitan lagi sekitar jam 15.00, jika sampai sore.

“Kalau dihitung-hitung, ya tidak bisa dihitung. Tidak perlu juga dinalar. Ini biasanya ya karena rasa persaudaraan. Bergantian saja. Lha, kalau dihitung dengan luas sawah sebesar satu hektar, panennya biasanya dua ton. Kalau yang nderep saja sampai lima orang berarti sudah 75 kilogram to itu untuk upahnya nderep. Belum lainnya,” jelas perempuan yang menjanda karena suaminya meninggal saat bekerja sebagai kenek bus.

Hasil upah nderep ini bagi Suparni sendiri bukan merupakan penghasilan utama. Walaupun jika ditanya upah yang utama dari mana, Suparni sendiri mengalami kesulitan. Baginya kerja yang dilakukan di sawah secara musiman merupakan samben saja. Keseharian Suparni lebih banyak serabutan. Walaupun pekerjaan utamanya berjualan di pasar, Suparni dalam lima hari hanya berjualan dua kali yaitu pada hari Kliwon dan Pon.10 Ini karena pasar yang ada di desanya hanya ramai pada dua hari Jawa tersebut. Sisanya, pasar sepi.

Dagangan Suparni sendiri jauh dari kesan produk konsumsi utama. Suparni hanya menjual besengek dan bonggol. Besengek sendiri adalah makanan yang terbuat dari tempe mlanding (petai cina). Sedangkan bonggol adalah sayuran yang dimasak dari batang pisang Kepok muda. Walaupun setiap hari pasaran dagangannya ramai pembeli tetapi Suparni belum mampu meningkatkan dagangannya.

“Ya kalau mau menambah dagangan, ya butuh modal lagi. Kemarin ada modal ya sudah dipakai untuk membiayai pernikahan anak saya ketiga. Soalnya anak perempuan, kalau tidak rame-rame (meriah atau dipestakan –pen) ya kasihan juga. Jadi ya sebisa mungkin saya usahakan ada,” terangnya.

Berbeda dengan Suparni, Surati (36 tahun) sebenarnya juga perempuan petani yang cukup memiliki lahan sawah dan dua ekor sapi. Suaminya bekerja sebagai petani tembakau. Surati sendiri dikenal sebagai orang yang sering mengupah tetangganya untuk bekerja di sawahnya di saat panen. Jika dilihat secara fisik, ekonomi antara keluarga Suparni dan Surati tidak jauh berbeda. Namun, Suparni bisa lebih sering disambat untuk bekerja di sawah Surati.

Surati mempunyai kelebihan dibandingkan Suparni karena suaminya yang juga menanam tembakau. Dalam masyarakat Jawa, walaupun suami istri sama-sama bekerja, namun penghasilan yang mengelola adalah istri. Suami biasanya menyerahkan sebagian besar penghasilannya kepada istrinya. Begitu pula suami Surati yang terkadang mendapatkan uang kontan dari hasil penjualan panen tembakau di ladangnya atau penjualan sapi.11 Suami bagaimanapun berkuasanya, untuk urusan rumah tangga (terutama keuangan) tetap saja istrilah yang mempunyai otoritas dalam mengatur belanja keluarga. Sehingga dalam kondisi kritis, kesulitan ekonomi, bencana alam, dan sebagainya biasanya keluarga terselamatkan oleh potensi ibu yang mencukupi. Sehingga terpenuhinya kebutuhan sehari-hari keluarga sangat bergantung pada kecermatan seorang ibu.12

Dalam keseharian, acapkali kita lihat perempuan Jawa mempunyai kebiasaan nggembol uang. Nggembol uang ini tidak hanya sekedar menyimpan uang di tempat rahasia, tetapi juga merupakan tabungan yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak. Istri atau Ibu dalam hal ini dianggap mempunyai kemampuan yang disebut gemi dan nastiti. Gemi dapat diartikan sebagai upaya seseorang (istri)13 dalam mengatur kebutuhan sehari-hari dengan cara berhemat bahkan kalau bisa disisakan untuk menabung.14 Sedangkan nastiti adalah kemampuan seseorang (istri) untuk mempergunakan harta bendanya sesuai dengan kebutuhannya, jangan sampai melebihi pemasukan.15

Konsep gemi dan nastiti tersebut sebetulnya juga memiliki makna yang hampir serupa dalam istilah Simbok (Ibu). Simbok atau yang sering dikenal dengan kepanjangan sing tombok merupakan istilah yang akrab disandang bagi perempuan Jawa yang telah menjadi ibu. Bagi nilai Jawa, tombok tidak selalu merujuk pada definisi umum yang berarti tambahan dimana akan menguatkan konstruksi hasil-hasil perempuan sebagai ‘yang kedua’. Lebih luas, perempuan Jawa yang cenderung menjadi pusat keluarga praktis memegang kendali keuangan dan cukup menentukan dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kondisi-kondisi penyelamatan dalam situasi krisis. Maka kondisi tersebut cukup jelas mendudukkan perempuan sebagai subjek utama dalam upaya penggerak dan penyelamat ekonomi keluarga. Seperti halnya peribahasa Jawa keplok ora tombok yang berarti melu seneng ora wragad (ikut senang tanpa mengeluarkan biaya). Wragad di sini lekat dengan makna sebuah biaya yang harus ditukarkan demi mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Oleh karena itu menjadi jelas bahwa istilah sing tombok dalam simbok adalah sing wragad, “yang membiayai”.

Seperti Surati, walaupun suaminya telah bekerja sebagai petani tembakau namun Surati juga membuat tempe kedelai. Setiap hari untuk pembuatan tempe, Surati membutuhkan 10 kilogram kedelai. Dengan kedelai sebanyak itu, Surati setidaknya menghasilkan 400 gaplok16 tempe. Satu gaplok tempe akan dijual dengan harga Rp 200,00. Sehari dengan produksi sebanyak itu, Surati akan menerima Rp 85 ribu. Dengan ongkos produksi Rp 60 ribu, berarti Surati mendapatkan tambahan penghasilan Rp 25 ribu.

“Ya tambahan segitu itu memang bukan apa-apa kalau dipikir-pikir dengan biaya hidup yang semahal sekarang ini. Tetapi kalau dibilang kurang ya tidak juga, buktinya kami sekeluarga bisa makan. Kemarin jualan sapi dengan harapan selisih harga beli sapi dan jual sapi dapat dibelikan anak sapi lagi untuk dipelihara, ternyata tidak cukup, sehingga urunglah niat saya itu. Memang ada selisih harganya, tetapi untuk menutup hutang sana-sini. Kemarin kan banyak yang punya gawe,” terangnya.

Tampaknya, dalam masyarakat Jawa memang tidak dikenal istilah kurang, walaupun istilah berlebihan juga hal yang tabu. Namun kemampuan bertahan menghadapi krisis di dalam kehidupan keseharian mereka merupakan kemampuan yang tidak sederhana. “Ya orang itu kalau bisa jagad arep didadeke emper-e (dunia hendak dijadikan terasnya),” tegas Surati.

Upaya (perempuan) petani dalam kerja yang hanya untuk memenuhi kebutuhan secukup hidup (subsisten) harus dilihat dalam dua hal yang tunggal. Yaitu petani sebagai pelaku ekonomi (economic agent) dan kepala rumah tangga.17 Dengan demikian, tidak bisa jika melihat petani dan lahannya hanya sebagai sumber tenaga kerja dan produksi tanpa memperhitungkan konsumsi mereka. Sehingga bagi perempuan petani seperti Surati dan Suparni, pekerjaan tetap bukanlah identitas yang penting dalam hidupnya. Mereka dapat dan mau disebut dalam identitas pekerjaan apa saja asalkan mereka tetap dapat mempertahankan ‘asap dapur terus mengepul’. Suparni pada masa tanam dan panen dapat saja bekerja sebagai buruh tani upahan untuk mendapatkan upah atau bawon sekedarnya. Pada masa menanti, Suparni dapat bekerja sebagai pedagang besengek dan bonggol di pasar. Begitu pula Surati yang mau bekerja sebagai pedagang tempe kedelai, mencari rumput untuk sapinya, dan juga bertani. Bagi mereka tidak penting identitas yang melekat dalam dirinya,yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan penghasilan untuk menghidupi rumah tangganya. “Pokoke ora ubet ora ngliwet (Pokoknya tidak bekerja tidak dapat menanak nasi –pen),” tukas Surati.

D. Hikayat Jaka Tarub Sebagai Penutup

“Ya sebelum Jaka Tarub, laki-laki, membuka periuk tempat penyimpanan beras, beras satu uli18 bisa dimasak untuk mencukupi kebutuhan makan berapa orang. Karena padi itu perempuan, Dewi Sri, dulu sebelum dibuka tabirnya bisa mencukupi hidup banyak orang. Setelah dibuka, disosoh, dan diuli hanya cukup untuk satu orang. Satu orang ini Sadono. Pasangan Dewi Sri. Sehingga hanya ada Sri-Sadana19,” terang Mbah Panto.

“Jadi Dewi Sri sebagai dewi padi itu disukai oleh Sadana yang kemudian menjelma menjadi ular sawa (ular sawah –pen). Ya mereka memang seharusnya bersatu karena Sri dan Sadana itu adalah titisan Bathari Sri dan Bathara Wisnu. Yang di Ramayana Bathari Sri ini menitis pada Dewi Sinta dan Bathara Wisnu pada Prabu Rama, di Bharatayudha Bathari Sri ini menitis pada Wara Subadra, istri Arjuna. Begitu ceritanya,” jelas Mbah Panto.

Artinya dengan kerahasiaan yang dimiliki dan disimpan perempuan, kebutuhan ekonomi rumah tangga dapat terus dipenuhi. Cara pemenuhannya kadang tidak terduga dan datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena jika dihitung-hitung tentunya pemasukan yang ada dibandingkan dengan belanja seharusnya hanya cukup saja atau bahkan kurang. Namun perempuan selalu mempunyai ‘simpanan’.

“Mula wajibe wong wadon iku dibuka, disosoh, diuli werdine. Ambuka iku miwiti. Dadi sing miwiti ki kudu wong wadon (Maka yang wajib bagi perempuan untuk dibuka, dikupas, dicari rahasianya. Jadi yang memulai itu harus perempuan –pen.),” Mbah Panto lebih lanjut.

Cerita dari hikayat Jaka Tarub menunjukkan bahwa perempuan mempunyai rahasianya sendiri dalam upayanya memenuhi pangan bagi keluarga. Rahasia inilah yang sampai sekarang menjadi kekuatan dan kekuasaan perempuan dalam mengendalikan ekonomi rumah tangga. Maka bagi masyarakat Jawa, perempuan bukanlah sekedar ‘teman hidup’ tetapi juga sebuah rahasia kehidupan yang mesti dibuka, dikaji dan dicari. Sehingga dalam filosofinya, masyarakat Jawa mengenal retorika: yen nyawa sing maringi sapa, yen urip sing nguripi sapa(kalau nyawa yang memberi siapa, kalau hidup yang menghidupi siapa).

“Kalau tidak cermat, orang menjawabnya akan sama itu. Ya kalau nyawa itu yang memberi Gusti Allah, kalau hidup yang menghidupi ya Ibu. Kalau Ibu tidak merawat kita sejak di dalam kandungan ya tidak hidup. Makanya seampuh apapun orang kalau berani menentang Ibunya ibarat atos debok bosok (sekeras batang pisang busuk –pen),” pungkas Mbah Panto. []


1 Cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan ini adalah cerita versi lisan/tuturan dari Mbah Panto. Tentunya ada banyak versi lain seperti cerita Jaka Tarub di http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore.php?ac=114&l=jaka-tarub. Untuk penulisan nama Nawang Wulan saya memilih menggunakan versi yang memisahkan antara kata ‘Nawang’ dan ‘Wulan’. Hal ini karena dalam penuturan Mbah Panto ada maksudnya (jarwo doso). Kata ‘nawang’ kemudian berarti ana awang-awang (berada di langit) dan ‘wulan’ yang berarti rembulan. Ini merujuk pada legenda setelah Nawang Wulan kembali ke kahyangan dan setiap malam harus menyusui anaknya, Nawangsih, maka Jaka Tarub melihat ke langit (awang-awang) dan rembulan. Secara tersirat sebenarnya menggambarkan bahwa cinta Jaka Tarub itu hanya ada di awang-awang (jauh tergantung di langit seperti rembulan). Cara penulisan Nawang Wulan dengan dipisah juga dapat dilihat dalam Alice M. Terada, The Magic Crocodile and Other Folktales from Indonesia. University of Hawai Press, Hawai. 1994, hal 68-71.

2 Suwarto, Produktivitas Lahan dan Biaya Usaha Tani Tanaman Pangan di Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol, 9, No. 2 Desember 2008. Surakarta, 2008. hal 169

3 Mangsa adalah perhitungan yang seluruhnya dihasilkan dari pengamatan tanda-tanda alam (Suyono, 2006:185). Lebih jauh tentang pranatamangsa dapat dibaca dalam N. Daldjoeni, Pranatamangsa, the Javanese Agricultural Calendar-Its Bioclimatological and Sociocultural Function in Developing Rural Life, The Environmentalist Volume 4, Supplement 7, 15-18, DOI: 10.1007/BF01907286, 2 Agustus 2005. Pranatamangsa sendiri terdiri dari 12 yaitu Kasa (22 Juni berusia 41 hari, petani mulai menanam palawija)); Karo (2 Agustus berusia 23 hari, palawija mulai tumbuh, mangga dan pohon randu mulai berbunga); Katelu (25 Agustus berusia 25 hari, lahan tidak ditanami, palawija mulai dipanen, bambu mulai tumbuh); Kapat (19 September berusia 25 hari, sawah tidak ada tanaman, petani mulai menyiapkan sawah untuk ditanami padi gogo karena tidak ada air); Kalimo (14 Oktober berusia 27 hari, mulai ada hujan, benih padi gogo mulai disebar, pohon asam mulai tumbuh daunnya, ulat-ulat mulai keluar); Kanem (10 November berusia 43 hari, petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, mulai ada buah-buahan seperti durian, rambutan, dan manggis); Kapitu (23 Desember berusia 43 hari, padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan dan sungai banjir); Kawolu (4 Februari berusia 26 hari dan 4 tahun sekali berusia 27 hari, padi mulai hijau, uret mulai banyak); Kasanga (1 Maret berusia 25 hari, padi mulai berkembang sebagian sudah berbuah); Kasepuluh (26 Maret berusia 24 hari, padi mulai menguning, mulai panen); Desta (19 April berusia 23 hari, seluruhnya memulai memanen padi); dan Saya (12 Mei berusia 41 hari, para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung). Baca lebih lengkap Ki Hudoyo Doyodipuro, OCC, Horoskop Jawa Misteri Pranatamangsa. Dahara Prize, Semarang. 1996

4 Perhitungan memulai menanam juga ada yang menggunakan oyode, uwite, godhonge, uwohe (akar, batang pohon, daun, buah). Cara menghitungnya juga menggunakan perhitungan hari Jawa. Jumlahnya hari dibagi empat. Jika sisa satu maka jatuh oyod yang artinya petani lebih baik menanam tanaman pala pendhem (ubi-ubian); jika sisa dua jatuh wit yang artinya petani akan baik jika menanam tanaman sejenis tebu, dan sebagainya; jika jatuh godhong artinya petani lebih baik menanam tembakau, sayur-sayuran, dan sejenisnya; dan jika jatuh woh artinya petani lebih baik menanam pala kirna. Lebih jelas baca R. Tanoyo, Baboning Kitab Primbon. Penerbit Kangaroo, Solo. 1970c, hal. 51, 62-64.

5 Untuk perhitungan hari Jawa dapat dilihat di Soemodidjojo Mahadewa, Kitab Primbon Adammakna. Penerbit Soemodidjojo Mahadewa, Yogyakarta. 1979, hal 7. Juga dapat dibaca R. Tanoyo, Baboning Kitab Primbon. Penerbit Kangaroo, Solo. 1970c, hal. 8.

6 Franz Magnis Suseno, Etika Jawa. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.2003, hal 58.

7 Niels Mulder, Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia. LKiS, Yogyakarta. 2001, hal 98.

8 Nderep dan ani-ani ini merupakan dua istilah untuk memanen padi. Hanya nderep lebih digunakan untuk memanen padi yang diburuhkan/dilakukan orang lain. Sementara ani-ani digunakan untuk memanen padi yang dilakukan sendiri.

9 Bawon adalah upah kerja yang berupa hasil panen.

10 Hari-hari dalam hitungan hari Jawa. Bagi penanggalan Jawa setiap hari dibagi menjadi lima yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sehingga satu bulan atau dikenal dengan sepasaran itu 35 hari yaitu bertemunya hari dalam kalender Masehi dan Jawa secara bersamaan. Misalnya satu putaran Senin Kliwon akan bertemu hari Senin Kliwon lagi selama 35 hari.

11 Tentang hal seperti ini silahkan dibaca Hildred Geertz, Keluarga Jawa. Pustaka Utama Graffiti, Jakarta.1963, hal 148.

12 Baca lebih lengkap tentang kuasa wanita Jawa dalam Christina Handayani dan Ardhian Novianto, Kuasa Wanita Jawa, LKiS, Yogyakarta. 2004, hal 123.

13 Tanda ‘dalam kurung’ merupakan perlakuan penulis sendiri. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesan stigma, seolah yang bisa berlaku atau bersikap gemi dan nastiti hanya istri, ibu, dan perempuan saja. Terkadang suami, bapak, dan laki-laki juga bisa berlaku atas nilai tersebut dalam keseharian.

14 Soesilo, Piwulang Jawa. Yayasan Yusula, Jakarta Selatan. 2003, hal 111.

15 Hariwijaya, Seks Jawa Klasik. Penerbit Niagara, Yogyakarta. 2004, hal 71-72.

16 Satu gaplok terdiri dari dua tempe yang dibungkus dengan daun jati.

17 Eric R. Wolf, Petani Suatu Tinjauan Antropologis. Rajawali Press, Jakarta. 1985, hal 19

18 Uli dalam hal ini bisa juga berarti ucenge sak peli (sumbunya sebesar penis). Padi sebagai ibarat Dewi Sri dan uli sebagai ibarat Dewa Sadono.

19 Dewi Sri dan Batara Sadana adalah dua anak Sri Maha Punggung, raja Purwacarita. Kedua anak ini dikutuk, Dewi Sri menjadi ular sawah dan Dyah Purwacarita menjadi burung sriti. Di kemudian Dewi Sri diangkat menjadi dewi padi sedangkan Batara Sadana sebagai dewa umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran dan buah-buah. Sri-Sadono dikenal sebagai lambang kesejahteraan hasil bumi. Cerita ini agak berbeda dengan tuturan Mbah Panto yang mengatakan bahwa Jaka Sadana mencintai Dewi Sri. Lebih jelas baca Heru S Sudjarwo, Sumari, Undung Wiyono, Rupa dan Karakter Wayang Purwa. Kakilangit Kencana, Jakarta. 2010, hal 166-167 dan 170-171. Juga baca Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum, Ensiklopedi Serat Centhini. Panji Pustaka, Yogyakarta. 2008, hal 246-256. Perbedaan ini sangat wajar, karena dalam cerita rakyat kebakuan adalah tabu. Dua mitos lain tentang Dewi Sri adalah cerita Asal Mula Padi dari Banyumas dan Sri Sadana. Keduanya juga sangat berbeda dengan cerita yang ada di Serat Centhini dan Rupa dan KarakterWayang Purwa.


Beranda  |  Kategory: Esai | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Ora Ubet Ora Ngliwet: Keswadayaan Perempuan dalam Krisis di Pedesaan Jawa”

  1. admsri says:

    ngetest komentar saja …

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia