Yen wong berjuang nek mung lanang thok, kuwi biasane ora berhasil

6 - Jan - 2012 | Wawancara dengan Gunarti | 1 Comment »
Yen wong berjuang nek mung lanang thok, kuwi biasane ora berhasil

Masih jam enam pagi lebih sepuluh menit, tapi sinar matahari sudah benderang melingkupi dusun Bombong-Bacem, desa Baturejo, kecamatan Sukolilo, kabupaten Pati. Empat orang perempuan,semua memakai baju warna hitam, memasuki mobil kijang warna merah. Hari itu, Jumat 14 Nopember 2008, empat perempuan dari Sedulur Sikep memulai perjalanan dari dusun mereka menuju Semarang, untuk memenuhi undangan dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jawa Tengah. Di dalam undangan yang dikirim, tersebut agenda yang akan dibicarakan : Temu Ilmiah Kars Sukolilo.

Ada banyak pihak yang diundang dalam pertemuan tersebut, seperti para ahli lingkungan, LSM, pihak PT Semen Gresik Tbk, juga mereka yang mendukung maupun yang menolak rencana penambangan pegunungan Kendeng Utara untuk pabrik Semen. Forum dibuka dengan paparan-paparan indah tentang penambangan yang ramah lingkungan dan berdampak positif secara sosial. Tetapi ada suara yang tidak biasa di tengah suara yang indah-indah tentang rencana penambangan dan pendirian pabrik semen di wilayah kars Sukolilo. Suara lantang dalam bahasa Jawa tersebut keluar dari salah seorang perempuan Sedulur Sikep, Gunarti namanya. Dia menyatakan bahwa belum tentu penambangan itu baik untuk lingkungan maupun secara sosial. Lebih lanjut Gunarti menantang semua pihak untuk melakukan penelitian bersama tentang potensi pegunungan Kendeng dan bagaimana nanti penambangan berakibat pada potensi sumberdaya alam di sana. Gunarti adalah salah satu orang yang dengan gigih berjuang melestarikan lingkungan pegunungan Kendeng, sekaligus menjaga kehidupan petani yang ada di sekitarnya.

Perjuangan warga sekitar pegunungan Kendeng, kabupaten Pati dalam empat tahun ini dalam menentang rencana pendirian pabrik semen, baik yang dilakukan oleh PT Semen Gresik Tbk maupun PT Indocement Tbk, memang sedang tinggi-tingginya. Penentangan pendirian pabrik semen dilakukan berdasar pertimbangan yang benar-benar rasional, khususnya karena tambang tersebut akan merusak karst pegunungan Kendeng yang selama ini menjadi tempat penampungan dan sumber mata air alami yang mengaliri sawah-sawah petani jika kemarau datang. Tentu ada banyak hal lagi yang akan hilang jika tambang dan pabrik berdiri. Awalnya, mereka yang melakukan penolakan memang tidak begitu banyak, tetapi lama-lama setelah melalui pelbagai upaya, banyak warga yang terlibat dalam penolakan, baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda. Salah satu wadah perjuangan warga dalam menolak penambangan tersebut bernama Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK). Sebagian besar anggotanya adalah laki-laki, tetapi ketika rapat-rapat dilakukan, sering terlihat seorang perempuan ikut serta menyimak rapat tersebut. Dan dari situ, dia kemudian melakukan langkah-langkah yang signifikan untuk terlibat dalam gerakan dan berupaya menggerakkan kaum perempuan Kendeng. Dialah Gunarti, atau biasa dipanggil mbak Gun.

“ Aku mikir, yen wong berjuang nek mung lanang thok, kuwi biasane ora berhasil,” mbak Gun mulai memaparkan awal keterlibatannya. “Pikirku, masalah lingkungan, masalah banyu, masalah bumi kuwi ya masalahe bareng. Apa maneh justru ibuk-ibuk luwih akeh nggunakke banyu tinimbang bapak-bapak. Tegese, nek ning omah ki kan akeh ibuk-ibuk saka nggulawentah anak ngopeni omah.”

Karena kesadaran itulah mbak Gun berkeliling dari desa ke desa di kecamatan Sukolilo, bertemu dengan ibu-ibu dan menjelaskan pentingnya menjaga pegunungan Kendeng serta bahanyanya penambangan bagi keberlangsungan pertanian. Tugas ini tidak bisa diserahkan pada bapak-bapak karena menurut mbak Gun, bapak-bapak pasti mengalami kesulitan dalam menyampaikan informasi ke ibu-ibu. Lain kalau yang menyampaikan ibu-ibu sendiri, lewat grenengan pasti penyebarannya lebih cepat. Dari enam belas desa di kecamatan Sukolilo, sekitar 12 desa sudah dijelajahi mbak Gun untuk bertemu dengan ibu-ibu dan menjelaskan soal rencana penambangan semen serta dampak yang mungkin akan ditimbulkannya bagi warga.

Tidak semua ibu-ibu yang ditemui Gunarti merasa tenang. Walaupun mereka tidak setuju dengan pabrik atau penambangan semen, tapi ada perasaan takut menggelayuti mereka. Tidak saja takut kepada pemerintah yang memang mendukung pabrik semen, tapi juga ke tetangga lain. Menurut mbak Gun, dasarnya ibu-ibu takut karena memang tidak tahu kenapa harus menolak dan apa dampak dari penambangan itu. Mbak Gun juga menyampaikan kepada mereka untuk tidak perlu takut pada pemerintah. “Pemerintahan ki sapa? Pemerintah ki justru awake dhewe sing berhak mrintah. Wong saiki se desa, lurah kan wong siji, anane lurah merga awake dhewe sing milih, dudu malah kudu awake dhewe wedi karo lurah. Misale bengkok arep didol lurah, lha kuwi ora hak’e lurah. Kuwi hak wong sak desa” jelasnya.

Bagian dari Sedulur Sikep

Bagaimanapun, Gunarti tidak bisa dipisahkan dari Sedulur Sikep, dimana tradisi dan nilai-nilai leluhur tetap dipegang teguh, walau ada beberapa “improvisasi” dalam ekspresinya. Nilai untuk menghormati sesepuh dengan meminta ijin dalam bertindak untuk masyarakat banyak, menjadi salah satunya. Ketika sudah berkeliling tiga desa untuk menyampaikan kemungkinan dampak dari penambangan semen, mbak Gun berpikir bahwa apa yang dilakukannya sebaiknya juga direstui oleh sesepuhnya. Tak dinyana ternyata mbah Tarno, sesepuh sedulur Sikep waktu itu, seperti memanggilnya dan menanyakan tentang itu suatu hari. Ternyata mbah Tarno sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh Gunarti dari Gunritno. Mbak Gun menjelaskan semua yang sudah dilakukan dan hasilnya bagaimana. Ternyata mbah Tarno membenarkan dan mendukung apa yang dilakukan mbak Gun. Dengan restu itu, dia menjadi lebih semangat lagi.

Komunitas Sedulur Sikep, atau biasa dikenal dengan komunitas Samin memang mempunyai ajaran-ajaran yang menghormati alam, setidaknya ini pernah disampaikan oleh mbah Tarno almarhum. “Bumi kuwi ya ibumu kuwi lo, ibu mami sing nguripi sing mbok jaluki mangan sing mbok jaluki ngombe sing nyusoni ya kuwi,” kata mbah Tarno pada ibu-ibu. Sedangkan pekerjaan paling mulia adalah menjadi petani, karena dengan begitu mereka bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain. Komunitas ini menyebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, komunitas ini tersebar di Blora, Grobogan, Kudus, dan Pati. Sedangkan di Pati, komunitas mereka terkonsentrasi di Kecamatan Sukolilo, tepatnya di desa Baturejo, Sukolilo, Baleadi dan Kedungmulyo.

Seluruh keluarga Gunarti hidup dalam laku Sikep, yang tersebar di Kudus dan Pati. Gunarti merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya, Wargono dan Niti Rahayu, tinggal di Kaliyoso beserta adik-adiknya. Sedang kakaknya, Gunritno, tinggal di Sukolilo, Pati. Gunarti menikah dengan Kukoh, seorang Sikep juga, dan sekarang tinggal di desa Sukolilo, kecamatan Sukolilo, Pati. Keluarga ini sekarang dipandang sebagai tokoh-tokohnya Sedulur Sikep. Bahkan ada yang menyebut Gunritno sebagai jembatan Sedulur Sikep yang menghubungkan komunitas Sikep dengan dunia luar dan sebaliknya. Walaupun tidak menempuh sekolah formal, Gunarti tetap “sinau” sehingga tetap bisa baca tulis dan mempunyai pengetahuan yang luas karena dia selalu belajar secara informal. Selain semua hal itu, Gunarti dan seluruh keluarga besarnya hidup sebagai petani.

Karena hidup sebagai petani, kebutuhan akan air menjadi tak bisa ditawar, sehingga jika ada upaya untuk merusak cadangan air akan berdampak tidak hanya pada sisi ekonomi tapi juga tradisi, bahkan kehidupan mereka. Walaupun begitu, untuk persoalan pabrik semen ini, tidak semua Sedulur Sikep menolak. Hal ini semata-mata juga didasarkan pada suatu ajaran bahwa orang tidak boleh mengganggu pihak lain dalam mencari nafkah. Prinsip itu secara umum betul, menurut mbak Gun. Tetapi masalahnya jika penambangan atau pabrik semen berdiri yang terjadi justru akan mengganggu atau menghilangkan pekerjaan banyak orang. Ini menjadi perhatian seirus Gunarti, bahwa diantara Sedulur Sikep memang ada yang belum paham soal rencana penambangan ini dan bagaimana dampak penambangan terhadap kehidupan petani. Untuk itu, Gunarti seperti punya kewajiban untuk menjelaskan hal ini ke “dalam” dulu sebelum ke warga lainnya. Sedulur Sikep sebaiknya satu sikap dalam menghadapi rencana pendirian pabrik semen, demikian menurut Gunarti.

Pembentukan Simbar Wareh dan Keberlanjutan Perjuangan

Setelah berkeliling dari desa satu ke desa lain, akhirnya mbak Gun mengajak ibu-ibu dari pelbagai desa untuk melakukan pertemuan bersama. Mereka menyanggupi, sehingga terjadilah pertemuan yang dihadiri sekitar dua ratus ibu-ibu di depan mushola desa Kedu. Desa Kedu merupakan lokasi rencana penambangan semen, sehingga pertemuan di situ amatlah strategis. Tapi ternyata pihak yang pro pabrik semen tidak senang dengan pertemuan tersebut sehingga menyebarkan fitnah bahwa mushola digawe yak-yakan wong Samin. Padahal ibu-ibu itu cuma berkumpul di depan mushola, tidak sampai masuk, bahkan di teras juga tidak. Apalagi yang datang dari sedulur sikep tidak banyak, lebih banyak masyarakat di luar sedulur sikep. Karena fitnah tersebut ibu-ibu menjadi takut lagi dan mengadu ke mbak Gun lagi. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mbak Gun untuk terus berjuang, apalagi dia terus mendapat semangat dari mbah Tarno. “Lehmu dandan-dandan sedulur wedok kuwi ditenani supaya dadi, mlakune ben isa ngimbangi wong lanang,” kata mbah Tarno yang ditirukan mbak Gun.

Tidak surut dengan pelbagai halangan, kembali Gunarti dan ibu-ibu melakukan pertemuan kedua. Kali ini dilakukan di rumah Gunritno, kakak dari mbak Gunarti, pada 2 Mei 2009. Waktu itu mbak Gun sudah hamil tua, sudah jarang terlibat dalam kegiatan JM-PPK. Tetapi dalam pertemuan di rumah Gunritno tersebut muncul grenengan untuk membentuk wadah bagi perempuan yang terlibat dalam menjaga pegunungan Kendeng. Akhirnya disepakati wadah tersebut bernama Simbar Wareh, atau lengkapnya Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Simbar Wareh. Walaupun tercipta secara spontan, nama Simbar Wareh diambil dari mata air yang ada di pegunungan Kendeng yang terancam rusak kalau penambangan semen jadi dilakukan. Waktu itu dipilih ketuanya mbak Sriwati, sedang mbak Gun memilih mendukung dari belakang. Biarpun begitu semua orang tahu bahwa dialah tulang punggung dan penggerak Simbar Wareh. Keputusan untuk masuk dalam kepengurusan juga sebuah siasat karena yang di dalam Simbar Wareh anggotanya banyak dari luar Sedulur Sikep, jadi kalau dia jadi ketua malah dirasa tidak enak. Selain itu, mbak Gun juga ingin mencoba bagaimana langkahnya ibu-ibu jika berjalan sendiri nanti. Ini juga untuk membuktikan bahwa yang menolak semen itu bukan orang Sikep saja.

Dua hari setelah terbentuknya Simbar Wareh, JM-PPK dan Simbar Wareh mencoba memainkan situasi politik yang sedang memanas di Jawa Tengah, dimana ada rivalitas antara Bibit Waluyo dengan Rustriningsih. Bibit dianggap mengkhianati PDIP, partai yang mengusungnya menjadi gubernur, karena tidak mau berkampanye untuk Megawati menjadi presiden. Sedangkan Rustri yang merupakan kader PDIP tulen, dengan gigih berkampanye untuk Megawati. Melihat situasi tersebut, Simbar Wareh mendekati Rustriningsih dengan menemuinya di kantornya di Semarang. Menurut Gunarti, tanggapan bu Rustri sangat bagus terhadap apa yang dilakukan Simbar Wareh. “Perjuangan kudu dilanjutke, tetep semangat, tapi kudu alon-alon merga dalane isih dawa,” kata bu Rustri yang ditirukan mbak Gun.

Karena terlibat dalam perjuangan menyelamatkan pegunungan Kendeng, ketemu dengan tokoh-tokoh bukan hal yang aneh bagi mbak Gun. Sebelum Simbar Wareh terbentuk, perjalanan mbak Gun sudah panjang dalam turut serta mengelola dan melindugi pegunungan Kendeng agar tidak ditambang oleh pabrik semen. Pernah ke Komnas HAM, Komnas Perempuan, Mabes Polri, pernah juga ketemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, Wakil Gubernur Bu Rustriningsih, termasuk dengan Gus Dur almarhum. Menurut mbak Gun, pertemuan dengan Gus Dur amatlah menarik. Dia masih ingat apa yang disampaikan Gus Dur, bahwa pihak pabrik semen pasti akan mundur, bahkan Gus Dur memberi perkiraan waktunya kapan mereka mundur. “ Titenana wiwit dina iki, limang sasi wiwit dina iki upama ning lokasi kuwi ora ana kegiatan, berarti semen iku mundur kok.” Ternyata, apa yang disampaikan Gus Dur itu benar. Semua perjalanan bertemu dengan tokoh-tokoh itu memberikan banyak manfaat, dari yang menyemangati dan memberi tantangan.

Dalam perjuangan untuk menjaga lingkungan dan keberlangsungan petani di pegunugan Kendeng, mbak Gun sudah tidak pernah berpikir tentang diri sendiri. Pernah dalam kondisi hamil tua, Gunarti masih keluar masuk desa bahkan naik pegunungan untuk mengabarkan apa yang terjadi pada masyarakat. Bahkan ketika akan melahirkan, ibu-ibu masih berdatangan ke rumahnya untuk meminta pertimbangan karena suasana memanas di lapangan, khususnya menjelang peletakan batu pertama pembangunan pabrik pada 16 Mei 2009 yang rencananya dilakukan oleh Gubernur Bibit Waluyo. Memang pada hari-hari menjelang peletakan batu pertama beredar kabar yang simpang siur yang membuat situasi semakin mencekam, seperti tentara yang sudah bergerak untuk “mengamankan” Gunritno. Apalagi di sekitar lokasi yang rencananya sebagai tempat peletakan batu pertama sudah didirikan tenda sebagai posko warga, yang setiap hari ramai warga bergantian berjaga. Bahkan dua hari sebelum peletakan batu pertama, ibu-ibu mengepung mobil polisi yang masuk kampung atau lokasi rencana pelatakan batu pertama, sambil berteriak “merdeka!” atau “tolak pabrik semen!” Suasana memanas tersebut sampai ke tempat Gunarti. Ibu-ibu datang untuk menanyakan kira-kira apa yang akan terjadi. Dalam suasana seperti itu mbak Gun tetap menyemangati mereka, bahkan menantang ibu-ibu untuk pamit kepada suami agar suami mereka merelakan kepergiannya demi perjuangan.

Bagi masyarakat pegunungan Kendeng yang melakukan penolakan pabrik semen, tanggal 16 Mei adalah sebuah tanda bagi kemenangan kecil mereka. Pagi itu, 16 Mei 2009, ribuan warga telah berbaris di pinggir ruas jalan Cengkal Sewu-Curug untuk ‘menyambut’ kedatangan rombongan Gubernur. Rencananya, hari itu gubernur Bibit Waluyo akan melakukan peletakan batu pertama dimulainya pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng, Pati. Warga yang menyemut pagi itu membawa poster-poster berisi kalimat-kalimat penolakan pabrik semen. Tetapi suasana berubah menjadi kegembiraan ketika salah seorang warga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Kapolres yang datang saat itu, bahwa peletakan batu pertama dibatalkan karena pihak pabrik semen telah memindahkan rencana pembangunan pabriknya ke daerah Tuban. Warga sontak bersorak sorai menyambut berita gembira tersebut.

Mundurnya pabrik semen telah menimbulkan kegembiraan bagi warga Kendeng, tak terkecuali Gunarti. Sebelum ada kabar mundur tersebut, warga seperti susah tersenyum kata mbak Gun. Tapi kini semua bisa tertawa dengan lepas. Bagaimanapun ada juga “sisi buruk” dengan mundurnya pabrik semen itu. Setidaknya, menurut Gunarti, warga menjadi susah diajak berkumpul lagi, karena sudah merasa sudah aman.

Kasus atau rencana masuknya pabrik semen memang telah menyatukan pelbagai pihak. Awalnya tidak ada kumpulan ibu-ibu dari pelbagai desa, yang ada ya antara sedulur sikep aja. Tapi gara-gara pabrik semen itu, semua menjadi terlibat dan berkumpul. Kini setelah pabrik semen mundur, situasi kembali sedia kala. Orang menjadi malas berkumpul. Gunarti sangat risau dengan kondisi tersebut.

Kerisauan tersebut dikelola dengan mengadakan pelbagai kegiatan agar anggota Simbar Wareh bisa aktif kembali. Kegiatan tersebut misalnya membuat lumbung desa, pembuatan jamu dan pelatihan kesehatan alami. Yang dimaksud dengan lumbung desa adalah semacam simpan pinjam, dimana anggota menabung uang atau mengumpulkan uang sedangkan ketika membutuhkan untuk keperluan mendadak misalnya, bisa meminjam dan tidak usah jual barang yang ada di rumah. Tidak banyak memang uang yang bisa dipinjam dari lumbung itu, tapi setidaknya bisa membantu anggota jika membutuhkan. Kalau pelatihan membuat jamu, misalnya membuat jahe atau kunyit instan, maksudnya langsung bisa dibuat minum dengan menuangkannya di air panas. Selain itu juga ada pelatihan kesehatan alami lewat akupresur, atau pijat. Semua upaya itu dilakukan agar selain anggota Simbar Wareh bertambah wawasan dan ketrampilannya, juga agar mereka aktif lagi dalam pertemuan-pertemuan. Tetapi ternyata belum juga maksimal dengan upaya itu. Anggota Simbar Wareh masih banyak yang tidak datang dalam pertemuan-pertemuan. Akhirnya Gunarti berkesimpulan bahwa ini terkait dengan persoalan pemahaman anggota tentang manfaat berkegiatan atau berkumpul bersama serta pemahaman tentang lingkungan. Nah, untuk membuat anggota paham, harus ada yang jalan dan menemui lagi satu per satu.

Memang PT Semen Gresik Tbk sudah mengurungkan niat untuk membangun pabrik di pegunungan Kendeng, walaupun ada yang mengatakan hanya menunda saja. Tetapi kini ancaman lain telah hadir di depan mata, bukan dari Semen Gresik, tapi PT Indocement Tbk. PT Indocement Tbk, yang di lapangan proses pendirian dan pendekatan ke masyarakat dilakukan oleh salah satu anak perusahannya yang bernama PT Sahabat Mulia Sakti, telah melakukan banyak upaya untuk merealisasikan pendirian pabrik semen. Salah satu upaya misalnya menurunkan mahasiswa-mahasiswa untuk mempengaruhi warga agar menyetujui pendirian pabrik semen tersebut. Melihat kondisi tersebut, tugas mbak Gun ternyata tidak semakin ringan atau usai. Perjalanan dan perjuangan memang masih panjang . Benar kata bu Rustri, “…dalane isih dawa.”

Dinarasikan oleh: Ari Ujianto


Beranda  |  Kategory: Edisi 23 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Yen wong berjuang nek mung lanang thok, kuwi biasane ora berhasil”

  1. Ninuk Setya says:

    Menarik membaca tulisan ini.
    Sedikit saran untuk memberikan terjemahan bahasa daerahnya. Saya yakin pembaca srinthil tidak hanya orang jawa. Orang yang tidak bisa berbahasa Jawa semoga bisa mengambil pelajaran dan pengalaman di sini

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia