Simbar Wareh dan Kontekstualisasi Kearifan Lingkungan

6 - Jan - 2012 | Ari Ujianto | 1 Comment »
Simbar Wareh dan Kontekstualisasi Kearifan Lingkungan

Terik matahari seperti membakar kepala ketika ratusan perempuan petani duduk melingkar di sawah yang habis dipanen. Dua orang berdiri memimpin menderes tembang dan geguritan. Dengan berbekal caping, gabah dan tembang mereka mengadu pada pada Dewi Sri tentang kerusakan alam yang terjadi dan kesengsaraan yang menimpa petani. Berbareng mereka menembang tentang alam yang rusak, pohon-pohon tiada bersemi, batu-batu hancur, hewan-hewan punah, semua yang hidup musnah, sedang yang merusak tiada pernah puas.

Setelah nyanyian duka, sepasang petani tua, perempuan dan laki-laki, berjalan memutar seperti menebarkan benih padi dan memberikan berkah pada yang duduk melingkar. Tembang yang berkumandang tidak lagi tembang duka, tapi semacam ngereh-ereh agar petani berhenti menangis, berhenti berduka. Selain itu, lirik tembang juga meminta petani meyakini ketekunannya karena akan datang pembela bagi mereka. Suara-suara yang muncul dari ratusan perempuan petani di sekitar Pegunungan Kendeng tersebut terus menggema, sementara di sisi timur nampak deretan Pegunungan Kendeng Utara seperti ikut menjaga irama.

Siang itu, 27 September 2011 Jaringan Masyarakat Peduli Pegunung Kendeng (JMPPK) Serikat Petani Pati, Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan Simbar Wareh dengan didukung seniman dan dalang wayang suket Slamet Gundono, melakukan semacam pegelaran dengan judul Dewi Sri Nggrantes untuk memperingati Hari Tani Nasional di dukuh Curug, Sukolilo, Pati. Judul yang diambil tentu berkait erat dengan kondisi petani saat ini, yang tersingkir dan penuh ketidakpastian. Dewi Sri sebagai perlambang dewi kesuburan petani, tengah merintih dan berduka. Duka yang muncul sebenarnya sudah lama, sudah bertahun-tahun. Tidak kali ini saja Hari Tani diliputi dengan duka. Dan duka itu tidak saja mengungkung petani di kawasan Pegunungan Kendeng Utara, tetapi juga se-Nusantara.

Respon Rasional Petani Terhadap Ancaman
Duka memang terus menggelayuti petani, tetapi petani di kawasan Pegunungan Kendeng Utara tidak larut dalam keputusasaan. Mereka terus merespon tantangan dan ancaman dengan pelbagai cara. Upaya itu telah dilakukan bertahun-tahun, tetapi semakin menghebat ketika ada ancaman akan munculnya pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Respon berupa advokasi terus dilancarkan dengan disandarkan pada pengorganisasian rakyat yang kuat. Kemudian wadah-wadah perjuangan pun bermunculan, seperti JM-PPK dan Simbar Wareh.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) dan Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Simbar Wareh adalah upaya merespon rencana eksplorasi dan ekspoitasi Pegunungan Kendeng Utara, Pati, untuk pabrik semen. JM-PPK memang lahir lebih dulu dengan dipelopori oleh Gunritno, Yitno, Farid, dan sebagainya. Sedangkan KPPL Simbar Wareh hadir belakangan, ketika kebutuhan terhadap keterlibatan perempuan semakin terasa mendesak. Saat itu, ketika sedang hangat-hangatnya advokasi penolakan masyarakat terhadap rencana penambangan yang dilakukan PT Semen Gresik Tbk, ada kebutuhan untuk mengorganisasikan potensi perempuan-perempuan yang dirasa belum maksimal dalam mendukung perjuangan penyelamatan Pegunungan Kendeng. Biarpun JM-PPK sudah ada, tetapi kaum perempuan yang terlibat baru satu-dua orang saja. Padahal untuk bisa “mengalahkan” atau membatalkan rencana pendirian pabrik serta penambangan semen membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat yang akan terkena dampak.

Untuk kebutuhan tersebut di atas, dibentuk sebuah kelompok dengan nama Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) pada tanggal 13 Februari 2009, yang masuk dalam “struktur” JM-PPK. Kemudian pada tanggal 3 Mei 2009, ketika dalam pertemuan untuk persiapan bertemu dengan Rustriningsih, Wakil Gubernur Jawa Tengah, ada usulan untuk mengubah nama KPPL menjadi nama yang sesuai dengan dasar perjuangan kelompok tersebut. Karena dasar perjuangan kelompok tersebut ada kaitan dengan menjaga mata air di Pegunungan Kendeng, maka dipilihlah nama Simbar Wareh, yang merupakan gabungan nama mata air Simbarjoyo dan Goa Wareh.1 Simbar Wareh kemudian “diresmikan” dan kadernya dikukuhkan oleh Henry Bastaman, Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, pada 16 Juni 2009. Dalam pengukuhan tersebut juga disepakati sebagai ketua Simbar Wareh adalah Sri Wati, seorang ibu muda dari Sukolilo.

Menurut Sri Wati, nama Simbar Wareh juga dimaksudkan untuk menyambungkan dua kecamatan, karena Goa Wareh ada di Kedumulyo, kecamatan Sukolilo sedang Simbarjoyo ada di Jimbaran, kecamatan Kayen. “Simbar Wareh piyambak kagungan makna , simbar niku menyirami , lan wareh niku toya. Mila kita berharap wontene simbar wareh saget ngademke suasono, ugi pikantuk dalan engkang padang perjuangan menika,” jelas mbak Sri.

Memang salah satu bentuk keprihatinan sehingga lahir Simbar wareh adalah suasana yang terus memanas, tidak hanya antara masyarakat dengan pemerintah atau pihak pabrik semen, tapi juga antara masyarakat yang menolak semen dengan masyarakat yang pro semen. Suasana ini merembet antar tetangga, keluarga, bahkan antara bapak dan anak terjadi perbedaan yang memanas. Perbedaan tentu berangkat dari pertanyaan, apakah pabrik semen itu akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng Utara atau justru merugikan? Yang sepakat atau setuju dengan rencana pendirian pabrik semen berpendapat bahwa kehadiran pabrik semen akan bermanfaat bagi warga karena akan membuka atau menyediakan lapangan pekerjaan, sehingga warga bisa bekerja di situ dan mendapatkan penghasilan. Yang menolak tentu juga punya alasan, misalnya pabrik semen akan menghancurkan kawasan karst yang selama ini menjadi tempat penyimpanan air alami yang digunakan bagi masyarakat baik untuk pertanian maupun kebutuhan rumah tangga. Komentar yang tajam misalnya datang dari Gunarti yang mengatakan bahwa pabrik semen belum berdiri saja sudah membuat suasana panas dan masyarakat terpecah, apalagi kalau benar-benar berdiri.2 Maka tak salah kiranya jika nama Simbar Wareh dipilih, karena artinya juga menyirami agar yang panas menjadi adem.

Respon terhadap pendirian pabrik semen dan pendirian KPPL Simbar Wareh, bisa saja dilihat dari kacamata “rasional”, seperti ancaman terhadap sumber-sumber pangan petani, tapi ada pula alasan yang berakar pada ajaran dan tradisi yang telah dijalani dari generasi ke generasi.

Penolakan pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng Utara sangat rasional karena mayoritas pelopor dan anggota Simbar Wareh adalah petani yang menggantungkan hidupnya dari pengelolaan sawah dan ladang. Sedangkan hasil sawah yang diandalkan adalah padi, yang kebutuhan akan air demikian tinggi.

Selama ini, kebutuhan air untuk persawahan di Kecamatan Sukolilo, tempat Simbar Wareh berada, dipasok melalui irigasi teknis dan pompa. Irigasi teknis berasal dari air bendungan Kedung Ombo, sedang irigasi pompa berasal dari sumber-sumber mata air Pegunungan Kendeng, yang jumlahnya tak kurang dari 79 sumber mata air. Dengan demikian, mata air Pegunungan Kendeng dapat mencukupi bagi 7882 KK dan menjadi andalan bagi 15.873.900 hektar sawah di kecamatan Sukolilo. Belum lagi kalau kita hitung juga pasokannya bagi kecamatan lain, seperti Kayen.

Biasanya, sumber air dari Pegunungan Kendeng digunakan oleh petani ketika irigasi teknis mengalami kemacetan atau alirannya rendah, yang biasanya terjadi pada musim kemarau. Dengan demikian sumber air dari Pegunungan Kendeng menjadi penolong ketika petani kesulitan air. Amat masuk akal jika “para” penolong petani itu diusik maka para petani bergerak melindunginya. Dan yang paling depan bergerak memang harus perempuan karena kaum perempuan sangat berkepentingan dalam hal ini, seperti yang disampaikan Gunarti, “ Masalah banyu ki justru ibu-ibu sing akeh nggunakke tinimbang bapak-bapak. Tegese nek ning mondokan ki sing luwih akeh kan ibuk-ibuk, seka gulowentah anak ngopeni omah.3

Kebutuhan untuk berlangsungnya pabrik semen tidak hanya pada ketersediaan batu kapur, yang dalam rencana pendirian pabrik semen di Pati akan diambil dari 900 hektar lahan di kawasan karts kelas satu. Karst kelas satu adalah kawasan yang dilindungi, karena fungsinya yang penting bagi ekosistem, tidak hanya manusia tapi juga hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Selain kapur, pabrik semen juga membutuhkan tanah liat. Kebutuhan akan tanah liat bagi pabrik semen di pegunungan Kendeng tersebut akan diambilkan dari sawah-sawah milik petani. Padahal lahan pertanian di sekitar Pegunungan Kendeng merupakan lahan produktif dengan tanaman utama padi dan jagung. Belum lagi berapa luas lahan yang akan digunakan untuk bangunan pabrik dan segala fasilitasnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Pegunungan Kendeng Utara kaya dengan potensi alamnya, maka selain akan mengancam ketersediaan air dan pertanian produktif, pendirian pabrik semen termasuk penambangannya akan mengancam kekayaan sumberdaya hayati yang ada di Pegunungan Kendeng, baik tumbuhan maupun hewan-hewan. Pepohonan yang ada di Pegunungan Kendeng yang akan terancam seperti pohon Jati, Sono Keling, Mahoni, dan Angsana, yang selama ini dikembangkan dan dimanfaatkan oleh petani dan pihak Perhutani. Pohonan tersebut selain digunakan untuk membuat rumah dan sebagai bahan bangunan lain, juga bisa dijual untuk penambahan pengasilan. Itu baru tanaman yang dipakai untuk bahan bangunan, belum lagi yang bermanfaat untuk obat, sumber konservasi air, tanaman pangan (tambahan). Selain tumbuhan, tentu saja hewan-hewan banyak terdapat di Pegunungan Kendeng, seperti kelelawar, burung hantu, ular, biawak, lutung, demuk, merak, harimau, ayam hutan, kijang dan babi hutan. Itu baru sumberdaya hayati, belum lagi potensi goa, situs arkeologi, dan lain-lain yang berserak dan menjadi kekayaan tiada tara di Pegunungan Kendeng. Kekayaan tersebut menjadi unsur-unsur dalam membentuk dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitarnya.

Dengan melihat paparan di muka, penolakan Simbar Wareh terhadap pendirian pabrik semen tersebut menemukan pembenarannya. Menurut mereka yang menolak pabrik semen, tawaran akan membuka lapangan kerja baru sehingga warga Pati yang menganggur bisa mendapatkan pekerjaan, tidak sepadan dengan biaya dari kehilangan sumberdaya alam itu. Mereka sudah belajar tentang itu dengan melakukan semacam “studi banding” ke Tuban, dimana pabrik semen didirikan dan penambangan kapur dilakukan. Menurut hasil studi tersebut, kenikmatan yang dijanjikan dengan berdirinya pabrik semen itu hanya sementara sifatnya. Kini warga sekitar penambangan menjadi susah karena alam sudah rusak, dan tidak bisa dikembalikan lagi. Kalau ini terjadi di Pati, mungkin juga tidak terlalu jauh bedanya. Apalagi warga yang nanti dipekerjakan juga belum tentu menduduki jabatan yang penting. Belum lagi jika nanti ada biaya sosial dan budaya dengan semakin meruncingnya pertentangan horisontal. Dan ini yang juga menjadi alasan Gunarti mengajak kaum perempuan bergerak dan membentuk Simbar Wareh.

Konstektualisasi Akar-akar Kearifan
Apa yang dilakukan Gunarti, dengan memelopori lahirnya Simbar Wareh dan mengajak perempuan-perempuan petani untuk peduli dengan lingkungan sekitar, merupakan kelanjutan dari pelaksanaan prinsip ajaran sesepuh Sedulur Sikep. Bagi Sedulur Sikep, khususnya para “tokoh”nya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.4 Ajaran ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui pelbagai penafsiran dengan melihat konteks yang terus berubah. Mbah Tarno almarhum, seorang sesepuh Sedulur Sikep Pati, pernah mengutarakan perihal perlunya keseimbangan tersebut ke Gunritno. Keseimbangan di sini adalah bagaimana alam itu bisa lestari tapi sekaligus menghidupi. Hal ini bisa dilihat dari sikap mbah Tarno sendiri dari muda sampai tua dalam merespon kondisi di wilayah tempat tinggalnya.

Bermula pada tahun 1977an, bersamaan program pemanfaatan tanah cekung, ketika ada perlombaan antar desa. Ada usulan dari lurah tentang apa yang perlu dilakukan dalam lomba tersebut misalnya bersih-bersih desa, memperbaiki jalan atau menata pagar. Tapi semua itu tidak ada yang baru, lain dengan yang diusulkan Mbah Tarno. Dia mengusulkan bagaimana kalau warga memperbaiki sawah dan menggunakan lahan yang tidak terpakai untuk sawah. Apa yang diusulkan oleh Mbah Tarno tersebut berbeda jauh dibandingkan dengan usul lurah. Usulan lurah bersifat kosmetik seolah-olah desa makmur jika pagar ditata dan jalan dibersihkan. Sedang usulan Mbah Tarno lebih ke substantif, bagaimana potensi desa bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran bersama. Apa yang selama ini dianggap tidak berguna, bagi Mbah Tarno justru dilihat sebagai potensi. Dan akhirnya gagasan itu betul-betul dilaksanakan bersama masyarakat. “Kaya ngene iki kan sikape Sedulur Sikep kanggo nyikapi situasi ki ana. Padahal yen di delok iki pendidikane seka endi?” cerita Gunritno.5

Tidak hanya soal gagasan dan membuat tanah mati menjadi berguna, Mbah Tarno bersama masyarakat, khususnya Sedulur Sikep, juga menyumbangkan pikiran dan tenaga untuk melakukan normalisasi atau membuat irigasi dari sungai Juwana 1 dan anak-anak sungai lainnya sehingga pada tahun 1984 terlihat sukses pertaniannya. Setelah tua, Mbah Tarno juga masih memikirkan kondisi sekitar, walaupun yang kemudian bergerak adalah anak-anak muda. Misalnya ketika banjir menggenangi sawah akibat meluapnya sungai Juana karena dibendung atau dipenuhi jlarang. Untuk merespon kondisi tersebut beberapa orang,sebagian besar Sedulur Sikep,membentuk semacam wadah perjuangan dengan nama Karya Tani Maju (KTM). Di situ Mbah Tarno ikut urun gagasan, termasuk mengusulkan lambang atau logo KTM. Menurut Gunritno, apa yang digagas dan kemudian dilakukan oleh Mbah Tarno bersama masyarakat waktu itu adalah implementasi prinsip menjaga keseimbangan itu. Apa yang dilakukan Mbah Tarno juga mencerminkan keteguhan pada prinsip ajaran Sikep yang lain, sing kongkon ya sing nglakoni yang berarti “yang punya gagasan juga yang harus melakukan”.

Upaya menafsirkan ajaran Sedulur Sikep secara kontekstual, seperti yang dilakukan oleh Mbah Tarno kini dilanjutkan oleh Gunritno dan Gunarti. Gunritno menafsirkan ulang ajaran untuk memperjuangkan petani dan lingkugan dengan pelbagi macam wadah, mulai KTM, Serikat Petani Pati (SPP) hingga Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). Sedangkan Gunarti dengan mendirikan dan mengelola Simbar Wareh. Dan dua-duanya mempunyai peran sentral bagi organisasinya masing-masing.

Dengan membentuk organisasi saja, mereka berdua telah melakukan sesuatu yang jauh dari tradisi Sedulur Sikep. Tidak biasa Wong Sikep itu membuat organisasi. Walaupun begitu, tradisi dan ajaran yang lain juga tetap dipertahankan, yakni organisasi yang dibuat tersebut tidak bersifat formal dalam manajemen maupun aturan-aturannya. Organisasi tersebut tidak terdaftar secara resmi, tetapi gerak mereka ada dan nyata, juga orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tentu pilihan-pilihan ini punya konsekuensi tersendiri, seperti juga pilihan melakoni sebagai Wong Sikep.

Walaupun telah melangkah jauh, Gunritno dan Gunarti tetap meminta masukan dari Mbah Tarno tentang apa yang telah dan akan dilakukan, ketika Mbah Tarno masih hidup. Bahkan bagi Gunarti, upaya membentuk Simbar Wareh pun tak lepas dari restu Mbah Tarno, sebagai sesepuh Sedulur Sikep. Tindakan seperti ini merupakan siasat untuk mengatasi situasi di tengah perubahan dan tradisi, yakni dengan melakukan sesuatu yang baru yang dianggap baik dengan tetap mempertahankan yang lama yang selama ini dipegang.

Hal yang dilakukan untuk meminta nasehat sesepuh merupakan hal yang wajar, karena waktu itu ada perbedaan pendapat di kalangan Sedulur Sikep sendiri tentang upaya penolakan pendirian pabrik semen. Seperti diketahui, Sedulur Sikep mempunyai lima larangan atau adeg-adeg yang tidak boleh dilanggar. Kelima adeg-adeg itu yakni; drengki, srei, dahwen, panasten, kemeren ( tidak senang dengan kebahagiaan orang lain, ingin menang sendiri, senang mengecam, senang memanasi orang lain, iri).6

Jika memahami adeg-adeg tersebut secara zakelijk, memang orang akan menilai bahwa pembangunan pabrik semen tidak boleh dilarang atau dihalangi, karena kalau jika menghalangi atau melarangnya itu sama dengan menghalangi orang bekerja atau mendapat pekerjaan. Menghalangi orang mendapat pekerjaan berarti mempunyai sikap drengki dan kemeren, iri terhadap orang yang akan mendapatkan rejeki. Sebagian sedulur sikep yang meyakini adeg-adeg mereka dengan pengertian seperti ini, memilih untuk tidak melibatkan diri dengan upaya penolakan pembangunan pabrik semen.

Sebagian Sedulur Sikep lain mempunyai penafsiran berbeda, seperti Gunarti, pelopor berdirinya Simbar Wareh. “ Dulur-dulur ki akeh sing wedi merga durung ngerti ngapa aku nolak, rung ngerti gunane banyu, durung ngerti ancamane pabrik semen,” kata Gunarti. Gunarti tidak sepakat dengan pendapat sedulur sikep lain yang mengatakan menolak pabrik pembangunan pabrik semen itu sama saja dengan menghalang-halangi orang bekerja atau mendapatkan pekerjaan. Justru menurutnya, dengan pembangunan pabrik semen ini banyak orang akan kehilangan pekerjaan, khususnya petani. Penambangan semen akan menghilangkan persediaan air di Pegunungan Kendeng yang selama ini digunakan untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. “Tanpa banyu awake dhewe ora bisa apa-apa. Banyu kuwi sing nguripi, ya kabeh sing ana ning bumi, semut wae butuh banyu,” jelas Gunarti.7

Dengan keyakinan itu, apalagi dapat dukungan dari sesepuh sedulur sikep, Mbah Tarno, Gunarti terus bergerak menemui ibu-ibu di 12 desa untuk mengajak mereka terlibat dalam perjuangan penolakan pabrik semen. Bahkan ketika Gunarti datang ke Mah Tarno dan menyampaikan apa yang telah dilakukan, Gunarti gembira dengan tanggapan Mbah Tarno. “Aku ki ora arep ngendhek lakumu, malah nek isa ya kuwi sing dadi karepku. Yen wenango awakku sih rosa ngono malah kudu tumandang, dadi kudu tandange ngluwihi wong nom. Ndeloki cah nom-nom saiki kadang ora sabar kok , ana kahanan kaya ngene ora ndang cepet-cepet,” demikian kata mbah Tarno kala itu ditirukan Gunarti. Dengan demikian, apa yang dilakukan Gunarti, di tengah “interpretasi” ajaran Sikep, ternyata disetujui oleh sesepuhnya. Masih menurut Mbah Tarno, penolakan penambangan semen dan melestarikan Pegunungan Kendeng bukan karena Sedulur Sikep itu bisanya hanya bertani, yang nanti akan kehilangan pekerjaan kalau penambangan dilakukan, tapi memang Sedulur Sikep itu ada kaitannya dengan menjaga bumi, karena bumi itu yang menghidupi diri kita.8

Mencermati apa yang dilakukan Simbar Wareh dan JM-PPK, yang didalamnya terdapat beberapa wong sikep, dalam merespon rencana penambangan dan pendirian pabrik semen, baik yang dilakukan oleh PT Semen Gresik Tbk maupun PT Indocement Tbk tentu menarik. Bahkan ada yang mengatakan telah terjadi perubahan pandangan dan sikap dari sedulur sikep, dari pasif menjadi aktif. Dari perlawanan kultural menjadi politis, dan dari lingkup pertanian ke lingkungan. Tetapi dengan mencermati apa yang disampaikan dan dilakukan beberapa “tokoh” sedulur sikep dari Mbah Tarno, Gunritno hingga Gunarti, sepertinya ada kesinambungan antara prinsip ajaran dan pandangan sejak jaman kolonial hingga sekarang, yakni ngrungkepi bumi. Dan Simbar Wareh menjadi bagian penting dalam implementasi ajaran ngrungkepi bumi tersebut.

Melalui Simbar Wareh, tidak hanya satu-dua orang saja yang kemudian mempunyai pemahaman tentang pentingnya alam bagi manusia, tapi pemahaman itu kemudian menyebar ke banyak orang. Sri Wati contohnya. Dengan masuk dan terlibat di Simbar Wareh, pikirannya menjadi terbuka dan mengubah apa yang selama ini dia pahami tentang lingkungan atau alam. “Kula dados ngerti bilih kita kedah njagi lingkungan menika kangge kelangsungan kehidupan jangka panjang, sehingga anak-putu saget ngraosake kados menapa ingkang sakmenika saget kita raosaken,” jelas Mbak Sri.9 Apa yang disampaikan Mbak Sri kalau dicermati bukankah sudah mirip apa yang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut dengan Sustainable Development? Sungguh mengherankan hal ini bisa terucap dari seorang ibu muda dari desa di lereng Pegunungan Kendeng Utara, tapi inilah bukti mengapa Simbar Wareh itu demikian dibutuhkan.


1 Wawancara Sir Wati, ketua KPPL Simbar Wareh, 8 Oktober 2011.

2 Argumen seperti ini disampaikan oleh Gunarti pada pertemuan antara pihak yang pro semen, yang menolak semen, pihak PT Semen Gresik Tbk, NGO, dan Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Jawa Tengah pada bulan Nopember 2008; wawancara Gunarti, 28 Agustus 2010.

3 Wawancara Gunarti, 28 Agustus 2010

4 Menurut Emmanuel Subangun, ajaran ini berangkat dari pandangan hidup tanpa mesias, dan diri sendiri merupakan unsur dalam jagad raya yang akan berusaha terus menerus untuk memelihara keakraban dengan alam. Dengan demikian, pertanian adalah “perkawinan” manusia dengan alam. Lihat Emmanuel Subangun, “Tidak Ada Mesias dalam Pandangan Hidup Jawa” dalam Prisma 1 Januari 1977.

5 Wawancara Gunritno, 27 Agustus 2010

6 Ada perdebatan soal adeg-adeg ini, karena ada yang menyebut jumlahnya tidak hanya lima, tapi dua puluh, walaupun memang lima adeg-adeg ini yang paling populer di sedulur sikep manapun. Lihat Uzair Fauzan, “Politik Representasi dan Wacana Multikulturalisme dalam Praktek Program Komunitas Adat Terpencil (KAT); Kasus Komunitas Sedulur Sikep Bombong-Bacem” dalam Himat Budiman (ed), Hak Minoritas; Dilema Multikultural di Indonesia, The Interseksi Foundation, Jakarta, 2005.

7 Wawancara Gunarti, 28 Agustus 2010

8 ibid

9 Wawancara Sri Wati, 8 Oktober 2011


Beranda  |  Kategory: Edisi 23 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Simbar Wareh dan Kontekstualisasi Kearifan Lingkungan”

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia