Simbar Wareh: Bergerak di Tengah Ancaman Pemiskinan

6 - Jan - 2012 | Mokh Sobirin | No Comments »
Simbar Wareh: Bergerak di Tengah Ancaman Pemiskinan

Siang itu di kantor Badan Koordinasi Wilayah Pati begitu ramai. Sebuah agenda penting yang mempertemukan dua kelompok yang selama ini bersitegang tengah berlangsung. Hari itu, 1 Mei 2009, tim penyusun AMDAL telah menyelesaikan dokumen tersebut dan siap untuk disahkan. Untuk itu tim yang digawangi akademisi dari salah satu universitas terkemuka di Jawa Tengah tersebut mengundang kelompok yang pro maupun yang kontra terhadap pembangunan pabrik semen gresik di wilayah kecamatan Sukolilo dan Kayen untuk mendengarkan pemaparan dokumen penting tersebut. Belum genap satu jam tim AMDAL mempresentasikan temuannya suasana di dalam gedung pertemuan tersebut telah memanas dengan banyaknya interupsi dari pihak pro maupun mereka yang kontra terhadap rencana pembangunan tersebut. Intimidasi verbal mulai terjadi dari banyak preman yang datang mewakili kelompok pro semen.

Suasana di luar gedung pertemuan tak kalah panas. Ratusan orang pendukung pabrik semen yang datang dengan menumpang beberapa truk membentangkan berbagai spanduk dan poster tanda dukungan. Tak hanya itu saja, orasi dukungan juga tak henti-hentinya disuarakan melalui pengeras suara yang dipasang di atas salah satu truk. Lapangan rumput di depan gedung Bakorwil siang itu menjadi arena demonstrasi kelompok pendukung rencana pembangunan pabrik yang didukung oleh hampir seluruh level pemerintahan di Kabupaten Pati tersebut. Di tengah ratusan demonstran yang mulai “panas” itu tampak sebuah mobil bak terbuka membentangkan spanduk bertuliskan penolakan pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara. Tampak di atas mobil tujuh ibu-ibu tengah melakukan aksi diam sambil membawa hasil bumi seperti jagung, ketela, pisang dan kacang dari Pegunungan Kendeng Utara. Seakan Srikandi-srikandi Kendeng ini ingin membantah anggapan yang mengatakan bahwa Pegunungan Kendeng Utara bukanlah tanah yang subur. Tidak hanya kali ini saja perempuan menjadi bagian penting dari gerakan penyelamatan lingkungan yang dimotori oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)ini. Perempuan telah menjadi satu elemen penting dalam berbagai aksi yang ditunjukkan dalam menyikapi gerak majunya investor pertambangan yang sejak beberapa tahun terakhir ingin melakukan penambangan skala besar di wilayah Pegunungan Kendeng Utara.

Apa yang dilakukan oleh perempuan petani di Pegunungan Kendeng Utara yang meliputi kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo ini menjadi hal baru dalam wacana mengenai didapat gerakan petani yang selama ini seakan menjadi domain paradigma maskulin dengan ide besar tentang pemberontakan dan perlawanan dengan kekerasan. Berapa banyak literature berbahasa Indonesia yang menggambarkan peran penting perempuan petani dalam sebuah gerakan petani? Hampir tidak ada. Historiografi gerakan petani di Indonesia sejauh ini lebih didominasi oleh tulisan yang memfokuskan pengamatan pada factor-faktor penyebab dan bentuk gerakan tersebut dengan focus pada elit, yang kebanyakan adalah laki-laki, dengan massa yang membesarkan gerakan tersebut. Tulisan ini mencoba menelisik peran perempuan dalam gerakan petani kontemporer yang terjadi di Pati Selatan selama beberapa tahun terakhir.

Jalan panjang perempuan petani Kendeng Utara
Matahari mulai terik ketika Wani beristirahat di pematang sawah setelah cukup lelah sepanjang pagi membungkuk menanam padi. Hari itu ia bersama enam orang temannya harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan pemilik sawah kepada rombongan tandurnya. Rombongan tandur biasanya beranggotakan lima sampai sepuluh orang perempuan dari satu desa. Salah seorang anggota yang dianggap paling senior akan menjadi ketua rombongan tandur ini, seperti Mbah Minah.

Perempuan berusia enampuluhan tahun ini menjadi ketua salah satu rombongan tandur yang cukup dikenal di desa Sukolilo. Pada awal musim tanam Mbah Minah akan laris dicari banyak pemilik sawah untuk merundingkan rencana tanam padi mereka. Di sinilah Mbah Minah harus pandai benar dalam mengatur agenda kelompok tandurnya agar tidak ada jadwal yang berbenturan.

Selain bertugas merekrut siapa saja yang akan diajak untuk masuk dalam rombongan, Mbah Minah juga harus bernegosiasi dengan pemilik sawah tentang upah yang akan diterima. Kesepakatan harga biasanya ditentukan berdasarkan harga “umum” yang berlaku di desa lokasi tanam. Saat ini tiap anggota kelompok rata-rata mendapat bayaran lima puluh sampai enam puluh ribu rupiah perhari tanpa mendapat jatah makan siang. Ada kalanya juga bayaran yang diterima menjadi lebih sedikit dari harga umum dengan konsekuensi pemilik sawah menyediakan makan bagi mereka. “ Kalau umumnya di sini tandur dari pagi sampai sore dibayar lima belas ribu. Itu sudah disediakan sarapan” kata Wani. Bayaran yang didapat perempuan di kelompok tandur ini terbilang cukup bagi keluarga petani di pedesaan Pegunungan Kendeng Utara ini. Dengan upah lima belas sampai dua puluh ribu rupiah untuk kerja setengah hari, bayaran yang didapat perempuan anggota kelompok tandur ini hampir sama dengan bayaran yang didapat laki-laki buruh tani yang umumnya bekerja dari pagi hingga siang hari dengan bayaran 20 ribu. “Makin sering mendapat tawaran untuk tandur ya kami bisa lebih banyak menabung untuk biaya tandur di sawah sendiri,” kata Wani. Posisi perempuan dalam bangunan ekonomi petani di desa ini menjadi semakin strategis pada musim tanam seperti ini.

Keterkaitan perempuan dan sawah dapat dilihat dalam sejarah panjang system pertanian sawah di Indonesia. Ann Laura Stoler menjelaskan bagaimana pada masa kolonialisme di Indonesia, perempuan “dipaksa” untuk menjadi mandiri dengan mengandalkan sawah sebagai satu-satunya sumber daya yang dimiliki. Jauh sebelum kehadiran kolonialisme, laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang sama dalam system ekonomi rumah tangga. Pekerjaan dalam pertanian, industry rumah tangga menjadi ruang bersama mereka. Lalu hadirlah kolonialisme dengan konsep Tanam Paksa (1830-70) yang mengharuskan setiap petani menyewakan tanahnya untuk disewa oleh pemerintah colonial guna penanaman tanaman ekspor seperti gula. Selain gula, tanaman yang juga penting untuk ditanam adalah padi sebagai komoditas subsisten. Laki-laki semakin tercerabut dari ekonomi subsisten karena harus mengurus tebu dan pengolahannya.

Perempuan kemudian hadir dalam pertanian sebagai pemain kunci untuk mencukupi kebutuhan pangan rumah tangga petani. Berkurangnya akses akan tanah yang subur menjadikan intensifikasi tenaga kerja untuk menggarap sawah menjadi satu-satunya pilihan sehingga pada saat inilah anak-anak mulai dilibatkan dalam system pertanian. Dengan keterlibatan anak-anak ini pola pengasuhan yang dilakukan oleh perempuan menjadi lebih berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja akibat efek dari kebijakan pangan yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial1. Di sisi lain hal ini dapat dilihat sebagai kontekstualisasi konsep femininitas perempuan petani dalam melihat alam. Perempuan terlibat aktif dalam masa tanam, perawatan tanaman sampai pada tahap panen dengan ani-ani sebagai alat potong pada tradisional. Sampai pada masa ketika arus modernisasi pertanian dimulai yang berdampak semakin berkurangnya keterlibatan perempuan dalam system pertanian sawah.

Ekspektasi akan jumlah produksi tanaman pangan yang tidak lagi berorientasi subsisten mengawali kehadiran berbaga peralatan modern dan semi modern dalam siklus pertanian. Proyek revolusi hijau yang diusung oleh pemerintah Orde Baru mengharuskan semakin banyaknya teknologi pertanian yang digunakan untuk menggarap sawah. Paradigma maskulin dalam memandang pertanian sebagai wilayah komersial semakin menjadi-jadi dengan adanya benih yang membuat siklus tanam menjadi semakin cepat. Sampai pada tahapan panen, perempuan tak lagi memiliki posisi yang strategis seperti masa sebelumnya karena kini, seperti yang terlihat di Untuk pekerjaan menanen juga terlihat di kecamatan Sukolilo dan sekitarnya, pemilk sawah lebih memilih untuk mempekerjakan laki-laki. Kelompok ngedos (berasal dari sebutan alat pengerek padi) yang semuanya laki-laki dengan peralatan penegrek padi bermesin diesel menggantikan peran perempuan yang dulu mengandalkan ani-ani sebagai alat pemotong batang padi.

Modernisasi pertanian akibat ekspansi pasar yang dimotori oleh Negara menampakkan bagaimana maskulinitas pembangunan terus mempersempit ruang gerak keterlibatan perempuan dalam pertanian. Mekanisme pertanian yang terbangun sejak masa revolusi hijau ini berkutat pada peningkatan jumlah produksi, yang artinya menjadi mekanisme kerja yang lebih mengutamakan kekuatan yang menjadi domain laki-laki. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan juga menggambarkan bagaimana visi kekuatan dan kecepatan produksi menjadi bagian dari kehidupan pertanian modern di Indonesia. Walaupun dengan dalih mencukupi kebutuhan cadangan pangan, yang telah terjadi kini adalah pertanian tidak lagi nyaman bagi perempuan dengan semakin terpinggirkannya peran mereka menjadi sekedar pelengkap dari model pertanian yang berorientasi pasar.

Kekerasan terhadap alam yang secara instrinsik hadir dalam ideology pembangunan dapat juga dimaknai sebagai kekerasan terhadap perempuan yang sangat tergantung pada alam demi kelangsungan hidup mereka, keluarga maupun lingkungannya. Hal ini terlihat dengan jelas bagaimana posisi perempuan semakin tergeser dalam mekanisme panen padi. Jika dulu perempuan berperan aktif dengan mengandalkan ani-ani, maka kini laki-laki lah yang memegang banyak peran. Saat memanen, padi yang sudah diproses oleh alat dos kemudian dibuang di depan atau belakang mesin dos. Pada batang padi yang sudah dirontokkan ini masih terdapat bulir padi karena alat dos tradisional tidak mungkin merontokkan semuanya.

“Sampah” inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa perempuan yang ikut bergabung dalam kelompok dos ini untuk dirontokkan kembali. Kegiatan ini disebut dengan neteki dami (tekmi) atau ngasak. “Kalau beruntung ya dapat setengah karung kecil mas,” kata Mbah Tini menjelaskan. Tekmi atau ngasak menjadi kegiatan yang paling mungkin dilakukan oleh perempuan desa saat ini untuk terus terlibat dalam sebuah kegiatan panen.

Perempuan pedesaan yang tidak terlibat dalam ekonomi sawah umumnya memilih bidang lain untuk menambah pendapatan keluarga, misalnya membuka warung di rumah atau menjadi buruh pabrik. Seperti yang dilakukan oleh Sri, seorang warga desa Sukolilo, yang membuka warung di depan rumahnya. Warung yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga ini menjadi “pasar” kecil bagi tetangganya yang membutuhkan sabun, rokok, beras atau lainnya. “Ya lumayan lah mas untuk menambah biaya dapur,” katanya menjelaskan. Penjual eceran seperti Sri menempati posisi penting di pedesaan, apalagi jika pasar desa tidak digelar setiap hari. Jejaring perdagangan di tingkat desa dikuasai oleh toko-toko rumahan yang dikelola oleh perempuan.

Selain warung rumahan yang menjadi penyedia barang kebutuhan di pedesaan, penjual keliling atau biasa disebut bakul bronjong atau bakul ideran menempati celah yang tidak dijangkau warung rumahan. Penjual yang biasanya perempuan ini berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjual barang kebutuhan seperti sayuran, bumbu dan makanan kecil. Bakul bronjong biasa datang di rumah sekitar jam 9-11 siang, waktu dimana ibu-ibu sedang memikirkan menu apa yang akan disiapkan untuk keluarga pada hari itu. Modal yang relative lebih kecil dari warung rumahan membuat penjual ini memilih untuk menjual barang dengan resiko rugi yang lebih besar.

Selain bertani dan aktifitas dalam bidang retailing, pekerjaan menjadi buruh pabrik juga menjadi pilihan terbatas bagi perempuan di Kecamatan Sukolilo ini. Keberadaan beberapa pabrik pengolahan hasil pertanian seperti industry pengmasan kacang membuka peluang mereka untuk masuk dalam lingkaran kerja formal. Pekerja pabrikan biasa berangkat bekerja dalam dua shift siang dan malam dengan bayaran rata-rata empat ratus ribu sampai lima ratus ribu per bulan. Tiap pagi dan sore akan ada truk yang menjemput mereka ke pabrik yang berada di pinggiran kota Pati yang berjarak sekitar 30 kilometer dari tempat mereka tinggal. Rutinitas yang menempatkan mereka dalam lingkaran industry ini memunculkan bentuk negosiasi perempuan pabrikan dengan suami dalam hal pengasuhan anak. Seringkali laki-laki yang istrinya bekerja di pabrik harus meluangkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan kebutuhan anaknya, mulai dari sarapan hingga baju ganti yang akan dipakai. Gambaran tentang berbagai aktifitas ekonomi perempuan membuktikan bahwa mereka memiliki posisi strategis untuk menggerakkan sebuah roda ekonomi rumah tangga petani. Kajian Stoler, dengan menggambarkan relasi laki-laki dan perempuan ketika mengadakan slametan, mengabstraksikan bagaimana peran perempuan di dapur sebuah rumah menjadi basis kemampuan sebuah keluarga membangun jejaring dengan komunitas desa.

Akan tetapi peran strategis perempuan dalam hal ekonomi ini seringkali tidak diikuti dengan keterlibatan mereka secara aktif dalam wacana sosial politik di tingkat lokal. Sebut saja misalnya dalam pemilihan kepala desa yang hampir di semua desa didominasi oleh calon laki-laki sehingga perempuan hanya menjadi penonton dalam hiruk pikuk persoalan social politik desa-desa di Pati Selatan. Kondisi yang seakan mempertegas keterpinggiran perempuan Indonesia. Data dari UNDP pada tahun 2010 menyatakan bahwa hanya terdapat satu persen perempuan yang menduduki posisi eselon atas di pemerintahan, sedangkan di parlemen hanya terdapat 18 persen legislator perempuan.

Gerak Perempuan dalam Ancaman Industrialisasi

Kolonialisme dan modernisasi pertanian ala Orde Baru menjadi bagian awal kisah penyekatan perempuan dari konsep pengelolaan alam. Luasan lahan sawah di Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo yang merupakan areal sawah terluas di Kabupaten Pati hanya mampu menyisakan sedikit ruang bagi perempuan petani karena banyak pekerjaan telah diambil alih oleh laki-laki dan mesin-mesin pertanian. Kini sedikit ruang yang tersisa ini terancam akan hilang sama sekali dengan hadirnya program pembangunan yang tidak lagi berorientasi pada bidang pertanian, seperti rencana penambangan Pegunungan Kendeng Utara oleh PT. Semen Gresik Tbk. Lokasi yang telah masuk dalam data base pemerintah terkait dengan rencana pembangunan pabrik semen berada di empat kecamatan, yaitu Sukolilo, Kayen, Gabus dan Margorejo dan tigabelas desa denan total luas kebutuhan lahan 1.560 hektar. Rencananya laha seluas ini akan digunakan untuk penambangan batu kapur (900 hektar), lahan penambangan tanah liat (500 hektar), pabrik untuk produksi (75 hektar) dan infrastruktur transportasi (85 hektar)2.

Ironisnya area yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik semen ini merupakan daerah pertanian yang produktif dengan tanaman utama padi dan jagung. Dari 900 hektar lahan calon lokasi penambangan batu kapur, 85% merupakan lahan pertanian jagung baik di tanah hak milik masyarakat maupun lahan Perhutani KPH Pati yang dikelola masyarakat. Sedangkan 500 hektar lahan calon lokasi penambangan tanah liat dan 85 hektar calon lokasi pembangunan jalan merupakan sawah produktif dengan basis pertanian padi. Sementara itu, ada 144.503 jiwa masyarakat Kabupaten Pati yang berada di kawasan Pegunungan Kendeng yang selama ini bekerja pada sektor pertanian3.

Rencana yang digulirkan pada tahun 2005 ini menjadi ancaman bagi warga alam dan perempuan petani dalam dua hal. Pertama, fungsi Pegunungan Kendeng Utara sebagai area penyimpan air jelas akan mengalami perubahan4. Padahal selama ini suplai air dari Pegunungan Kapur ini menjadi satu-satunya pilihan bagi seluruh keluarga di area ini. Jika hal ini terjadi maka dapat dipastikan bahwa perempuan harus mengeluarkan tenaga lebih besar untuk mendapatkan air bersih bagi keperluan keluarganya. “Yang tahu urusan dapur kan perempuan. Kalau air tak lagi bisa mengalir, lalu bagaimana kami dapat memasak dan memenuhi kebutuhan lainnya yang memerlukan air?”, kata Gunarti menjelaskan. Perempuan menempati posisi terdepan sebagai kelompok rentan terhadap akibat buruk dari proyek penambangan skala besar ini. Persoalan kedua yang berkaitan dengan perempuan adalah semakin terbatasnya pilihan pekerjaan karena keberaadaan perusahaan skala besar tentu akan diikuti oleh pembangunan banyak infrastruktur seperti perumahan, kesehatan dan lain-lain yang akan mengkonversi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman.

Rencana penambangan ini menggambarkan bagaimana logika kapitalisme komersial bekerja dengan mereduksi ekosistem Pegunungan Kendeng Utara yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi sebatas area produksi. Rencana ini terus ditolak oleh sebagian warga Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo.

Selama beberapa tahun awal gerakan ini potensi perempuan tidak terlalu terlihat karena belum adanya institusionalisasi gerakan perempuan untuk terlibat dalam aksi penolakan pendirian pabrik semen. Munculnya inisiatif gerakan perempuan menemukan momentumnya ketika JM-PPK memainkan strategi untuk menarik dukungan pejabat public di tingkat Jawa Tengah yaitu Wakil Gubernur Rustriningsih. Lima belas orang perempuan dari beberapa desa di Kecamatan Sukolilo dan Kayen berkesempatan untuk bertemu dengan wakil gubernur untuk menyampaikan uneg-unegnya sebagai warga yang terancam akibat adanya rencana pembangunan pabrik semen. “Ya di sana seperti ngobrol biasa mas. Seperti teman yang sudah akrab. Bu Rustri hanya berpesan untuk terus melanjutkan perjuangan,” tutur Siti menceritakan pertemuan anggota Simbar Wareh dengan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih. Posisi penting perempuan pedesaan di Kecamatan Sukolilo ini disadari oleh Simbar Wareh sebagai sebuah kekuatan.

Gunarti dan Tatik, dua orang perempuan dari Sedulur Sikep, serta mengawali gerakan penyadaran lingkungan bagi perempuan di desa-desa di Kecamatan Sukolilo. Pertemuan perempua desa Kedumulyo di mushola punden Simbar Wareh pada awal tahun 2008 menjadi awal pergerakan perempuan Kendeng Utara. Dalam pertemuan ini Gunarti dan Tatik menceritakan tentang bagaimana rencana penambangan yang akan dilakukan oleh pabrik semen serta ancaman yang akan ditimbulkan. Ratusan warga desa Kedumulyo yang memadati mushola pada pertemuan itu cukup bersemangat. Tetapi pertemuan ini bukan tanpa halangan. Sehari setelah pertemuan berlangsung, tersiar kabar bahwa sedulur sikep, atau yang lebih dikenal dengan sebutan wong Samin, telah berani menginjak-injak mushola. “Aku baru pertama kali itu masuk ke mushola. Ya bagaimana lagi, kami juga tidak meminta pertemuannya diadakan di mushola. Wargalah yang mengundang kami” tutur Tatik5.

Sejak saat itu kelompok perempuan Simbar Wareh semakin tampak mewarnai berbagai aksi penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara. Salah satu yang menjadi kegiatan utama dari kelompok ini adalah mengunjungi kenalan di beberapa desa untuk menyampaikan informasi mengenai bahayanya penambangan pabrik semen. Untuk keperluan ini maka ditunjuk beberapa orang yang menjadi narasumber yang siap untuk mendatangi berbagai pertemuan warga, salah seorang anggota Simbar Wareh yang aktif mengunjungi desa-desa yang menjadi jaringan Simbar Wareh adalah Sriwati dan Gunarti. Sebelum melakukan kunjungan ini terlebih dulu disiapkan materi yang akan disampaikan kepada warga desa yang akan dituju misalnya tentang kerusakan alam yang akan terjadi, perkembangan proses AMDAL dan lain-lain. Penyampaian materi yang cukup kompleks menggunakan bahasa lokal yang santai dan komunikatif membuat semakin banyak ibu-ibu yang paham tentang persoalan yang mereka hadapi. Hasilnya semakin banyak perempuan petani yang tertarik untuk bergabung dengan gerakan yang dilakukan oleh Simbar Wareh. Misalnya Rasmi, perempuan sepuh yang selalu aktif dalam berbagai kegiatan Simbar Wareh ini, “Aku harus berjuang untuk anak cucuku,” kata Rasmi bersemangat.

Seiring dengan berkembangnya jaringan gerakan penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara, Simbar Wareh membangun wadah komunikasi berupa kegiatan simpan pinjam yang dinamakan dengan Lumbung Simbar Wareh. Kegiatan arisan yang selama ini dikenal di beberapa kampong menginspirasi pengurus Simbar Wareh untuk membentuk kelompok yang dihadapkan menjadi institusi keuangan mikro yang mampu menopang kemandirian keuangan anggota Simbar Wareh. Selama ini beberapa anggota Simbar Wareh harus berurusan dengan rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi mencapai 10% ketika mereka tak mampu mengakses pinjaman dari bank. Untuk memutus rantai ketergantungan ini Simbar Wareh memberikan pinjaman kepada anggotanya maksimal sebesar dua ratus ribu rupiah dengan bunga 4 persen dan dapat dilunasi secara mangangsur selama empat bulan. Untuk konteks kehidupan petani pedesaan, pinjaman ini sangat membantu terutama pada masa pembiayaan kegiatan di sawah atau untuk menutupi kebutuhan konsumsi sehari-hari mereka. Kegiatan ini mengingatkan kita pada semangat koperasi yang digagas oleh Hatta dalam menggerakkan roda perekonomian pribumi memanfaatkan semangat kolektivis yang hidup dalam masyarakat Jawa6.

Simbar Wareh berharap ke depan pinjaman yang diberikan ini tidak hanya digunakan untuk konsumsi tetapi juga dapat menjadi modal bagi anggotanya untuk mengembangkan usaha ekonomi kreatif warga Pegunungan Kendeng Utara. Sejak dibentuk pada akhir 2009, lumbung SImbar Wareh kini beranggotakan sekitar 200 orang dan terus bertambah seiring meluasnya jaringan di Kecamatan Kayen dan Tambakromo. Salah satu hal yang membuat berkembangnya jaringan adalah mudahnya syarat seseorang yang ingin masuk menjadi anggota. Warga yang ingin bergabung membayarkan iuran pokok sebesar Rp. 25.000,- yang dimasukkan sebagai modal Simbar Wareh untuk menggulirkan pinjaman. Lalu setiap bulannya anggota diminta hadir untuk pertemuan bulanan dengan membayar iuran sebesar Rp. 2.000,-. Selain bertemu untuk membayar iuran, pertemuan bulanan ini juga digunakan untuk menyebarkan informasi terbaru mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan isu pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara.

Seakan tak mengenal jeda, rencana pembangunan pabrik terus bergulir. Simbar Wareh bersama JM-PPK merespon situasi ini dengan menggelar aksi demonstrasi yang sering dilakukan di Kota Pati. “Kalau untuk urusan demo ya bagaimana caranya harus ada uang untuk iuran sewa truk. Kadang harus lembur kerja dulu untuk bisa membayar iuran”, cerita Subronto, anggota JM-PPK 7. Setiap kali berangkat aksi tiap orang membayar iuran sewa truk sebesar Rp. 5.000,-. Iuran ini tak begitu terasa berat ketika rejeki sedang lancar atau musim panen telah tiba. Tapi seringkali penghasilan yang didapatkan dari bekerja sebagai buruh tandur, pedagang di pasar, atau kuli bangunan tak selalu mencukupi untuk membiayai berbagai kegiatan yang hampir diadakan setiap bulan. Di satu sisi pendapatan dari hasil pertanian tidak mengalami peningkatan yang signifikan karena semakin meningkatnya resiko gagal panen. Sedangkan di sisi yang lain pengeluaran yang tidak terduga untuk untuk kegiatan aksi dan keperluan lainnya terus saja ada. Situasi ini membuat anggota dan pengurusi Simbar Wareh memutar otak untuk melakukan kegiatan penguatan ekonomi rumah tangga petani sekaligus memberikan pendidikan politik bagi perempuan pedesaan di Pegunungan Kendeng Utara. ‘Simbar Wareh ini dibentuk agar perempuan juga bisa aktif seperti pria yang tergabung dalam JM-PPK. Kalau bisa ya tidak memperberat ekonomi keluarga.” jelas Sriwati.

Noleh memburi (menengok ke belakang), begitulah yang dikatakan oleh almarhum Mbah Tarno, sesepuh Sedulur Sikep, kepada Gunarti suatu hari. Mbah Tarno mengatakan agar dalam menyikapi sesuatu harus pula melihat apa yang sudah ada sebelumnya. Konsep noleh memburi ini yang kemudian menginspirasi Simbar Wareh untuk menentukan bentuk kegiatan penguatan ekonomi rumah tangga yang akan dijalankan. Akhirnya pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu potensi yang dikelola lebih intensif. Selama ini pekarangan hanya dibiarkan seperti apa adanya tanpa mendapat perhatian yang lebih padahal pekerangan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi rumah tangga jika dikelola secara terpadu. Gerakan mengajak anggota untuk menanam cabai, sayur mayur, pepaya dan tanaman obat pun dijalankan sembari menjadikan Omah Kendeng sebagai lahan percobaan8.

Walaupun belum dapat sepenuhnya diandalkan, pemanfaatan pekarangan untuk kebutuhan nutrisi keluarga mulai menjadi pilihan kegiatan Simbar Wareh. Di tengah keterbatasan lahan persawahan yang dapat diakses oleh petani, kepemilikan pekarangan dapat menjadi alternative penopang kebutuhan nutrisi bagi keluarga dan memperkecil pengeluaran untuk keperluan dapur. Dalam catatan Stoler, kegiatan pengelolaan pekarangan ini memiliki arti penting karena selain memiliki keuntungan ekologis, pekarangan juga menjadi pengaman bagi ekonomi rumah tangga di pedesaan dalam menghadapi kemiskinan yang diakibatkan oleh kegagalan panen, kekeringan atau pun kemiskinan structural. Karena salah satu keunggulan tanaman pekarangan daripada tanaman sawah adalah pemilik pekarangan dapat menjual hasil pekarangan untuk menutupi kebutuhan hariannya ketika persediaan uang tunainya menipis. Misalnya dengan menjual dua tiga butir pepayanya untuk menutupi kebutuhan membeli beras atau memberikan sumbangan untuk kegiatan social 9.

Penopang bagi kemandirian ekonomi rumah tangga menjadi hal penting yang terus dikembangkan oleh Simbar Wareh. Salah satu urusan yang sangat menyita pendapatan selain untuk makanan adalah urusan kesehatan. Beragamnya penyakit ringan seprti batuk, masuk angin atau penyakit ringan lainnya cukup terasa pengaruhnya jika cuaca tidak menentu. Obat generic yang disediakan oleh pemerintah kalah pamor dengan obat-obat yang sering diiklankan di tv dan lebih dekat karena dijual di warung dengan harga yang tentunya lebih mahal. Melihat situasi ini, Simbar Wareh mengajak anggotanya untuk menanam tanaman obat dan mengolahnya menjadi jamu tradisional. Alhasil minuman seperti jahe, kunyit asam, temu temulawak yang sudah diolah menjadi bubuk menjadi persediaan untuk meredakan ganngguan kesehatan ringan. “Sangat bermanfaat bagi kami. Kalau rutin meminum jahe atau temulawak, kami dapat menghemat pengeluaran untuk obat.” Kata Purwati yang juga menanam tanaman obat di belakang rumahnya.

Selain untuk menjaga kesehatan, jamu hasil olahan Simbar Wareh ini juga digunakan sebagai media kampanye. Jika selama ini para pihak pendukung rencana pembangunan pabrik semen mengatakan bahwa Pegunungan Kendeng merupakan wilayah kering yang tidak produktif, maka Simbar Wareh ingin menyampaikan hal yang berbeda kepada public. Simbar Wareh berusaha menyampaikan bahwa Pegunungan Kendeng Utara merupakan area yang subur dan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan agroindustri. Salah satu contohnya adalah jamu tradisional yang diolah dari tanaman yang tumbuh di Pegunungan Kendeng Utara.

Setelah selama hampir lima empat tahun mengorganisir diri dan mewarnai pergerakan petani di Pati Selatan, anggota Simbar Wareh mengalami titik jenuh. “Kalau organisasinya sekarang lagi lesu mas. Banyak yang tidak datang saat rapat rutin bulana” kata Sri menjelaskan kondisi Simbar Wareh. Menurutnya salah satu hal yang menjadi penyebabnya adalah wilayah Sukolilo saat ini telah melewati masa kritis. Situasi yang telah “aman” ini mengakibatkan anggota Simbar Wareh di Kecamatan Sukolilo disibukkan kembali dengan urusan mengurus anak dan aktifitas lainnya. Pertukaran informasi tidak lagi terjadi dalam forum rapat bulanan tetapi berlangsung secara spontan dalam pertemuan ketika banyak anggota Simbar Wareh diundang dalam hajatan salah satu anggota. “Kalau ketemu di acara undangan seperti itu biasanya langsung ngumpul. Ngobrol soal informasi terbaru tentang pabrik semen,” imbuh Sri.

Titik jenuh yang dialami Simbar Wareh tak berlangsung lama ketika rencana pembangunan pabrik semen kembali mengincar Pegunungan Kendeng Utara. Kali ini PT Indocement merencanakan akan membangun pabrik semen dan melakukan penambangan di Kecamatan Kayen dan Tambakromo. Anggota Simbar Warehpun kembali memfokuskan kegiatannya untuk memperluas jaringan ke wilayah yang bersebelahan dengan Kecamatan Sukolilo itu. Kegiatan berkunjung secara rutin satu minggu sekali pun kembali diadakan ke beberapa desa yang salah seorang warganya dikenal oleh anggota Simbar Wareh. “Ya semampu kami menerangkan. Yang penting mereka paham dan ikut gerakan tolak semen” kata Sri. Pengalaman yang mereka dapatkan selama beberapa tahun terakhir menjadi inspirasi untuk membangkitkan kritisisme sesama warga Pegunungan Kendeng Utara dalam menyikapi rencana pembangunan pabrik semen.

Tak Sekedar Kanca wingking

Perempuan petani menjadi bagian dari gerakan social yang terjadi di Pegunungan Kendeng Utara. Posisi yang semula hanya menjadi pelengkap dalam rutinitas ekonomi dan politik bertransformasi menjadi satu elemen penting dalam menentukan corak gerakan yang sedang dibangun. Aksi, kampanye dan kegiatan advokasi lainnya dijalankan dengan cara masing-masing. Hasilnya sebuah gerakan perempuan yang menyadari pentingnya melindungi alam dari rencana eksploitasi oleh pabrik semen. Relasi yang saling melengkapi ini menjadi kekuatan penting bagi Simbar Wareh selama ini. Perempuan anggota Simbar Wareh tidak perlu lagi memikirkan urusan rumah tangga ketika mereka sedang melakukan kegiatan Simbar Wareh karena perannya telah digantikan oleh sang Suami. Seperti yang dialami oleh Sri, ketika ia harus sering pergi untuk mengadakan pertemuan Simbar Wareh di banyak desa peran pengasuhan anak diserahkan kepada suaminya. Begitupun juga sebaliknya ketika laki-laki sedang mengikuti pertemuan dan aksi yang diadakan JM-PPK, perempuanlah yang menjadi penanggungjawab ekonomi dan keamanan rumah. “Simbar Wareh tak bisa disamakan dengan organisasi lain. Biarlah Simbar Wareh berjalan dengan cara perempuan desa mengelola organisasi. Urusan rumah juga penting karena jika rumah tentram maka mereka yang ada di luar rumah juga akan tenang”, tutur Gunarti menjelaskan tentang konsep gerakan yang ingin dibangun.

Living Prakitri (ibu pertiwi yang hidup), sebuah sebutan dalam konsep India kuno yang digunakan oleh Vandana Shiva untuk menjelaskan konsep femninitas gerakan perempuan di India menjadi konsep yang cukup tepat untuk menggambarkan apa yang selama ini dilakukan oleh Simbar Wareh. Alih-alih melepaskan diri dari rutinitas domestik, mereka justru memanfaatkan hal ini untuk mempererat kohesi antar perempuan dalam isu publik. Pertukaran informasi antar komunitas perempuan lintas desa menjadi hal penting yang membesarkan sekaligus merawat gerakan perempuan petani ini. Situasi yang memungkinkan terbukanya peluang bagi rumah tangga petani untuk memetakan potensi yang selama ini mereka miliki untuk kemudian dapat melangsungkan kegiatan perekonomian yang berkelanjutan. Apa yang diperlihatkan oleh Simbar Wareh menjadi hal baru bagi gerakan perempuan petani dalam menyuarakan kritik mereka terhadap model pembangunan yang kapitalistik dan destruktif. (obi)


Beranda  |  Kategory: Edisi 23 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia