Perempuan Petani: Simbar Wareh dan Perjuangan Mengelola Perubahan

6 - Jan - 2012 | Ari Ujianto | 1 Comment »
Perempuan Petani: Simbar Wareh dan Perjuangan Mengelola Perubahan

Ada banyak permasalahan dihadapi oleh petani yang tidak hanya berfokus pada renik-renik penguasaan tanah yang selama ini telah menjadi kajian yang tak pernah putus. Tanah memang hal yang utama bagi petani, tetapi yang dihadapi bukan hanya itu. Pun demikian perjuangan untuk mengatasi permasalahan tersebut, sehingga beberapa kalangan menyebut gerakan mereka sebagai “new farmer movement”. Ada yang berjuang untuk menuntut subsidi yang lebih besar dalam pengadaan bibit dan pupuk, penambahan kredit, merespon harga gabah, pengelolaan air/irigasi dan sebagainya. Menurut Brass dkk (1994), gerakan tersebut tak lepas dari upaya merespon pembangunan yang kapitalistik di sektor pertanian.

Para petani merasa terjebak dalam pusaran pasar bebas sehingga perubahan dalam ekonomi, sosial dan politik semakin menyingkirkan mereka.

Setidaknya apa yang diutarakan di atas terjadi juga di Indonesia, khususnya di Pati seperti yang pernah dikaji oleh Chasan Ascholani (2006) tentang perjuangan Serikat Petani Pati (SPP). SPP merupakan gabungan dari puluhan kelompok tani yang ada di Pati, khususnya dari kecamatan Sukolilo, Jakenan, Tambakromo, Tlogowungu, Gembong, Pucakwangi, dan Margorejo. Antara tahun 2003 sampai 2004, SPP banyak melakukan protes terhadap pemerintah yang kebijakan pertaniannya merugikan dan menyingkirkan mereka, seperti penetapan harga beras dan pupuk. Banyak tuntutan yang dilakukan SPP akhirnya berhasil sehingga SPP menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Pati.

Ketika ada permasalahan baru muncul di depan mata, maka para petani Pati juga merespon walaupun tidak menggunakan lembaga atau organisasi yang sama tetapi sebagian aktivis SPP ikut di dalamnya. Permasalahan yang muncul akhir-akhir ini adalah rencana pendirian pabrik dan area penambangan PT.Semen Gresik, Tbk. yang bahan bakunya nanti diambil dari karst pegunungan Kendeng, Sukolilo, Pati. Para petani dan juga aktivis lainnya tersebut membuat organisasi baru yang dinamakan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) untuk menolak pendirian pabrik semen karena dikhawatirkan akan merusak mata air yang ada di Pegunungan Kendeng yang selama ini menjadi sumber pengairan bagi petani ketika musim kemarau tiba.

Yang menarik, tidak hanya laki-laki saja yang berjuang dalam penolakan pabrik semen tersebut. Para perempuan yang sebagian besar juga petani mendirikan semacam organisasi informal yang dinamakan Simbar Wareh, sebuah nama yang diambil dari nama mata air di pegunungungan Kendeng Utara. Mereka ikut aksi penghadangan kendaraan berat Semen Gresik yang akan memasuki kampung, melakukan negosiasi dengan pemerintah maupun petinggi pabrik semen dan juga menarik dukungan dari pelbagai kalangan. Selain melakukan advokasi, Simbar Wareh juga melakukan pengorganisasian bagi anggotanya. Pelbagai kegiatan dilakukan agar kohesi kelompok semakin kuat dan mereka semakin mandiri dalam mengatasi masalahnya.

Kekuatan perempuan dalam Simbar Wareh ini tidak bisa disepelekan, karena selain anggotanya yang besar juga mempunyai semangat dan militansi dalam berjuang serta kepedulian terhadap lingkungan. Seperti yang diutarakan salah satu tokohnya, Gunarti, “… biasane wong berjuang nek mung wong lanang thok ki biasane ra berhasil. Pikirku masalah lingkungan, masalah banyu, masalah bumi kuwi ya masalahe bareng. Apa maneh justru ibuk-ibuk luwih akeh nggunakke banyu tinimbang bapak-bapak. Tegese nek ning mondokan ki sing luwih akeh kan ibuk-ibuk, seka nggulawentah anak lan ngopeni omah.” (…Biasanya dalam berjuang kalau hanya laki-laki saja itu tidak berhasil. Pikir saya masalah lingkungan, masalah air, masalah bumi itu ya masalah bersama. Apalagi justru ibu-ibu yang lebih banyak menggunakan air daripada bapak-bapak. Artinya kalau di rumah kan lebih banyak ibu-ibu, dari memelihara anak sampai merawat rumah”)

Inilah perkembangan menarik dari petani perempuan di Pati, tidak hanya diranah domestik mereka “kuasa” tapi di ranah publik mereka juga tidak merasa asing lagi. Mereka memang masih nggulawentah anak lan ngopeni omah serta mengolah sawah, tetapi juga sigap menjadi barisan terdepan dalam menghadang kendaraan berat pabrik. Mereka rutin berkumpul setiap bulannya, menggulirkan sistem simpan-pinjam, membuat jamu dari herbal, melakukan pelatihan akupresur dan lain-lainnya, tetapi juga tidak lupa untuk terus membicarakan rencana pengusaha yang ingin tetap mendirikan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara. Kalau kemarin PT. Semen Gresik kini bertambah lagi dengan munculnya PT. Indocement yang ingin menghancurkan keindahan, kekayaan dan kearifan Pegunungan Kendeng Utara, termasuk ketentraman dan kearifan petaninya. Dengan demikian tantangan petani di Pati, khususnya Simbar Wareh tidak bisa dikatakan telah pungkas.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 23 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Perempuan Petani: Simbar Wareh dan Perjuangan Mengelola Perubahan”

  1. kartini_tegar says:

    JMPPK untuk menolak pendirian pabrik semen karena dikhawatirkan akan merusak mata air yang ada di Pegunungan Kendeng….. berarti belum tentu merusak maka diperlukan pemahaman dan komunikasi jangan dengan ajakan menolak.

    Untuk pemberdayaan masyarakat harus melibatkan pihak lain baru sesudah proses timbul kemandirian

    Kantor Utusan Khusu Presiden RI
    Program KUKPRI-MDGs http://mdgsindonesia.org/index.php/text/150/Program

    Selama tahun 2010, KUKPRI-MDGs berada pada fase perencanaan aksi. KUKPRI-MDGs memfokuskan pada kegiatan-kegiatan berikut ini:
    1.Empat belas lokakarya/ kunjungan kerja ke provinsi-provinsi dan Jakarta
    2.Tinjauan mengenai kerangka hukum untuk dukungan, undang-undang CSR, penggunaan data, dll
    3.Tinjauan mengenai praktek-praktek cerdas (best practices) yang dewasa ini digunakan secara global
    4.Pendekatan terhadap para pemimpin industri
    5.Pendekatan terhadap kementerian-kementerian dan lembaga donor multilateral untuk berkoordinasi

    Jangan sampai hanya hawa nafsu aja …. hanya dengan menolak apakah akan sejahtera ….

    Ingat perempuan adalah kelompok rentan …. pemberdayaan bukan berarti ikut demo cukup dikasih 50 rb barangkali .. itu berarti ikut dalam pembodohan ….. miris sekali ini

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia