Rembang petang di Makam Pangeran Samodra

6 - Jan - 2012 | Ingwuri Handayani | No Comments »
Rembang petang di Makam Pangeran Samodra

Sebenarnya, makam Pangeran Samodra tak berbeda dengan makam-makam keramat lainnya. Berada di atas bukit dan di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon besar. Tetapi, karena makam yang lebih terkenal dengan sebutan Gunung Kemukus itu memiliki mitologi yang kuat, membuat makam ini selalu menarik perhatian. Mitosnya, bagi yang ingin doanya terkabul, peziarah harus menggenapi ritusnya dengan berhubungan bukan dengan pasangan suami istrinya sebanyak tujuh kali dalam selapan (35 hari). Karena mitos itu pula, membuat tempat yang berada di ini selalu didatangi orang dengan bermacam alasan termasuk yang tak terkait dengan ziarah.

Penandanya, di sekitar makam Pangeran Samodra, juga terdapat banyak warung. Di sebelah Barat, warung bahkan berderet hingga ke atas. Deretan warung juga bisa ditemui di luar kompleks makam seperti di selatan dan sepanjang jalan menurun di utara. Warung itu, tampaknya menjadi penanda atas penggenapan mitos di atas. Hal itu tampak dari para perempuan yang ada di warung itu, bagaimana mereka menyapa orang yang lewat, juga sebagian terlihat dari dandanannya. “Di sini istilahnya semi, setengah komplek setengah tidak, semua itu karena sudah ngoyot, makanya kalau dibuang juga susah. Hampir 95 persen,” kata Darto, salah seorang warga setempat bapak yang sudah 25 tahun menjadi bagian dari warga Gunung Kemukus yang mengatakan bahwa Gunung Kemukus seperti semi lokalisasi.

Munculnya mitos ini, kabarnya berasal dari apa yang dulu pernah disabdakan oleh Pangeran Samodra saat hendak meninggal dulu, ”Siapa saja yang mengirim doa kepadaku, hujan tidak jadi hujan, panas tidak jadi panas, cintanya itu bagaimana seperti mendatangi ‘dhemenane’ (kekasihnya),” kata Darto (45) warga setempat. Kata dhemenan itulah yang kiranya kemudian dijadikan dasar untuk melakukan ritual dengan cara itu. Gayung pun bersambut, mitologi ini akhirnya ditangkap sebagai peluang mencari rejeki bagi sebagian orang seperti membuat warung yang bisa dipakai untuk ‘menggenapkan ritual’ usai berziarah.

Bahkan, di tiap Jum’at Pon dan malam Jum’at Kliwon, seperti ditulis di buku Obyek Wisata Ziarah Pangeran Samudra di Gunung Kemukus: antara Keyakinan dan Mitos, menjadi puncak peziarah datang. Tak kurang dari 10.000 orang mulai dari tengah malam hingga subuh berada di tempat ini. Di malam Jum’at Pon bulan suro (Muharram), peziarah bahkan mencapai hingga 15.000 orang. Sebelumnya, di hari pertama di bulan itu, diadakan ritual pencucian kelambu makam Pangeran Samodra, yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu atau Larab Langse. Setelah pencucian, malamnya digelar pentas wayang kulit semalam suntuk.

Buku ‘resmi’ terbitan pemda Sragen yang bisa dibeli di sekitar makam seharga 10 ribu itu juga menceritakan bahwa setiap hari, selalu saja ada pengunjung yang berziarah meskipun tak sebanyak di malam jum’at. Beberapa di antaranya, bahkan ada yang melakukan sesrih (pantangan), misalnya melakukan pati geni selama beberapa hari di sana.

Purwadi, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang menjadi informan juga bercerita, di malam Jum’at Pon, Gunung Kemukus seperti pasar malam. Saat ia ke sana dulu, ada orang yang tampaknya terkabul hajatnya sehingga ia menanggap wayang. Ia juga melihat bagaimana PSK mendekati para peziarah, “biasanya ia akan berkata begini, Yuk mas ngamar, semoga kabul, saya bantu doa,” katanya.

Gunung Kemukus sendiri adalah sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, Gunung Kemukus disebut gunung sari. Kata Darto, di Gunung Kemukus ada lima RT dengan penduduk hampir lima ratus KK. Kemukus sendiri masuk desa Mbarong, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Dari Sragen, Gunung Kemukus berjarak sekitar 34 KM ke arah utara.

Tetapi, banyak juga peziarah yang melalui Purwodadi yang jika melalui bus, naik bus arah Solo, lalu turun di Barong kemudian berjalan 300 meter menelusuri jalan yang tertulis ke Gunung Kemukus, lalu menyeberang dengan perahu. Warga, biasanya menyekolahkan anak-anaknya di SD Soka 4. Di dekat situ juga terdapat SMP di Kaliabang.

Dulunya, sebelum Waduk Kedung Ombo dibangun, setiap pengunjung yang ingin ke Gunung Kemukus melalui Barong bisa melewati jalan darat. Tetapi, semenjak mendapat luberan air dari Kedung Ombo, para peziarah harus naik perahu kalau melewati jalan itu. Salah seorang pemilik perahu mengatakan bahwa pada musim kemarau, jalan yang tertutup luberan air akan muncul lagi. Biasanya, dalam setahun empat bulan jalan itu muncul. Tetapi, sudah dua tahun terakhir, air luberan sudah tak surut.

Matahari hampir ke peraduan saat kami berada di seberang Gunung Kemukus. Kami berdiri di bekas cor-coran yang ke arah barat semakin menjorok lalu menghilang tertelan ‘waduk’ luberan waduk Kedungombo.

Dari jarak dua ratus meter, Gunung Kemukus itu terlihat seperti bukit yang mengerucut, yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Dari arah kanan, tampak lelaki dan perempuan sedang ngobrol. Di situ juga terlihat, beberapa rumah memasang papan bertuliskan: penitipan motor. Selain itu, juga terdapat tempat yang meski tak tertulis terdapat bangunan yang mirip tempat parkir. Beberapa meter dari situ, tampak beberapa perahu tersandar. Tak lama kemudian, orang membunyikan diesel perahu tempelnya. Ia lalu berlayar menuju ke bukit yang di situ dimakamkan Pangeran Samodra itu.

Dari Gunung Kemukus juga terdengar suara ramai orang bermain volley. Hanya terdengar, karena mata sudah mulai kalah oleh gelap yang memekat seiring matahari yang bersembunyi di belakang bukit itu. Sebenarnya kami was-was juga saat pemilik perahu itu menjalankan perahu tempelnya, soalnya, sudah tak ada yang berjaga di dermaga, khawatir ia adalah perahu terakhir yang menyeberang.

Tetapi, rasa-rasanya terlalu sayang melewatkan matahari yang hendak tenggelam yang bayangannya menjadi begitu indah terpantul dari luberan waduk. Dihiasi keramba, sketsa ombak dari perahu yang berjalan dan pantulan dari jingga sisa matahari menjadi terlalu sayang dilewatkan. Kami pun memilih memotret dahulu sebelum matahari benar-benar habis, meski resikonya tak bisa sampai ke seberang.

Saat memotret, Purwadi izin memarkirkan motornya di rumah penduduk. Untuk mendapatkan sudut lain, saya bergeser memotret dari arah dermaga kecil. Di salah satu perahu bercat biru, terdapat iklan berbunyi begini, “Sate Kuda Pak Surat” yang di bawahnya diimbuhi khasiat menyantap sate kuda yang bisa meningkatkan keperkasaan laki-laki. Saat Purwadi kembali, di sesela menunggu perahu, ia berkata, “Mas, tadi, waktu parkir motor ditanya sama bapaknya, mau cari apa sih mas ke sana? Ibunya malah yang menjawab, cari cewek tho ya, apalagi,” ceritanya.

Setiap saya bercerita hendak meliput soal Gunung Kemukus, beberapa orang sepertinya memandang dengan tatapan aneh. Satu dua juga kemudian menyeletuk. Tetapi, itulah yang tergambar dari bayangan mereka soal Gunung Kemukus. Tak banyak yang menanggapi itu dengan serius. Mungkin karena cerita-cerita yang selama ini mampir di kepala mereka.

Melihat dua orang berdiri di atas dermaga, perahu tempel yang sudah di seberang itu balik. Tampaknya ia tahu akan ada yang menyeberang. Sambil menunggu perahu, saya menghitung, ada 15 perahu yang terparkir. Setiap penyeberangan, dikenakan biaya Rp. 15.000. Dalam perjalanan, Purwadi bertanya, saat ia ke sana dulu tak harus berperahu, hanya melewati jembatan yang menurun. Oleh si pemilik perahu dijawab, “Sudah dua tahun jalan selalu tertutup air. Biasanya, dalam setahun, empat bulan para peziarah tak harus pakai perahu.”

Sebenarnya, ada jalan lain kalau tak ingin naik perahu, misalnya kalau dari Solo, setelah stasiun Gemolong, sampai di dusun Ngebuk, belok ke kiri. Sedangkan dari Purwodadi, sampai perempatan Barong ke arah selatan sedikit, sebelum palang pintu kereta api, di kecamatan Miri juga bisa sampai ke gunung kemukus.

Hari itu, Senin Kliwon 11 Juli 2011 bukan hari yang ramai. Perahu pun hanya satu yang beroperasi. Biasanya, demikian kata si pemilik perahu, tiap Juma’at Pon sama Jum’at Kliwon, ribuan peziarah akan menggunakan jasa perahu. Ia juga mengatakan bahwa 15 perahu semua beroperasi sampai Subuh.

Setiba di seberang, dari bangunan berbentuk seperti pos, kami didekati oleh pemuda yang memberikan karcis masuk, saya pun harus mengeluarkan uang Rp.6000 untuk dua karcis. Lalu, dalam gelap kami berjalan menaiki tangga menuju makam Pangeran Samodra. Dari arah jalan itu juga terlihat di sisi kanan kiri jalan naik terdapat warung-warung yang di depannya ada satu duao orang perempuan.

Hampir pukul setengah tujuh saat itu. Saya mengajak Purwadi mencari mushalla. Sesampi persis di batas antara makam dengan warung, berbelok ke kiri saya mendapai mushalla yang tak ada orangnya. Tempat wudhu itupun hanya dari tong biru bekas ikan. Di bawahnya, dilubangi untuk wudhu dan disumpal dengan bekas sandal jepit yang diiris.

Tampaknya, aktivitas ini mengundang pengurus mushalla yang berjarak 50 meter dari makam Pangeran Samodra. Lelaki bernama Pak Darto itu, menyapa seusai kami shalat. Ia memakai baju koko hitam, berpeci dan memakai cincin akik besar. Sambil menghembuskan asap, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan kami seperti sejarah Pangeran Samodra.

Rumahnya berada di pojok 10 meter dari mushalla. Ia, memiliki beberapa usaha penyewaan kamar mandi yang ia dapatkan dari lelang dari pemda sragen. Gunung Kemukus itu memang menjadi aset daerah. Dikelola sejak 1997, Pemda selalu membuka lelang untuk bagi yang ingin mengurus makam. Lelang mulai dari karcis masuk hingga pengelolaan makam. Tahun 2011, lelang mencapai 260 juta yang disonggo bareng-bareng. Pak Darto sendiri, memenangkan lelang untuk menyewakan kamar mandi di depan mushalla itu. Nilainya, 4,5 juta setahun.

Kabarnya, Pangeran Samodra adalah utusan dari Sunan Kalijaga, untuk menyebarkan ajaran agama Islam mulai dari utara hingga selatan. Ketika sudah selesai waktunya, dia mau balik ke utara, tetapi, jiwa raganya sudah tidak kuat. Sehingga meninggal di tempat yang akhirnya di jadikan makam di Gunung Kemukus itu.

Ia menceritakan bahwa soal sejarah Pangeran Samodra dari Mbah Harjo Pangat, juru kunci pertama. Mbah Harjo sendiri sudah tak jadi juru kunci. Suatu ketika, ia kisah, ada orang yang menginginkan posisi itu. Mbah Harjo pun mengalah, bahkan ia menyerahkan posisi itu.

Darto sendiri berasal dari Wirosari, Grobogan. Ia sudah seperempat abad tinggal di Gunung Kemukus. Ia memilih tinggal di situ karena saat melakukan lelaku ‘ritual‘ dulu, suatu ketika bathinnya seperti mendapat petunjuk, supaya ia berziarah dengan berjalan ke arah selatan barat. “Saya tidak mengikuti arus dari pikiran, tetapi dari petunjuk dari Allah swt,” katanya. Di usia 20 tahun itulah, ia merasa mendapatkan tempat yang cocok: Gunung Kemukus.

Ia ke Gunung Kemukus juga ingin mengubah kehidupannya. “Siapa tahu gusti Allah menentukan hidup di sini, menjadi manusia yang normal ya menjalani saja,” katanya. Kini, ia memiliki anak tiga dengan dua cucu. Istrinya sendiri orang Danyang, kabupaten Grobogan. Ia juga merasa sudah cocok tinggal di gunung kemukus. Ia pun bersyukur karena bisa mengurus semua anak-anaknya. Ia sendiri berharap bisa mendapatkan berkah dari Pangeran Samodra.

Selesai wawancara, kami pamit. Selang beberapa saat, ketika kami sampai di depan pos persis di jalan menuju makam, terdengar suara Pak Darto menjadi muadzin karena sudah masuk waktu Isya’. Persis di perempatan itu, di samping perempatan terdapat papan pengumuman, “tempat ziarah dan rekreasi, bukan berbuat yag lain (judi, miras, asusila) yang di pojoknya tertulis Tim Pekat Kabupaten Sragen. Di sebelahnya, sekitar 10 meter ke arah barat, terdapat bangunan yang di dalamnya berisi gamelan. Gamelan itu, tampak tak terawat. Sepertinya, gamelan tak setiap hari dipakai. Purwadi mengatakan bahwa gamelan itu hanya dipakai kalau ada orang yang terkabul doanya. Tak semua, menanggap wayang, ada juga yang hanya membuat selamatan yang biasanya ugo rampenya sudah disiapkan juru kunci.

Di sebelah timur di bawah pohon-pohon besar, terdapat beberapa cungkup yang dipagari. Kami kemudian berjalan ke atas menuju makam Pangeran Samodra. Sambil berjalan, saya mewawancarai Purwadi. Ia bercerita, di bawah pohon-pohon besar di kiri kanan jalan itu, biasanya para peziarah duduk-duduk beristirahat. Di saat itu pula, biasanya PSK menawari para peziarah.

Sampai di depan makam, seorang beretnis China menghentikan langkah kami. Ia meminta kami membeli bunga sebagai syarat. Ia juga meminta kami meletakkan uang di atas bunga itu. Di dalam, seorang juru kunci laki-laki berbaju batik coklat, bercelana hitam, berpeci dan memakai jam tangan itu telah menunggu kami. Kami pun bersimpuh di depannya. Ia kemudian bertanya apa tujuan kami. Kemudian ia membakar dupa dan meminta bunga yang kami pegang. Lalu, ia memutar-mutarkan bunga di atas dupa sambil menyebut nama dan tujuan kami, bergantian. Setelah itu, ia mengembalikan bunga sambil berkata, “Nanti sebarkan bunga, kemudian ambil sedikit untuk dibawa pulang. Semoga cita-citanya berhasil,” katanya.

Kami pun kemudian masuk ke ruang utama. Di depan saya, terhambar dua nisan besar yang di atasnya, masih tersisa bunga-bunga dari para peziarah sebelumnya. Sambil memperhatikan apa yang ada di depan saya, sesekali saya melihat Purwadi yang tampak khusu’ membaca tawasul. Selesai ia selesai, kami pun keluar dari ruangan itu. Saya hendak meminta waktu wawancara dan izin memotret dari juru kunci, apalagi saya melihat pemandangan yang menggelitik, tergantung di salah satu tiang utama, digantung kalender besar bergambar bir bintang. Ini menarik karena berada di makam yang disucikan. Saat menunggu karena waktu itu ia sedang shalat isya’. Selesai shalat, saya pun mengajukan izin, tetapi ditolak oleh si bapak, ia juga tampaknya tak ingin diusik, juru kunci mengatakan memotret di ruangan juga justru akan membuat fotonya nanti rusak. Ia pun mempersilahkan memotret dari luar bangunan.

Ketika kami keluar. Kami sudah ditunggu oleh bapak yang beretnis China tadi. Ia mempersilahkan kami untuk memasukkan duit ke kotak yang sudah tersedia di samping pintu pagar. Tampaknya, dibanding ke makam lain, ke tempat ini harus menyiapkan lebih banyak duit. Sambil memotret, sesekali saya bertanya ke bapak beretnis China itu. Ia bercerita bahwa beberapa waktu yang lalu, ada mahasiswa-mahasiswa UNS yang juga datang ke situ. Saya juga sempat bertanya tentang sendang Ontrowulan, yang katanya dipakai oleh Nyai Ontrowulan saat hendak ketemu Pangeran Samodra.

Kami pun kemudian menuju sendang ontrowulan. Jarak dari makam, mungkin sekitar 150 meter. Dari makam, turun ke arah timur kemudian belok ke kiri, mengikuti jalan sampai di sebuah pertigaan yang tertulis sendang Ontrowulan melewati rumah-rumah sampai lah di sendang itu. Sendang itu tak besar, diameternya cuma satu meter, agak susah juga mengambil air di dalamnya karena berjarak sekitar satu setengah meter dari bibir tanah. Ia juga berada persis di depan rumah orang-orang kampung.

Tampaknya, ia memang tak sekeramat makam pangeran samudra, tak hanya dari sisi materialnya, juru kuncinya pun tampaknya juga tak menunjukkan kebersetujuan terhadap orang-orang yang nyekar ke situ. Ia bahkan cerita bahwa dulunya, sendang itu hanya belik (sumber kecil) yang dipakai oleh orang-orang dari sawah yang haus untuk diambil sebagai air minum, yang kemudian karena didatangi orang, kemudian dibenahi, lalu dibuatkan rumah-rumahan. Tetapi, meski begitu ia juga tampak-nya tak ingin mengecewakan orang-orang yang datang ke sendang itu.

Selesai dari Sendang Ontrowulan, kami berjalan hendak pulang. Tetapi, di tengah jalan, Purwadi punya ide bagaimana menemui orang yang selama ini menjadi penggenap ritual. Sebelum pertigaan hendak ke perahu, kami melihat sebuah warung kecil yang terselip di antara rumah-rumah yang menghadap ke barat. Warung itu sendirian menghadap ke timur. Kalau mau masuk ke warung, orang harus menaiki tangga. Kami pun masuk. Warung ukuran tiga kali tiga meter itu tampaknya memang tak menyediakan makanan macam gorengan. Di atas meja, terdapat minuman-minuman berkarbonansi macam fanta atau coca-cola.

Pemilik warung, perempuan paruh baya itu berrambut keriting, berusia di atas empat puluh, bertubuh gemuk, tinggi mungkin sekitar 150 cm, memakai kaos coklat bercelana piyama. Ia menyambut kami dengan senyum-senyum. Kami pun memesan es the. Tetapi, yang ia sediakan hanyalah es dengan teh dari botol. Sambil menyerahkan teh, ia berkata, mau menggenapkan ritualnya mas? Saat saya tanya balik, ritual apa? Dia balik nanya, seperti nggak tahu saja.

Lalu, saya pun bercerita bahwa saya ini hendak menuliskan soal makam pangeran samudra. “Wartawan mas?” Seperti kaget, perempuan itu tak pernah lagi mau menengok. Ia lebih banyak menutup mukanya dengan rambut. Tampaknya ia paranoid dengan profesi itu. Saya pun bertanya, kenapa takut dengan wartawan? Ia bercerita bahwa ia khawatir kalau dishooting dengan kamera tersembunyi seperti di televisi-televisi. Saya katakan bahwa menggunakan kamera tersembunyi itu melanggar etika profesi. Dan saya katakan juga bahwa untuk memiliki kamera kecil yang bisa dipakai untuk menangkap gambar secara sembunyi-sembunyi, mahal harganya. Toh meski begitu, agak susah juga meyakinkannya sehingga, sampai akhir pertemuan, ia tak mau menyebut namanya. Saya juga katakan bahwa saya juga membawa kamera tetapi hanya untuk memotret dan itupun kalau diizinkan. Tetapi, tampaknya ia paranoid, sehingga ia pun tak mau menyebut namanya, meski nama samaran. Tetapi, ia banyak bercerita tentang kisah hidupnya.

Suasana agak cair saat saya tanya, “kok gambar presidennya tidak ganti?” di dinding, gambarnya Megawati soekarno Putri dengan di bawahnya tertulis presiden RI dan di sebehlanya Hamzah Has, wakil presiden RI. Ia tertawa sambil berkata, “Yang punya rumah nggak mau fotonya diganti,” katanya. Di bawah gambar terdapat meja yang di atasnya terdapat pengeras terus CD. Dibawahnya, terdapat kepingan cakram yang di gambar depannya terdapat sampul Phil Chollins di bawahnya terdapat salon

Bahwa ia berasal dari Semarang. Di keluarganya, ia mengaku bahwa ia bekerja sebagai penjahit di Solo. Dulu, begitu ia cerita, pernah bekerja di tempat yang nyaman di Semarang. Tetapi karena satu sebab, ia kemudian dikeluarkan dari perusahaannya.

Ia sendiri bukan orang yang rajin berziarah ke makam Pangeran Samodra. Hanya saat-saat tertentu saja ia ziarah, misalnya saat batinnya tidak tenang. Ia juga bercerita bahwa suatu ketika, ada orang yang hendak menyantetnya. Di depan pintu warungnya, pagi-pagi ia menemukan buntalan bunga yang diikat benang dan ada jarumnya di situ. Ia kemudian buang buntalan bunga itu dan kemudian shalat dan meminta kepada Allah supaya terhindar dari serangan itu. “Saya juga menyimpang mukena di dalam, “katanya.

Tampaknya, tak mudah juga hidup dari cara menggaet peziarah di situ. Ia pun harus bersaing dengan yang lebih muda, belum lagi kalau ada orang iseng yang datang ke situ sambil mabok. Tetapi, tujuh tahun di situ, tampaknya telah membuat ia lebih hati-hati. Ia, suatu ketika juga memberi saran bagi yang masih muda untuk hati-hati menggunakan uang supaya tak terjebak oleh rentenir. “Kalau begitu-begitu kan biasanya meski nanti ia pergi kemana akan balik lagi, mas,” katanya.

Dalam buku versi pemda, Pangeran Samodra dikisahkan adalah putra Raja Majapahit terakhir dari ibu selir. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samodra tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain. Bahkan bersama ibunya ikut diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak.

Selama berada di Demak, Pangeran Samodra mendapat bimbingan ilmu agama dari Sunan Kalijaga. Ketika dirasa cukup dan usianya telah semakin dewasa maka atas petunjuk dari Sultan Demak melalui Sunan Kalijaga, Pangeran Samodra diperintahkan untuk berguru tentang agama Islam kepada Kyai Ageng Gugur dari Desa Pandan Gugur di lereng Gunung Lawu sekaligus mengemban misi suci untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah tercerai berai. Nama ibunya Raden Ayu Ontrowulan. Ibunya kalau mau menemui Pangeran Samudra, harus mandi dulu untuk membersihkan diri. Kemudian, selesai mandi, kondenya di kibaskan maka di atas itu jadi pohon nogosari.

Bagi peziarah sendiri, ada beberapa prasyarat yang harus dilalui terutama bersuci. Karena itu pula, Pak Darto berani menyewa tempat pemandian dari lelang yang diselenggarakan Pemda, “Bagi yang hendak berziarah harus mensucikan diri seperti mandi yang bersih, baru kemudian sowan, meminta apa yang diminta, sebisanya mengirimkan doa, sebisanya, dari agamanya masing-masing,” paparnya.

Ia juga kembali menekankan bahwa ziarah ke makam Pangeran Samodra itu seperti ziarah ke makam lainnya. Adapun kalau ada yang kemudian berbuat lain, itu karena dia sendiri. ia juga mengatakan bahwa pengertian dhemenan yang disalahartikan, karena sudah terlanjut jadi mitos, sehingga menjadi salah kaprah. []


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@srinthil.org
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia