Perempuan-perempuan di Makam Gus Dur

6 - Jan - 2012 | Heru Prasetya | 1 Comment »
Perempuan-perempuan di Makam Gus Dur

Apa yang membedakannya dengan pasar tiban lainnya adalah di sini banyak dijual hal-hal yang berkaitan dengan Gus Dur. Semua serba Gus Dur

Dengan judul di atas saya tidak sedang membangun asosisasi tentang betapa perempuan adalah sesuatu yang khas dan mencolok mata di seputar makam Gus Dur. Juga bukan sedang mengarahkan persepsi bahwa ziarah makam Gus Dur lebih banyak diminati perempuan ketimbang laki-laki. Judul itu hanya saya maksudkan bahwa tulisan sederhana ini akan bercerita tentang sejumlah hal yang dilakukan oleh para perempuan di sekitar makam Gus Dur Apakah cerita itu bisa memberitahu kita tentang kekhasan perempuan dalam konteks ziarah wali? Sebelum sampai ke situ, mari kita lihat dulu makam Gus Dur dalam konteks ziarah wali di nusantara.

Ziarah ke makam Gus Dur tidak bisa lepas dari tradisi besar ziarah ke makam-makam para wali atau orang-orang yang dianggap suci. Popularitas Gus Dur, sebagai mantan ketua NU dan mantan presiden, tentu memberi sumbangan pada besarnya minat orang pada makam dirinya. Bahkan mereka yang bukan dari kalangan nahdliyin juga tidak segan untuk menziarahi makamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang meyakini Gus Dur adalah seorang wali yang keberkahannya meluber hingga wafatnya. Sehingga tidak sedikit yang menjadikan kunjungan ke makam Gus Dur menjadi satu bagian dari rangkaian ziarah ke makam-makam wali lainnya.

Ziarah ke makam para wali adalah salah satu tradisi penting yang bisa dijumpai di banyak tempat di dunia. Ziarah, terutama ziarah ke makam orang-orang suci, termasuk salah satu persoalan yang diperdebatkan oleh ahli-ahli teologi Islam hampir sepanjang sejarah Islam itu sendiri. Sebagian menganggap ziarah ke makam wali adalah perbuatan bid’ah yang menyimpang dari pokok ajaran Islam, sebagian lain menganggapnya sah sebagaai bagian dari ibadah yang diajarkan Nabi. Bagi kelompok yang terakhir disebut, ziarah adalah bagian integral dari tradisi Islam. Dalam tradisi Islam, ziarah ke makam wali bersifat pelengkap dari ziarah utama yang memang dititahkan kanon islam, yakni ziarah haji ke Mekah setiap satu tahun. Bagaimanapun, seperti lepas begitu saja dari perdebatan-perdebatan teologis itu, ziarah ke makam wali tetap mendapat tempat di kalangan umat islam di seluruh penjuru dunia Islam. Makam-makam nabi pra-Muhammad, sahabat-sahabat Nabi Muhammad, wali-wali abad pertengahan, hingga makam-makam para penyebar agama Islam di suatu tempat, selalu ramai diziarahi umat. Di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim, hampir selalu bisa dijumpai makam orang suci yang menjadi tujuaan diziarahi banyak orang.

Asal-usul ziarah dalam Islam sendiri belum terungkap secara jelas, namun yang jelas praktik ini menyerupai tradisi pra-Islam seperti Yahudi dan Kristen. Ziarah Haji sendiri merupakan praktik yang terjadi sebelum Muhammad. Ziarah ke tempat-tempat suci pra-Islam bisa begitu mudah diterima karena tokoh-tokoh sucinya juga diakui dalam kitab suci orang Islam. Peta relijius ini berkembang seiring dengan menyebarnya agama Islam ke wilayaah-wilayah baru.

Di tempat-tempat baru ini, ada kebutuhuhan untuk menciptakan situs suci sebagai ajang supaya ajaran baru ini terasa membumi karena jaraknya yang jauh dari tempat suci utama yang terasa semakin mistis. Karena ziarah haji ke Mekah menjadi semakin jauh dan sulit dilaksanakan, ada kebutuhan untuk menghubungkan situs suci utama itu ke situs-situs lokal yang lebih mudah terjangkau. Makam-makam wali atau guru tarekat kemudian menjadi tempat untuk menjangkau tempat suci utama yang tak terjangkau itu. Maka menjadi penting bahwa sang wali yang dimakamkan bisa dihubungkan dengan kutub tersebut melalui silsilah yang menghubungkannya dengan Nabi Muhammad di Mekah. Dengan semakin membentangnya pengaruh Islam maka semakin lebar pula peta relijius yang saling terhubung dengan Mekah sebagai pusatnya itu. Dalam peta relijius yang disambungkan oleh cerita kesucian wali, tarekat sufi, dan silsilah menuju nabi tersusunlah satu tradisi ziarah lokal yang sangat beragam.1

Keragaman praktik ziarah ini diyakini oleh sejumlah kalangan sebagai manifestasi dari kebebasan. Jika praktik peribadatan di masjid mencerminkan keseragaman dan kesatuan, ibadah melalui makam wali bisa sangat beragam bergantung pada sang wali yang dimakamkan dan lokalitas tempat sang wali dimakamkan. Praktik ziarah di berbagai negeri selalu mempunyai kekhasan lokal yang tidak sama satu sama lain. Ketika berada pada makam wali, orang bisa melakukan sesuatu yang jauh dari ortodoksi dan bertingkkah di luar pakem ajaran agamanya, termasuk melakukan ritus kuno yang mengakar dalam tradisi lokal. Di Makam Gus Dur, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa orang bisa melakukan tindakan seperti mengambil tanah dari pusara atau melempar uang ke atas makam. Sesuatu yang secara meyakinkan tidak akan bisa ditemui dalam ortodoksi islam. Ziarah wali, dengan demikian, mencerminkan keragaman dalam tubuh umat islam sendiri.2

Dalam khasanah kepercayaan di nusantara, ziarah ke makam suci atau keramat sudah cukup mengakar bahkan sejak sebelum kedatangan Islam. Bahkan hingga kini sejumlah situs keramat pra-islam masih banyak diziarahi orang. Situs-situs seperti Gunung Kawi, petilasan Airlangga, petilasan Brawijaya, dan semacamnya masih banyak diziarahi orang. Sementara itu, Islam yang berkembang di nusantara adalah islam bertradisi sufistik yang mempunyai kecenderungan sangat kuat pada ziarah ke makam orang suci.3 Dengan demikian, hadirnya Islam di nusantara, selain membawa tradisi dan keyakinan baru, juga menambahi peta relijius baru ketika muncul situs-situs yang dikaitkan dengan para penganjur Islam awal. Di Jawa, misalnya, dikenal makam para walisongo seperti Sunan Gunungjati, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, dan lain-lain. Di luar itu bertebaran pula tempat kunjungan ziarah seperti makam para kiai ternama.

Situs-situs dalam peta ziarah nusantara itu kini ditambah lagi dengan lahirnya lokasi ziarah baru, yakni makam Gus Dur. Kehidupan dan pribadi Gus Dur yang penuh warna, hingga orang dari berbagai latar belakang punya ketakjuban tersendiri kepadanya, menjadikan makamnya ramai dikunjungi orang dari yang sekadar hendak menundukkan kepala untuk mengenangnya hingga mereka yang berharap diurapi dengan keberkahan.

Sejak Gus Dur dimakamkan, kompleks pemakaman di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Tebuireng mendadak jauh lebih ramai dikunjungi peziarah daripada biasanya. Sebelumnya, kompleks makam ini memang juga telah menjadi tujuan ziarah, terutama karena di sini juga terdapat makam KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama terkemuka di abad 20 dan merupakan salah satu pendiri NU. Namun peziarah yang datang masih terbatas dan tidak sampai menerbitkan keramaian. Keriuhan dan keramaian baru terjadi setelah datangnya gelombang peziarah yang bertubi-tubi mendatangi pemakaman ini sejak Gus Dur dimakamkan di tempat ini. Dari pagi hari hingga menjelang pagi lagi, peziarah terus berdatangan seperti tidak pernah putus. Mereka datang berombongan atau sendiri-sendiri. Di hari-hari tertentu seperti hari libur, hari minggu, atau hari kamis legi (hari ketika Gus Dur wafat), peziarah datang lebih banyak lagi. Rombongan ziarah tidak hanya datang dari wilayah sekitar Jombang, namun juga dari luar Jawa Timur bahkan luar Jawa. Mereka yang datang berombongan biasanya memasukkan agenda ziarah ke makam Gus Dur dalam rencana ziarah ke makam sejumlah Wali di Jawa Timur. Di wilayah Jawa Timur, makam yang kerap dikunjungi adalah makam Sunan Gresik di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, dan Sunan Ampel di Surabaya.4 Kini Makam Gus Dur menjadi salah satu agenda dalam peta ziarah ini.

Ketenaran makam Gus Dur tidak bisa dilepaskan dari sosok Gus Dur ketika masih hidup. Selain pernah menjadi ketua NU –yang dengan demikian mempunyai jaringan sangat kuat di kalangan kiai dan pesantren—dan Presiden—yang dengan demikian dikenal semua kalangan—Gus Dur oleh sebagian kalangan juga dianggap sebagai wali. Sebuah maqom atau posisi khusus yang hanya bisa dicapai oleh orang-orang tertentu, sebuah posisi yang dalam keyakinan islam merupakan posisi terhormat setelah nabi. Para wali atau kekasih Tuhan biasanya mempunyai kesadaran yang melebihi orang kebanyakan, dengan demikian pengetahuan dan ilmu para wali seperti nyaris tak tergapai oleh awam. Sikap Gus Dur yang seringkali nyleneh di luar kebiasaan sebagai ulama justru mempertegas pandangan sebagian orang bahwa dirinya adalah wali: pengetahuan dan sikapnya tak tergapai nalar awam. Makam Gus Dur, dengan demikian, menjadi muara dari sekian banyak hal: makam mantan Presiden, ulama, sekaligus wali.

Makam Gus Dur: Situs Baru Dalam Peta Ziarah Wali

Pondok Pesantren Tebuireng terletak di sebelah selatan kota Jombang, Jawa Timur. Sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Jombang. Jalan menuju pondok termasuk jalan besar karena merupakan jalan yang menghubungkan kota Jombang dengan Malang. Pesantren Tebuireng sendiri termasuk salah pesantren tua di Jombang atau bahkan di Pulau Jawa. Didirikan sekitar tahun 1899 oleh KH Hasyim Asyari, Pesantren ini telah berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan islam di Indonesia. Ribuan santri kini menimba ilmu keislaman di tempat ini.

Kompleks pemakaman yang saya sebut di atas tadi berada di dalam kawasan pondok pesantren ini. Sebagai sebuah makam, kompleks makam ini tampak seperti makam-makam biasa, tidak seperti makam para wali dan makam keramat lain yang penuh dengan ornamen seperti batu nisan berselimutkan kain atau yang semacamnya. Hal yang membedakan dengan pemakaman lain adalah mengenai siapa yang dimakamkan di tempat ini. Ada sekitar 60 makam di tempat itu, semuanya adalah bagian dari keluarga KH Hasyim Asy’ari seperti istri, anak, cucu, dan para menantunya. Jadi tidak mengherankan jika sebelum ada makam Gus Dur kompleks makam ini juga telah menjadi tujuan ziarah terutama oleh warga NU dan mereka yang pernah menjadi murid keluarga Hasyim Asy’ari. Di kompleks makam ini pula terdapat makam KH Wahid Hasyim, menteri agama pertama Republik Indonesia yang juga ayah Gus Dur.

Di depan peristirahatan terakhir para tokoh bangsa tersebut hanya terdapat semacam pendopo kecil sebagai tempat bagi para peziarah untuk berdoa. Pendopo kecil ini hanya bisa manampung sekitar 60 orang. Sangat tidak mencukupi jika dibanding gelombang peziarah yang datang belakangan ini. Para peziarah meluber sampai ke belakang dan samping pendopo tersebut. Saat ini area di belakang pendopo hanya beratapkan tenda, sejumlah peziarah berdoa di tempat itu saat pendopo kecil itu penuh.

Juga, berbeda dengan makam-makam yang sering diziarahi banyak orang seperti makam wali atau makam kertamat lain di pulau Jawa, makam ini tidak disertai adanya kuncen atau juru kunci. Jika di sejumlah makam keramat kita biasa menemukan orang-orang khusus yang melayani para peziarah—kadang bahkan terasa seperti karyawan profesional—itu tidak ditemukan di makam Gus Dur, ini barangkali karena kebaruan makam Gus Dur yang membuat orang bisa merasa dekat dengan Gus Dur tanpa harus diperantarai anggota keluarganya, misalnya. Bagaimanapun, salah satu yang khas dari makam Gus Dur adalah kebaruannya. Dibanding makam-makam lain yang menjadi tujuan para peziarah, makam Gus Dur ini bisa dikatakan adalah makam yang paling baru.

Sebelum ada begitu banyak peziarah, jalan masuk menuju makam adalah melalui gerbang utama pondok, namun belakangan seiring dengan gelombang peziarah yang begitu banyak, para peziarah hanya boleh melalui pintu samping. Waktu ziarah pun diatur sedemikian rupa supaya tidak mengganggu aktivitas santri—sekali lagi, kompleks makam berada di tengah-tengah pondok pesantren. Makam ditutup pada jam 5-8 malam dan kembali ditutup pada saat azan subuh hingga jam 7 pagi. Di luar itu, para peziarah bebas keluar masuk kompleks makam.

Agak sulit mendapatkan angka pasti jumlah peziarah setiap harinya. Tidak semua peziarah mencatatkan namanya di buku tamu. Hanya ketua rombongan atau beberapa orang peziarah saja yang membubuhkan tanda tangannya. Ketika suatu pagi, di hari minggu, sekitar jam 10.00, saya melongok daftar tamu, tertera di sana ada 106 tandatangan. Itu berarti jumlah peziarah sudah lebih dari 500 orang hanya pada pagi hari itu.

Besarnya animo masyarakat pada makam Gus Dur membuat pemerintah berencana membangun sejumlah fasilitas umum di sekitar kompleks makam seperti tempat parkir, jalan, dan pertokoan.5 Perbaikan dan pelebaran jalan menuju pondok juga dilakukan. Banjir peziarah ini telah memicu pergerakan perekonomian informal di sekitar pondok. Sejumlah penduduk di sekitar pondok menyewakan toilet dan kamar mandi untuk para peziarah selain membuka warung kecil di depan rumah mereka. Sejumlah orang juga tiba-tiba menjadi pengasong, tukang parkir, dan tukang ojek. Jalan kecil menuju makam juga penuh sesak oleh pedagang kaki lima. Para pedagang itu mengaku membayar sewa tempat di gang itu sebesar 200 ribu per minggu kepada pengurus RT setempat. Belum jelas nasib para pedagang kaki lima ini menyangkut rencana perbaikan infrastruktur sekitar makam yang kabarnya akan membersihkan area itu dari kakilima dan menyediakan tempat khusus untuk berjualan di tempat lain. Pasar tiban dan sejumlah kegiatan ekonomi warga ini bagi sebagian orang adalah berkah kehadiran makam Gus Dur di tempat ini.

Jalan kecil menuju makam ini tampak laksana pasar. Apa yang membedakannya dengan pasar tiban lainnya adalah di sini banyak dijual hal-hal yang berkaitan dengan Gus Dur. Semua serba Gus Dur. Seperti kaos bergambar Gus Dur, kopiah bertuliskan Gus Dur, buku-buku Gus Dur, dan VCD ceramah dan wawancara Gus Dur. Ada pula poster Gus Dur dan silsilah keluarga Gus Dur. Silsilah atau garis keturunan ini menjadi penting ketika dikatkan dengan kewalian Gus Dur. Anda tahu, keyakinan pada kewalian seseorang kadang juga ditentukan oleh silsilah semacam ini yang menjelaskan garis biologis yang bersangkutan. Hampir semua wali di jawa punya akar keturunan yang berkait dengan para wali terdahulu atau bahkan nabi. Hampir semua wali besar di Jawa—misalnya–yang dikenal dengan nama Walisongo adalah orang-orang “asing” yang garis keturunannya bisa dilacak hingga Nabi Muhammad. Gus Dur juga dikatakan memiliki garis silsilah semacam itu. Gus Dur, menurut sebuah poster yang terpajang di kios-kios ini, garis keturunannya bisa dilacak hingga Nabi Muhammad. Di cover buku-buku dan VCD yang dijual di lapak-lapak dekat makamnya, pohon silsilah tersebut dicantumkan dengan cukup meyakinkan.

Fenomena memorabilia berupa VCD dan gambar sang tokoh ini menjadi kekhasan penting makam Gus Dur dibanding makam-makam tempat kunjungan ziarah lainnya. Di makam para walisongo, misalnya, tidak menawarkan oleh-oleh berupa memorabilia yang semacam ini. Jikapun ada, hanya berupa buku biografis yag bersifat legenda dan gambar diri yang diduga keras hanya didapat dari rekaan. Tentu saja ini terkait dengan “kebaruan” Gus Dur. Jika para wali lain hidup ratusan tahun silam, sementara kehidupan Gus Dur terjadi baru kemaren sore. Kenangan dan memori atas Gus Dur masih melekat kuat di hati dan kepala para peziarah. Setiap peziarah punya memori sendiri tentang Gus Dur—baik yang sebatas mengenal dari jauh hingga mereka yang mengenalnya secara dekat. Memori semacam ini berbeda dengan ingatan pada wali-wali yang hidup berabad-abad silam. Memori atas wali dibangun melalui legenda dan mitologi yang dikisahkan turun temurun, sementara memori atas Gus Dur berasal dari kenangan mereka sendiri. Ini bukan berarti makam baru ini tidak berpotensi menjadi legenda. Berbagai kenangan dan ingatan tentang Gus Dur secara bertubi-tubi juga membentuk bangun wacana baru yang juga menyerupai legenda. Kewalian dan berkah Gus Dur, misalnya, selain ditekankan dengan kelimpahan rezeki bagi sejumlah orang, juga dibangun melalui kisah-kisah seputar keajaiban makam yang beredar di antara sejumlah peziarah.

Seorang peziarah yang seminggu sekali berziarah ke tempat ini mengatakan bahwa banyak peziarah yang dengan sengaja membawa segenggam atau dua genggam tanah dari makam Gus Dur untuk dibawa pulang. Mereka percaya tanah itu mempunyai tuah. Ini terjadi di awal terjadi gelombang ziarah ke makam Gus Dur beberapa saat sesudah pemakaman. Ia bercerita bahwa makam Gus Dur hingga hampir rata ketika tanah-tanah itu diambil banyak orang. Sebagian orang yakin tanah tersebut bisa menyembuhkan. Di suatu malam, saat saya berada di kompleks makam ini, seseorang menghampiri saya dan bertanya apakah saya juga melihat ada cahaya yang jatuh dari langit ke makam. Saya tak melihatnya, tapi orang ini mengatakan melihatnya dengan jelas. Ia tak menyebut apa-apa soal cahaya itu atau mengaitkannya dengan mukjizat. Tapi dari cara bicaranya saya tahu ia sedang mengagumi fenomena yang ia alami baru saja di tempat ini.

Secara kasat mata, makam Gus Dur bisa dikatakan sebagai fenomena lahirnya situs suci baru tempat tujuan ziarah yang menambahi peta ziarah wali di pulau Jawa atau bahkan di Nusantara. Nah, pada situs baru ini, peziarah baik laki maupun perempuan hadir. Makam ini tidak memberi kehususan “berkah” yang misalnya hanya untuk jenis kelamin tertentu atau golongan tertentu. Sebagai situs baru, dan juga kebaruan Gus Dur sendiri, cerita-cerita yang mengurapi makam serta tuahnya tidak berkembang untuk diasosiasikan pada kelompok atau golongan terteentu. Tapi kita akan lihat apa yang dilakukan sejumpah perempuan di seputar makam ini, yang barangkali saja bisa memberi secuil gambaran tentang makna perempuan di seputar siarah wali.

Para Perempuan Pencari Berkah

Saya menyaksikan tiga atau empat ibu tua duduk di sisi jalan, di depannya teronggok kaleng kusam. Sejumlah koin dan uang kertas teronggok di dalamnya. Tanpa perlu banyak bertanya, kita akan tahu mereka adalah pengemis. Saya melihat lebih banyak pengemis perempuan ketimbang laki-laki. Saya tidak tahu persis mengepa jumlah pengemis perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Selain menjadi pertanda betapa tempat ini biasa ramai dengan kehadiran manusia, keberadaan para pengemis itu seolah menjadi tanda akan keberkahan tempat ini, atau paling tidak dianggap bisa mendatangkan berkah oleh banyak orang. Hampir selalu ada rombongan pengemis di semua tempat ziarah di nusantara. Tidak hanya makam wali, makam-makam keramat lain yang sering disinggahi untuk mencari berkah juga selalu dihiasi dengan keberadaan pengemis. Jika Anda suka bepergian dan berziarah, Anda pasti tidak akan asing dengan deretan pengemis di kiri atau kanan jalan menuju makam. Sebagian orang percaya bahwa bersedekah di makam suci akan membangkitkan berkah kesucian makam itu. Keyakinan macam itulah yang barangkali hendak “dimanfaatkan” oleh barisan pengemis tadi.

Mengenai bersedekah pada makam, di atas makam, atau disekitar makam demi berkah, makam Gus Dur pun tak luput dari itu. Bahkan, pada awalnya, ketika pusara Gus Dur belum kering benar, tidak sedikit orang yang melemparkan uang ke atas pusara. “Bukan cuma melempar uang, tapi gundukan tanah di makam ini sampai cekung..,” tutur seorang peziarah yang hampir tiap minggu berziarah ke makam ini dan menyaksikan orang berebut tanah makam beberapa saat setelah Gus Dur dimakamkan. Saat saya pertama kali mengunjungi makam ini, saya sudah tidak melihat lagi perilaku semacam itu, namun “jejak” kelakuan orang melempar uang itu bisa saya baca pada tulisan yang terpampang persis di atas makam Gus Dur: “Dilarang Melempar Uang Ke Makam.” Kini sepertinya tidak ada lagi peziarah yang melempar uang ke atas pusara. Sebagai gantinya, ada satu kotak khusus yang disediakan bagi orang yang hendak menyumbangkan uang. Kotak berwarna hijau itu bertuliskan “Kotak Infaq.”

Jumlah pengemis di makam Gus Dur tidak sangat banyak dan tidak terlalu mencolok, kendati demikian keberadaan mereka tetap kentara karena mereka berada persis di muka gang menuju makam. “Sekarang sepi mas…tapi dulu pernah dapat dua puluh ribu,” ungkap ibu pengemis itu ketika saya tanya seberapa banyak ia dapat setiap harinya. Sebelum orang ramai mengunjungi kompleks pemakaman ini, Ia mengaku bekerja sebagai buruh tani di desanya yang berjarak sekitar 5 km dari makam. Menurutnya, lebih banyak uang yang ia dapat dari mengemis ketimbang bekerja sebagai buruh tani. Setiap hari, dari pagi hingga tengah malam, dia duduk di pintu masuk gang kecil itu sambil mengacungkan kotak berisi uang receh. Kendati mendapat uang yang tidak sedikit, toh ia tetap merasa apa yang ia lakukan kurang pantas. “Jangan dimasukkan tivi lho mas,’ katanya ketika saya memotretnya. Mengenai berkah makam, ibu tua ini tidak memberi ungkapan secara gamblang. Ia bahkan mengaku belum pernah berziarah ke makam Gus Dur. “Saya ndak bisa ngaji..,” katanya memberi alasan.

Kelompok perempuan lain yang cukup mencolok di sekitar situs ziarah baru ini adalah para pedagang kios. Tidak semua pedagang kios adalah laki-laki, tapi secara sekilas tampak bahwa jumlah pedagang perempuan lebih banyak. Para pedagang kios ini jelas merasakan dampak keramaian yang ditimbulkan makam. ”Sejak adanya makam ini rezekinya saya alhamdulillah lumayan mas, sebelum ini saya jualan di pasar tidak selaris sekarang,” papar ibu paruh baya penjual kaos yang mengaku setiap hari pasti menyempatkan diri berziarah ke makam Gus Dur itu. Pengakuan serupa dikatakan Narni—sebut saja begitu—pedagang asongan yang menjajakan buku dan VCD Gus Dur. Ia yang sebelumnya menganggur kini bisa mendapatkan lebih dari 20 ribu rupiah sehari dari berjualan buku dan VCD.“Mereka itu nasibnya juga mirip-mirip saya ,” ujarnya sambil menunjuk sekelompok perempuan lain yang juga mengasong buku dan VCD. Setiap hari, ungkap Narni, bisa terjual lebih dari 20 keping VCD dari tangannya saja, belum yang dari tangan kawan-kawan sejawatnya Sebagian orang memang percaya bahwa kehadiran orang-orang yang mengais rezeki di sekitar makam adalah bukti konkret berkah keberadaan makam Gus Dur pada orang sekitar. Seorang ibu penjual jamu yang mengaku berasal dari Gunung Kidul juga menegaskan hal serupa. Apa yang ia dapatkan di sini adalah berkat kebesaran mereka yang ada di makam, terutama Gus Dur. “Sebelum ada makam ini saya bekerja di pabrik di Surabaya, hasilnya di sini lumayan. Tiap hari pasti habis,” terangnya.

Para pengais rezeki di seputar makam yang kebanyakan perempuan ini tentu saja membentangkan pemahaman bahwa pencari nafkah dalam keluarga tidak melulu datang dari kaum Bapak. Seorang pedagang perempuan mengaku suaminya juga berjualan kaos di pasar, sementara ia berjualan di makam ini. Dalam dunia kerja informal, tentu saja lumrah perempuan menjadi tumpuan nafkah keluarga. Itu bisa ditemui di mana saja. Tidak hanya di makam wali. Fenomena para pedagang pasar tiban ini hanya merefleksikan apa yang memang lumaprah terjadi secara luas dalam masyarakat.

Dalam hal peziarah sendiri, kita bisa saksikan bahwa jumlah peziarah perempuan juga mungkin samaa banyaknya dengan peziarah laki-laki. Ziarah, sebagaimana telah disinggung di atas, adalah refleksi atas keragaman umat Islam. Di samping itu, jika kita melihat soal perempuan ini, ziarah bisa menjadi satu ritus ibadah yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi setara. Ziarah di makam wali seperti memutus pembatas antara laki-laki dan perempuan. Jika di masjid mereka biasa dipisah oleh sekat, beribadah dalam ziarah mereka bisa duduk berdampingan di hadapan sang wali. Jika anda pergi ke masjid, anda akan menjumpai ruang-ruang khusus untuk perempuan atau tata cara ibadah yang lebih merefleksikan dominasi laki-laki, pada ziarah hal semacam itu relatif lebih longgar. Pada tataran tertentu, laki-laki dan perempuan bisa duduk sejajar berdampingan di depan makam sambil memanjatkan doa-doa—sesuatu yang mustahil kita jumpai di masjid. Kita bisa jumpai hal semacam itu di makam Gus Dur. Memang, ada hal-hal lazim yang tetap dibawa dalam praktik ziarah. Kelompok perempuan kadang lebih menempati posisi di baris belakang atau pemimpin doa datang dari laki-laki. Tapi secara umum, lebih setara ketimbang ritus-ritus resmi.

Peziarah makam Gus Dur mempunyai latar belakang yang sangat beragam. Namun secara umum, kebanyakan dari mereka adalah kaum nahdliyin (ini adalah istilah populer untuk menyebut orang-orang NU) yang memang mempunyai kegemaran melakukan perjalanan ziarah ke makam-makam keramat. Biasanya mereka berziarah secara berombongan dengan naik bus menuju makam para wali. Bisa sembilan atau cukup lima wali ditambah satu atau dua tempat wisata. Lama perjalanan bergantung pada seberapa banyak tempat ziarah yang akan dikunjungi. Ada yang hanya mengunjungi tiga makam wali namun ada pula yang sampai sembilan wali berturut-turut selama empat hari penuh. Dengan bermalam di bus yang tengah melaju para peziarah mendatangi satu makam di satu kota ke kota lainnya. Perjalanan ziarah ini menjadi perjalanan spiritual tersendiri bagi mereka.

Dalam rombongan-rombongan ziarah ini banyak sekali terdapat perempuan. Rata-rata sudah berkeluarga. Ini terlihat dari kenyataan bahwa mereka berziarah sambil menggendong bayi atau anak kecil. Saya melihat banyak sekali ibu muda atau paruh baya yang berziarah sambil menggendong anak mereka. Sejauh yang saya lihat di makam ini, pimpinan rombongan biasanya adalah laki-laki meskipun rombongan lebih banyak perempuannya. Kecuali jika seluruh rombongan berisi perempuan yang biasanya ibu-ibu anggota perkumpulan sebuah jamaah pengajian. Secara kasat mata, jumlah peziarah perempuan sepertinya lebih banyak ketimbang laki-laki. Hampir dalam setiap rombongan ziarah selalu ada perempuan yang turut serta, sementara kadang ada pula rombongan pengajian ibu-ibu yang berziarah tanpa menyertakan laki-laki.

“Kami baru saja berangkat dari nganjuk,” ungkap Bu Santi seorang perempuan paruh baya yang saya temui suatu malam di dekat makam Gus Dur. “Sehabis ini kami berangkat ke Ampel,” tambahnya. Rombongan ziarah ini hanya singgah sebentar di setiap makam. Kira-kira selama 30 menit mereka berdoa dan membaca tahlil di depan makam. Setelah itu mereka kembali meneruskan perjalanan. Biasanya dalam rombongan terdapat pemimpin yang merupakan tokoh atau kyai yang bertugas memimpin doa di depan makam. Ada pula yang kadang memberi sedikit ceramah ketika hendak berdoa. Seperti yang saya lihat di makam Gus Dur ini. Seorang ketua rombongan, sepertinya seorang kyai atau ustadz, berpidato sejenak kepada rombongannya. Ia menerangkan tentang keberadaan makam di depannya, menjelaskan nama-nama orang yang dimakamkan dan jasa-jasa mereka ketika masih hidup. Ia menjelaskan tentang Gus Dur sebagai mantan ketua NU dan cucu mbah Hasyim sang pendiri NU.

Biaya perjalanan yang mesti ditanggung para peziarah bergantung pada jarak tempuh ziarah. Seorang anggota rombongan dari Malang mengatakan kepada saya bahwa ia membayar 80 ribu rupiah untuk ongkos bus selama perjalanan ke Tuban, Gresik, dan Surabaya. Ia harus mengeluarkan uang lagi untuk makan dan keperluan lainnya. Seorang peziarah mengaku biasa menghabiskan lebih dari 500 ribu rupiah setiap perjalanan ziarah. Namun ia merasa setelah melakukan ziarah rezekinya malah semakin lancar. Ongkos yang ia keluarkan untuk berziarah bisa kembali dengan berlipat. Baginya, itulah berkah ziarah. Seorang perempuan peziarah juga mengatakan hal serupa kepada saya. Ibu muda yang saya jumpai di dekat makam Gus Dur itu mengatakan ia merasa bahagia bisa berziarah di tempat ini.

Ziarah ke makam orang-orang yang dianggap sebagai wali atau orang suci memang membangkitkan imajinasi tak terbataas dari kalangan peziarah mengenai karomah dan berkah sang wali itu sendiri. Kisah-kisah itu beredar di kalangan peziarah untuk kian menegaskan kesucian tempat itu. Dengan cara mereka masing-masing, para perempuan di sekitar makam Gus Dur ini, dari pengemis, pengasong, pedagang kaos, hingga peziarah memberi makna kesucian dan kehadiran berkah makam ini. Di satu sisi, berkah dimaknai sebagai hal yang bersifat konkrit seperti keuntungan finansial, pada saat yang sama juga dimaknai sebagai ketentraman dan keselamatan dalam menjalanni hidup. []


Beranda  |  Kategory: Esai | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Perempuan-perempuan di Makam Gus Dur”

  1. [...] Ini adalah tulisan lama saya. Saya menyebut lama karena sudah lebih dari satu tahun yang lalu. Posting ini sekaligus memperkenalkan Jurnal online berikut ini–> http://srinthil.org/80/perempuan-perempuan-di-makam-gus-dur/ [...]

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia