Ziarah: Agama Perempuan, Pengalaman Ruang, dan Turisme

6 - Jan - 2012 | Day Milovich | No Comments »
Ziarah: Agama Perempuan, Pengalaman Ruang, dan Turisme

Pada suatu malam, purnama penuh, bulan keduabelas, orang-orang Tireman Jawa-asli yang memeluk “agama” Hwuning, melakukan upacara sembahyang memuja tripamujan1 dipimpin seorang nini ampu, menggunakan baju kurung dan jarit tenun hitam, telinganya mengenakan sumping dari dedaunan, menghadap Timur, meluhurkan Sang Purwaning Dumadhi.2 Dupa pewangi, sesajen, bau bunga menebar ke empat penjuru angin. Makanan tanpa lauk daging, jajanan pasar yang melambangkan lingga dan yoni, berupa dumbeg dan jadah-gendhuk. Di belakang nini ampu, para gadis suci juga bersikap silasanti-manganjali, mengenakan atasan warna pareanom, tapih tenun wanabadra. Rambutnya diikat menaik, leher jenjang diterpa angin dan suara mantera, tusuk rambut tertutup rangkaian kembang, mawar dan melati. Para pendeta lelaki berjubah putih, di belakang mereka ada para pemuda, serta pendeta perempuan berada di kiri Nini Ampu yang menjadi pusat pemimpin upacara. Malam itu, Dewi Sri turun dari surga mertiloka, menurunkan kesuburan, memberkati para pasangan pengantin yang akan memasuki lumbung, dan musim cocok-tanam bersama.3

Perempuan dan Peribadatan di bawah Purnama

Narasi itu cukup menjelaskan, bagaimana perempuan (yang bergelar Nini Ampu) menjadi pimpinan tertinggi dalam upacara adat keagamaan pada zaman Jawa Juno. Perempuan menjadi penegas relasi manusia dengan jagat raya.

Struktur matrilineal dalam peribadatan agama sebenarnya telah dikenal dalam agama-agama kuno di dunia, misalnya di agama venus (yang telah punah), Yunani dan Romawi Kuno yang didominasi dewi perempuan, sampai Perempuan Maria sebagaimana yang disebut di novel sejarah Da Vinci Code, serta para perempuan di nusantara: Rangdha Ing Jirah (Bhikkuni yang melakukan pemberontakan terhadap Airlangga sehingga membelah Kediri menjadi dua bagian), Prabu Kenya (raja perempuan) Sie Ba Ha, Ratu Shima, Bre Lasem Dewi Indu, Pradjna Paramitha, dan Tribbhuanattungga Dhewi dari Majapahit. Keberadaan perempuan melingkupi acara adat dan kepemimpinan politik.

Taya, Kanung, dan Sedulur Sikep

Pada waktu itu, Jawa masih memegang kepercayaan tertinggi kepada Taya, sebelum agama-agama besar memasuki Jawa (Hindu, Buddha, Islam). Taya bisa dimengerti sebagai “Tuhan yang belum disebut”, Tuhan yang masih dalam Wujud-Nya sendiri. Islam menyebut konsepsi ini sebagai “wajib al-wujud”, yaitu Tuhan yang tidak bisa disifati, tidak bisa diserupakan dengan apapun, bukan Tuhan yang mengalami penginsanan (personification) ataupun Tuhan dalam diri manusia.4

Kalau sudah disebut dalam doa atau dalam pembicaraan, itu adalah Tuhan yang sudah dibatasi. Taya memanifestasikan-diri menjadi “Tu”. Jika “Taya” sudah dikenal dengan bahasa, pengetahuan, kebudayaan, atau diberi nama dan sifat, maka jadilah “Taya” sebagai “Tu-han yang dikenal”. Tidak mengherankan jika melacak kosakata Jawa Kuno banyak sekali ditemukan kata yang menggunakan suku-kata “-tu-”, misalnya: tu-nggak (bekas tebangan pohon), tu-ku (membeli), tu-rah (sisa), tu-tup (penutup), tu-mbal (martir), tu-rang-ga (kuda), dst.5

 

Dapat dikatakan bahwa semua kosa kata kuno yang sekarang masih dipakai itu diturunkan dari kepercayaan orang Jawa, jauh sebelum agama-agama lain memasuki Jawa.

Agama Hwuning dalam perkembangannya memiliki persamaan ajaran dengan agama Wong Kanung (kanung: sangkan-gunung, berasal dari gunung) atau sedulur sikep atau samin.

Skema kepercayaan terhadap “Taya” akhirnya memasuki “tubuh”. Tubuh yang melakukan sinergi dengan jagat raya (berupa perilaku yang mengagungkan harmoni alam melalui pertanian), hubungan sosial (dengan manusia lain), dan melakukan “hubungan” dengan nenek moyang yang telah mati. Tiga pemujaan inilah yang menjadi ciri hampir semua agama kuno di dunia.

Candi: Relasi Keyakinan, Tubuh, dan Kosmos

Candi di Jawa, pada awalnya, menurut Sejarah Dieng, dibuat oleh orang-orang India yang ingin menyebarkan Hindu. Semua tanah yang mendapatkan pencerahan Hindu adalah Hindustan. Penguasa India mengirimkan satuan militer, arsitek, agamawan, tokoh pertanian, dan sastrawan, untuk mendirikan candi, sebelum rombongan yang lebih besar berdatangan. Lantas dikenal candi Puntadewa, Bima, Arjuna, dll. Aktivitas yang terjadi di sekitarnya, mengalami perubahan drastis. Agama baru dikenalkan, termasuk tata pemerintahan, sastra, dan mengubah perilaku hidup sehari-hari.

Belakangan, nama-nama para pembesar dari India ini akan lebih dikenal bukan sebagai legenda (cerita muasal nama sebuah tempat) melainkan dikenal dalam fiksi Mahabharata yang sudah diadaptasi menjadi wayang purwa. Akhirnya, sejarah pendirian candi-candi di Dieng cukup menjelaskan, mengapa di Jawa terjadi reversi (pembalikan): “dari realitas ke mitos” (misalnya, tentang para Pandhawa) dan “dari mitos ke realitas” (contohnya: keberadaan Semar).

Satu hal yang patut dicatat, setiap candi ditangani secara rumit, sebagai bangunan politik sekaligus religius, namun sangat menimbang aspek harmoni kosmologi, manusia dengan alam. Pada setiap temuan candi, selalu ada beberapa pertanyaan arkeologis yang penting: Kepercayaan atau agama apa yang melatari candi itu? Pada masa siapakah candi itu dibuat? Apakah ada hubungan sinergis dengan candi lain? Apa motif pendirian candi di tempat itu? Hubungan struktur kebudayaan ini berlangsung sangat lama, di mana tempat-tempat [yang dianggap] sakral, seperti candi, klenteng, dan ritual yang ada di dalamnya, selalu diduga memiliki hubungan.

Semua pertanyaan ini akan mengantarkan orang-orang kepada satu pernyataan: tempat-tempat suci itu dibangun untuk suatu kebutuhan sosial (candi, masjid, kerajaan) dan aktivitas yang terbentuk adalah bentukan sosial (socially constructed), bukan mengada dengan sendirinya. Termasuk anggapan sebuah tempat memiliki nilai sakral.

Islam: dari Candi Menjadi Pekuburan

Setelah Islam masuk dan terjadi pergeseran pandangan legal-formal tentang peran perempuan, segalanya menjadi berubah. Yang menarik kemudian, bukan hanya pandangan tentang peran perempuan yang mengubah struktur keberagamaan, melainkan juga konsep wisata dan kebudayaan yang ikut berubah.

Struktur bangunan tidak lagi terkait dengan harmoni alam, seperti terbebas dari motif pemilihan tempat, semakin jarang yang menerapkan falsafah arsitektur yang terkait dengan kesucian. Masjid menjadi kekurangan atmosfer, dibedakan oleh wilayah geografis, arsitektur modern masjid semakin menyederhanakan aspek-aspek artistik-sakral.

Rupanya, dominasi Islam (setelah mengalahkan Majapahit) tampak di semua aspek kehidupan, termasuk paradigma mengenai ziarah. Orang-orang Islam menggunakan paradigma bahwa Rasulullah memiliki kebiasaan menunjukkan kuburan orang-orang terdahulu. Semula beliau “melarang” ziarah namun kemudian memerintahkan orang untuk berziarah, bahkan kuburan para nabi dan ulama merupakan salah satu tempat mudahnya terkabulnya doa. Ada banyak literatur yang mendebatkan “hukum” melakukan ziarah, termasuk adab, doa, dan secara khusus peraturan yang diterapkan kepada tubuh perempuan berhubungan dengan ziarah. Pada dasarnya, Islam sebagai mayoritas agama di Indonesia, tidak melarang ziarah, dan orang Jawa tidak akan bisa melepaskan diri dari aktivitas ziarah.

Masjid (tempat bersujud) lebih dikenal dalam Islam pada zaman Nabi sebagai ruang publik untuk menjalankan aktivitas semua penduduk (bukan hanya mereka yang beragama Islam), seperti: pernikahan, sengketa warisan, berlindung dari perang, maupun musyawarah. Masjid tidak terlalu dihubungkan dengan kuburan (maqam) kecuali setelah Nabi saw. wafat.

Kemudian terjadi pergeseran dari konsep harmoni kosmologi (manusia dan jagat raya) yang dikenalkan oleh candi, menjadi konsepsi bangunan (masjid) dan kuburan (maqam). Tentu bisa dirasakan, bagaimana aktivitas di sekitar candi pada masa dahulu dibandingkan aktivitas di sekitar masjid dan pekuburan.

Ziarah: Touring Culture

Pertanian yang mengembangkan ritual dengan kepemimpinan perempuan pada masa Jawa Kuno, serta hubungan kosmologi antara bangunan dengan alam, membawa makna awal ziarah, yaitu “perjalanan menuju tempat suci”. Ziarah adalah pencapaian, perjalanan yang sering disertai penderitaan yang memerlukan waktu dan biaya, namun karena motivasi religius maka ziarah menjadi memiliki “makna”. Ziarah menjadi “traveling”.

Perjalanan (travel), yang menghubungkan hubungan antara “makna” (senses) dan “tempat” (places) dialami. Perjalanan (travel) menjadi moment yang tidak bisa digantikan karena suasana dan tempat baru itulah yang dipilih, mengatasi suasana dan tempat yang sudah biasa mereka alami. Perjalanan menjadi fungsi memutuskan, sebagai transformasi ruang, perubahan lokasi. Perjalanan menjadi pengalaman murni atas ruang.6

Ziarah dan Perubahan Struktur Agama

Pada masa berikutnya, pelancongan tubuh ini membawa juga kebudayaan dalam pengertian yang sangat luas. Terjadi penyebaran (tubuh dan ajaran agama), pengalaman keberagamaan, pembauran, dan asimilasi yang tak-terhindarkan, atau dalam istilah “touring culture” ini disebut “realist investigation”. Bagaimana kebudayaan diimport, dibawa masuk (seperti kasus sejarah Candi Dieng yang terjadi karena hindustanisasi), transmisi peradaban (seperti kasus Klenteng Trimurti di Lasem Rembang yang mendatangkan pengukir dari China yang akhirnya menyebar ke Kudus dan Jepara), penyebaran agama (seperti kasus orang-orang yang membawa ajaran

Islam dari Arab), dan pembentukan “agama baru”. Nusantara sangat dikenal dengan bentukan “agama baru”. Menurut sejarah Jawa, agama tidaklah sederhana seperti yang sekarang dialami orang Indonesia.

Ken Arok adalah raja Jawa yang terkenal melakukan “penggabungan agama”, atau “menjawakan agama”.7 Tradisi ini diteruskan sampai zaman Majapahit, Mataram Islam, dan kepercayaan kebatinan.8 Motif untuk beragama secara mendalam (mendatangi tempat sakral) dan menikmati pengalaman “tubuh dan kebudayaan yang berpindah” inilah yang akhirnya “harus” mengubah ziarah menjadi traveling dan turisme. Berziarah berarti menziarahi kebudayaan.

Terjadinya investigasi realis atas aliran atau pemandangan lintas teritorial (dan negara) yang melibatkan uang, modal, gagasan, pencitraan, informasi, orang, obyek, dan teknologi.9 Berdasarkan analisis kebudayaan, metafora perjalanan (travel) naratif dari rumah dan meninggalkan rumah, melintasi batas wilayah masing-masing, menjadi masif, melakukan metafora subyek nomadic, bahkan dikatakan bahwa kebudayaan “sedang dalam perjalanan”.10 Bukan hanya tubuh yang mengalami perjalanan tetapi kebudayaan juga mengalami perjalanan.

Tanpa terjadinya ziarah, maka tidak terjadi kebudayaan. Ziarah yang tidak diwisatakan, justru mengajak orang bersikap ahistoris bahkan semakin “jauh” dari agamanya. Manusia menjadi kehilangan pemujaan, tersesat dalam simulacra sejarah, dan terus berada dalam pengandaian atau justru fanatisme. Singkatnya, perimbangan peta informasi dan studi sejarah yang memadai, dapat menjadi upaya penyadaran terhadap publik atas kesejarahan mereka.

Terjadi penghormatan (bukan pemujaan) yang bersifat memusat (sentripetal) dan menebar (sentrifugal). Pemujaan sentripetal terjadi ketika seorang tokoh (yang telah meninggal) bergerak di wilayah tuturan lisan. Kalau dia mendapatkan “kesan” dari orang-orang yang masih hidup sebagai orang baik, terhormat, dan suci, maka masyarakat cenderung tidak memerlukan literatur ataupun pembuktian tentang kenyataan yang terkait dengan kedirian sang tokoh semasa hidupnya. Walisongo dan para penyebar agama adalah contoh yang paling representatif dalam jenis penghormatan ini. Biasanya mengarah kepada pemujaan, kultus, dan ketidakrelaan publik pada saat menerima fakta historis tentang keburukan sang tokoh. Bekas Presiden Soekarno, misalnya, jarang disebut dalam referensi atau sejarah, sebagai orang yang bermasalah dengan korupsi. Soekarnois dan para pendukungnya akan marah walaupun diberitahu bahwa Soekarno adalah presiden pertama yang memberlakukan privatisasi badan usaha milik negara. Penghormatan yang menebar, berada di wilayah yang lebih simbolis, lebih menjadi pendorong untuk melakukan “perubahan”, kenangan atas “insiden”, serta semangat yang harus diteruskan. Misalnya, penghormatan terhadap para pahlawan.

Ziarah dan Tourism

Pada perkembangan berikutnya, ziarah sudah bukan lagi soal makna. Ziarah menjadi soal faedah dan keindahan. Ziarah menjadi pemenuhan hasrat pencapaian nilai, misalnya, ingin mendapatkan kekayaan atau ingin mengalami ritus seksual purba di Gunung Kawi. Perilaku politik nonverbal untuk mendapatkan legitimasi dan dukungan religiusitas seorang pemimpin ataupun calon pemimpin. Contohnya, adalah ziarah dan tahlilan bersama yang dilakukan bekas presiden dan wakilnya, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri di makam bekas presiden Soekarno di Blitar Jawa Timur.

Ziarah pada masa sekarang juga menjadi salah satu pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus salah satu lahan korupsi resmi. Kondisi daerah-daerah yang tidak dijaga dengan mitos, mengabaikan heritage, serta tidak berhasil membuat pencitraan terkait dengan ziarah, tentu bisa dilihat bagaimana kesejahteraannya. Lima wali (dari Walisongo, sembilan wali) maqam-nya berada di Jawa Timur. Masih sedikit orang yang tahu bagaimana peran orang-orang dalam sejarah selain Walisongo yang maqam-nya jarang dikunjungi dan dirawat. Itu sebabnya, kajian sejarah adalah benteng terakhir untuk mengembalikan historisitas sebuah bangsa, demi agama dan kesejahteraan ekonominya.

Festival sebagai Perluasan Ruang Ibadah

Fenomena yang menarik dari keberadaan tempat-tempat sakral adalah adanya festival dan ritual. Upacara adat keagamaan yang diselenggarakan di kompleks tempat sakral, yang menjadi tujuan ziarah, sebenarnya menunjukkan bahwa manusia adalah peziarah hidup (homo viator) dan pelaku festival (homo festivus), sebab festival atau upacara adat adalah “menziarahi hidup”.

Bagaimana tubuh menghadirkan ideologi, festival menjadi panopticon bagi mereka yang masih hidup. Entah itu peringatan sejarah kelahiran seorang tokoh (hanya Nabi Muhammad yang diperingati paling meriah di tempat-tempat suci, walaupun maqam-nya tidak di Indonesia), inisiasi (pembaiatan), pesta rakyat, dst. Event yang diadakan dalam ziarah adalah wisata sejarah, pemaknaan-ulang atas nilai-nilai agama dan sejarah yang masih bisa diaktualkan, dimainkan, dan dikomoditikan. Upacara adat keagamaan adalah bentuk “perluasan ruang ibadah”, menyatunya yang sakral dan yang profan, ekspresi, pelembagaan, dan penyampaian “makna” (sense) yang mengatasi semua diskursus ajaran agama. Melalui event upacara adat untuk publik maka “makna” (sense) yang menjadi motif melakukan ziarah dan telah bergeser menjadi tourism, dapat dikembalikan pada kesejarahannya, didialogkan dengan situasi kekinian. Hanya tinggal bagaimana mengkaji dan mengkonstruksi sejarah, melakukan pencitraan sebagai manusia yang menghargai sejarah, melalui bangunan, festival, dan kebudayaan. Apa yang sedang Anda pikirkan? [d]

Semarang, September 18, 2011

*) Penulis adalah peminat kajian filsafat, sejarah, dan budaya, tinggal di Rembang dan Semarang. Setiap bulan bersama komunitas Omah Rembang mengadakan event “Kethek Ogleng Baca Puisi” dan rutin menulis album catatan di Facebook.


1 Agama Hwuning meluhurkan dan mengagungkan Tripamujan, yaitu: 1) Hyang Widhi-Esa, Sang Hyang Tunggal, 2) Dewi Sri (Dewi Welas-Asih), dan 3) Nyai Dhanyang dan Kaki Dhanyang. Dhanyang sebenarnya berasal dari Dang Hyang, dengan catatan, di literatur Sejarah Rembang dan Badra Santi selalu menyebut “Nyai Dhanyang” terlebih dahulu, sebelum menyebut “Kaki Dhanyang”. Berkembangnya agama Hwuning dicatat terjadi pada pemerintahan Prabu Puteri Bre Lasem Maharani Dewi Indu tahun Saka 1273, sebagaimana disebut dalam Kitab Negarakertagama. Pada zaman ini, Lasem dipimpin seorang perempuan dan upacara adat selalu di bawah seorang Nini Ampu (gelar untuk pimpinan adat perempuan). Agama Hwuning dibawa bangsa Chaow (pengembara) dari Tiongkok, 3000 SM., singgah di Nepal India 1000 tahun, lalu ke Sampit (Dayak), dan mendarat di Pandangan Rembang, menjadi Wong Jawa. Agama ini sampai 385 berevolusi menjadi ilmu kanung (sangkan-gunung, dari gunung) dan diajarkan Hang Sambadra di kedhatuan Pucangsula. Sampai tahun 1977 penerus ilmu kanung yang masih eksis, yang disebut Mbah Guru, mengkodifikasi ajaran gurunya, Mpu Guru Pr. Santibadra, dalam kitab Seloka Badra Santi (Pedoman Begja-Rahayu). Wong Kanung dikenal juga disebut Kanor, Samin, atau Sikeb. Keyakinan otentik dari Jawa ini, jejaknya masih terlihat, bagaimana mereka menghormati leluhur dan harmoni manusia dengan jagat raya.

2 Bersembahyang menghadap Timur, ke arah matahari terbit, merupakan “arah simbolis” dari permulaan. Kata “wetan” (Jw.) berarti “timur”, arah matahari terbit, tempat cahaya penumbuh seluruh tanaman berasal. Sampai di sini, asal agama masih dikorelasikan dengan subkultur “pertanian”. Secara terminologi, “culture” (kebudayaan) berasal dari “to cultivate”, bercocok-tanam, aktivitas para perempuan di ladang, karena perempuan lebih giat bekerja dan lebih terkait dengan kesuburan. Belakangan, struktur agama seperti ini akan berubah setelah terjadinya budaya nomaden (berpindah-pindah), penandaan tempat suci, yang memperkenalkan “migrasi” ke tanah lain, serta ziarah dan wisata yang menggeser paradigma beragama.

3 Diterjemahkan secara bebas dari Mbah Guru, Sejarah Rembang, 1989. Bdk., Badra Santi, Sabda Badra Santi, cet. 2, 1985

4 Asin Palacious, “Filsafat Mistis Ibn al-’Arabi”. Pandangan Tuhan yang bukan-personal dan Wujud-Nya tidak bisa disebut ini masih jarang dikenal, karena, Islam yang legal-formal lebih sering menganggap Tuhan dalam bentuk person.

5 Penjelasan tentang “Taya” dan pemakaian suku-kata “-tu-” yang berawal dari agama orang Jawa, dijelaskan dalam Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil, LKiS, Yogyakarta, 2004. Novel itu menjelaskan pertemuan Abdul Jalil (alias Syekh Siti Jenar) saat menerima estafet kepemimpinan mitologis dari Semar. Proyek Abdul Jalil adalah menghapus perbudakan manusia di Jawa yang dilakukan Majapahit, tanpa kekerasan. Sepanjang novel sejarah ini, Syekh Siti Jenar ditampilkan secara bersahaja, berlainan dari sastra lisan versi Demak yang menganggap beliau dimusuhi para wali. Sepanjang novel, tidak ditemukan “karamah” yang dimiliki Syekh Siti Jenar dan tidak diceritakan di mana beliau dimakamkan untuk menghindari kemungkinan “syirik”.

6 S. Kracauer, The Mass Ornament, Harvard University Press, Cambridge, 1995, hlm. 66

7 Ken Arok memiliki figur yang mirip the Godfather. Sejak muda sudah memilih hidup di jalanan untuk membegal orang yang melewati daerah kekuasaannya. Usaha pemberontakan yang dia lakukan terhadap Tunggul Ametung, dilindungi pendeta Buddha Wishnu sehingga dia terbebas dari hukuman, bahkan karier militernya meningkat sampai akhirnya memiliki pasukan bawahan sendiri. Atas nama pembelaan terhadap agama, perempuan, dia menginisiasi terjadinya pertumpahan darah berkepanjangan. Tunggul Ametung dikalahkan, kekuasaan Airlangga dari Kediri menjadi tidak lagi tersisa, dan dia yang pertama kali menggunakan benda sakti (keris) sebagai simbolisasi kekuasaan. Ken Arok menetapkan “bentuk” agama baru secara resmi untuk rakyatnya, yang belum pernah dikenal (Buddha Wishnu) dan mengenalkan konsepsi kekuasaan di Jawa yang mirip energi. Kekuasaan itu ditetapkan kapasitasnya, tidak berubah ukurannya, dan tidak diturunkan dari langit. Maka siapapun yang ingin berkuasa di Jawa, harus melakukan perebutan kekuasaan. Sampai sekarang, jalan hidup Ken Arok (tentang militerisme, menjawakan agama, dan pentingnya simbol dalam peralihan kekuasaan), masih diterapkan orang-orang Jawa. Ken Arok akhirnya menjadi kakek moyang para raja di Jawa.

8 Majapahit memiliki agama Bhirawa Tantra dan buddha syiwa, sedangkan Mataram Islam memiliki agama Islam yang dianggap “sinkretis” (dalam penelitian Clifford Geertz) atau “varian” dari Islam (dalam penelitian Mark R. Woodward). Setelah kolonialisme meninggalkan Indonesia, ternyata terdapat ratusan aliran kepercayaan yang dipeluk orang-orang Jawa.

9 Appadurai, A. (1993) “Disjuncture and difference in the global community”, dalam B.Robbins (ed.), The Phantom Public Sphere, Minneapolis and London: University of Minnesota Press dan Lash, S. and Urry, J. (1994) Economies of Signs and Spaces, London: Sage.

10 Chris Rojek and John Urry (ed.), Touring Cultures: Transformations of Travel and Theory, Routledge, London and New York, 1997


Beranda  |  Kategory: Esai | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia