Juru Kunci lewat mimpi

6 - Jan - 2012 | Wawancara dengan Umi Kulsum | No Comments »

Sudah sejak 1988, umi kulsum (78) memilih melanjutkan pengabdian suami tercintanya untuk menjadi juru kunci makam Mbah Demang, di Kelurahan Jember Lor, Patrang, Kabupaten Jember.

Lokasi makam Mbah Demang memang agak sulit untuk dicari, masuk gang sempit, dihimpit sungai dan persawahan. Sisi timur makam mengalir sungai Jompo, ketika saya datang banyak warga sedang memancing. Kemudian di sisi barat terhampar sawah nan hijau. Tepat di depan makam, terdapat mushola dan beberapa rumah warga. Terdapat pula kamar mandi umum, airnya mengalir dari sumber yang tak pernah berhenti, sejuk dan jernih.

Perjalanan hidup Umi Kalsum hingga menjadi juru kunci bukanlah sesuatu yang telah memang ia rencanakan. Ia berasal dari Sumenep, Madura. Saat itu ia dan suami pertamanya memilih untuk mengadu nasib ke Bali, mengais rejeki. Selang beberapa tahun, suaminya meninggal karena sakit. Ia begitu terpukul dan bingung tidak tahu akan bagaimana.

Setelah kematian suami tercinta, Umi pernah dipinang oleh orang Bali. Ia menolak. “Suami saya belum tujuh harian, kok saya sudah di ajak kawin lagi,” tuturnya. Bingung dengan masa depannya di Bali, ia memutuskan untuk pergi ke Jawa, memulai kehidupan baru. Berdasarkan firasat yang diperoleh, ia memilih menginjakkan kaki di Jember. Berziarah ke makam Mbah Demang.

Firasat tersebut menurut Umi merupakan garis takdir dari Allah untuknya. Sebab di makam Mbah Demang inilah ia bertemu dengan suaminya kelak, Marjuki, juru kunci makam. Marjuki adalah seorang duda yang baru saja bercerai dengan istrinya. Menurutnya, pertemuan mereka seperti telah digariskan. Keduanya terlibat percakapan serius, Umi menceritakan bahwa suaminya meninggal di Bali. “Kami saling menghargai, itu lah awal mula keluarga baru saya,” tutur Umi.

Keluarga baru Umi dikarunia tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Semua telah berkeluarga dan membangun rumah tangganya sendiri. Hanya satu anaknya yang menetap di Jember, lainnya menetap di Semarang dan Flores. Sepeninggal marjuki untuk selamanya, hari-hari Umi lebih banyak dihabiskan untuk merawat Makam dan menemani para peziarah.

Dipilih Langsung

Penunjukan Umi Kulsum sebagai juru kunci, menggantikan suami, merupakan hasil pilihan langsung Mbah Demang. “Eyang memilih dan memberi tahu lewat mimpi dan firasat,” kata Umi. Memang untuk menjadi juru kunci haruslah orang pilihan langsung Eyang Demang. Pilihan ini disampaikan melalui mimipi kepada juru kunci terakhir, kemudian juru kunci tersebut menunjuk juru kunci baru untuk menggantikannya. “Juru kunci tidak diwariskan dalam keluarga secara turun-temurun begitu saja. Jadi yang memilih siapakah yang menjadi juru kunci adalah Eyang Demang sendiri. Beliau memberi petunjuk kepada juru kunci saat itu mengenai siapakan juru kunci yang cocok untuk masa selanjutnya. Eyang Demang memberikan petunjuk lewat mimpi dan firasat,” kata Umi.

Dalam keluarga besar Umi Kalsum, ia merupakan juru kunci generasi ke-enam. Juru kunci sebelumnya adalah Marjuki, suaminya sendiri, ayah mertua, kakek, dan kakek buyut dari almarhum suami. Meskipun semua juru kunci berasal dari satu keluarga, Umi menolak jika dikatakan semua ini sebagai warisan keluarga. Menurutnya, semua yang terpilih telah memperoleh restu dari Eyang Demang, selain itu sangat jarang orang dari luar keluarga yang mampu dan masuk kualifikasi Eyang Demang. Jadi sampai saat ini belum ada regenerasi juru kunci dari luar keluarga Umi. Jika kelak nanti ada orang lain yang dipilih Eyang Demang selain dari keluarganya, Umi mengaku itu bukan menjadi masalah.

“Semua masyarakat menyetujui ketika saya dipilih menjadi juru kunci dan mereka menerima dengan baik. Selain itu, pemerintah daerah Jember melalui dinas kebudayaan juga merestui keberadaan saya sebagai juru kunci makam Mbah Demang, bahkan saya juga memperoleh Surat Keputusan (SK) dari pemerintah,” kata Umi.

Semenjak pemugaran makam secara menyeluruh pada tahun 1998, pemerintah daerah Jember melalui dinas kebudayaan memasukkan area makam Mbah Demang sebagai salah satu cagar budaya. Bagi Umi, pengakuan ini berdampak baik bagi pelestarian area makam. Bangunan-bangunan diperbaiki dan ia mengaku mendapatkan honor tetap setiap tiga bulan sekali.

Padahal sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Umi lebih banyak mengandalkan santunan dari para peziarah dengan nominal seikhlasnya. Selain itu, ia juga berjualan dengan membuka warung klontong meskipun hasilnya tak seberapa. Semua itu ia jalani dengan ikhlas dan tanpa pamrih.

Dari Petani sampai Calon Bupati

Tidak banyak cerita yang bisa dikumpulkan dari kisah Mbah Demang. Menurut Umi Kulsum, Mbah Demang merupakan orang yang babat Jember. Ia berasal dari Jawa Tengah. Kedatangannya ke Jember tak lain berdasarkan perintah Wali. Mbah Demang memiliki saudara bernama Suro Nganti yang nunggu Alas Purwo, Banyuwangi.

Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, makam Mbah Demang pertama kali ditemukan berdasarkan firasat kakek buyut Umi Kulsum. “Kakek buyut saya bermimpi, lalu datang kemari dan menemukan makam ini,” ujarnya. Firasat tersebut datang berulang-ulang kali melalui mimpi.

Makam Mbah Demang ditemukan setelah kakek buyut (juru kunci sepuh,-red) menebang pohon di area makam saat ini. Juru kunci sepuh menemukan makam tanpa nisan yang kemudian diketahui sebagai makam Eyang Demang. Setelah itu, juru kunci sepuh membersihkan area sekitar makam dan membuatkan batu nisan. Didekat makam dibangun sebuah pondokan kecil dari bambu. Kemudian berdatanganlah para peziarah dari berbagai daerah hingga saat ini.

Berbagai lapisan masyarakat pernah berziarah ke makam Mbah Demang. Mulai dari petani, pedagang, camat, sampai calon bupati. Mereka mendoakan Eyang Demang dan berharap mendapatkan borakah. Peziarah percaya bahwa barokah yang diperoleh bisa memuluskan setiap keinginan dan cita-cita.

Petani meminta supaya hama tidak menyerang tanaman mereka dan kelak hasil panen melimpah ruah. Pedagang berharap usaha yang dirintisnya sukses. Dan calon bupati, menurut cerita Umi, dengan khusyuk mengharap kelak menang dalam pemilihan umum.

“Semuanya kesini lebih dulu, meminta restu. Yang datang kemari tidak sedikit, jadi sebagai juru kunci saya tidak boleh membuka nama. Terkadang ada yang tanya, siapa saja mbah yangg sudah datang kemari, saya bilang tidak ada, sebab tidak boleh dikatakan. Mereka semua meminta terpilih. Saya hanya bisa membantu menyampaikan, untuk kemudian keberhasilannya kita kembalikan kepada Allah,” kata Umi. Dalam setiap ritual doa, Umi Kulsum selalu menjadi pembuka. Memperkenalkan peziarah dan tujuannya kepada Eyang Demang, kemudian para peziarah mengucapkan sendiri doa dan semua keinginannya. Menurut Umi, semua putro wayah (anak cucu, -red) ia bantu menyampaikan keinginannya kepada Eyang Demang, tapi ia juga mengingatkan bahwa semua merupakan kehendak Allah, Eyang Demang hanya membantu dengan memberi barokah kepada mereka.

Umi Kulsum menjelaskan bahwa niat berziarah yang pertama adalah mengaharapkan barokah Mbah Demang, dan kedua meminta bantuan kepada Allah melalui Mbah Demang. “Apakah nanti terkabul atau tidak, semua kan kehendak Allah,” lanjutnya. Peziarah yang terkabul doanya biasanya akan kembali dan mengadakan selamatan sebagai ucapan syukur.

Peziarah banyak berdatangan dari wilayah Jawa timur dan Jawa Tengah. Untuk Jawa Timur, selain Jember, daerah seperti Bondowoso, Malang, Surabaya, Kediri, dan Jombang rajin berkunjung minimal setahun sekali, mereka berkumpul, berdoa dan selametan1. Sesuai tradisi yang selalu di jaga, selametan dilaksanakan pada jumat legi. Mereka mempercayai bahwa jumat legi bertepatan dengan hari lahir Eyang Demang. Pada hari tersebut barokah yang diperoleh berlipat-lipat.

Di dalam area makam terdapat sumur tua, airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Setiap peziarah tidak lupa untuk membawa pulang air sumur tersebut. Ada yang mengemasnya di botol air mineral ukuran besar, dan ada juga yang menggunakan jerigen, biasanya peziarah dari luar kota. Sumur berdiameter 1,5 meter ini terletak persis disebelah utara makam.

Selain air sumur yang dipercaya menyebuhkan berbagai macam penyakit. Air sumber berkhasiat juga keluar dari dalam gua, tempat Eyang Demang bertapa, air tersebut diyakini mampu menyembuhkan gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. Peziarah terkadang memilih langsung mengguyur badannya di tempat. Gua bernama Sendang Sari ini berdiameter kurang lebih 2 meter persegi, seluruh area gua telah terendam air, sehingga sulit untuk melihat kedalaman gua. Menurut Umi, dulu Eyang Demang sering menghabiskan waktu di dalam gua untuk bertapa menenangkan diri dan memohon petunjuk dari Allah.

Tepat di depan gua berdiri pohon beringin tua dengan lubang besar ditengahnya. Menurut Umi, lubang menganga di pohon beringin tersebut sering digunakan oleh putro wayah untuk menyepi, bertapa. Terkadang ada yang menyepi selama tujuh bulan. Untuk menahan panas dan dingin, didirikanlah terpal disekitar pohon. Umi Kulsum setiap harinya juga menyuplai makanan dan minuman secukupnya. “Sekarang orang itu sudah sukses dan menjadi sesepuh di daerahnya,” ujar Umi. Ketika saya tanya dimana rumah putro wayah tersebut, Umi Kulsum enggan untuk menjawabnya gamblang. “Orang Jawa Tengah,” terangnya kemudian.

Hari Tua

Tidak banyak pekerjaan yang saat ini bisa dilakukan oleh Umi Kulsum. Usia yang mendekati angka 80 membuat kondisi fisiknya sering turun. Jika dulu ia mampu seharian menemani peziarah berkeliling area makam, sekarang ia hanya menemani ketika berdoa di makam saja. Bahkan, untuk membersihkan area makam, Umi mengaku tidak bisa melakukannya setiap hari. “Badan saya sering greges-greges2,” katanya. Faktor usia memang telah menghalangi Umi untuk bisa seaktif dulu. Ia menyadari bahwa tidak lama lagi mungkin kakinya sudah sangat pegal untuk menjadi pemandu peziarah. Oleh sebab itu, ia masih menunggu firasat dari Eyang Demang tentang siapa yang akan menggantikannya kelak. Sembari menunggu firasat, Umi juga telah menyiapkan salah seorang anaknya, Arif Santoso, untuk bisa menggatikan pekerjaannya. “Semua tergantung permintaan Eyang Demang, saya hanya melaksanakan saja,” katanya.

Kehidupan Umi Kulsum di awal ketika ia menjadi juru kunci sangatlah sederhana. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, selain mengandalkan pemberian peziarah, ia juga membuka warung klonthong kecil-kecilan. Ia kulakan3 sendiri dagangannya dari pasar Gebang yang berada tidak jauh dari rumahnya. “Sekarang saya sudah jarang kulakan sendiri, biasanya cucu yang bantu,” kata Umi.

Warung klontong tersebut berada tepat disebelah ruang tamu. Barang daganganya lebih banyak berupa Sembilan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telor, mie instan, makanan dan minuman ringan, dan ada beberapa gantung sandal jepit. “Sekarang berjualan banyak sainggannya,” aku Umi. Menurutnya, rejeki sudah ada yang mengatur, ia hanya berusaha. Jadi tidak ada alasan baginya untuk mengeluh mengenai langganannya yang mulai berpaling.

Sejak pemugaran tahun 1998 dan diakuinya makam Mbah Demang sebagai cagar budaya Jember, Umi Kulsum mulai memperoleh honor tetap dari pemerintah atas loyalitasnya sebagai penjaga makam. Dalam tiga bulan pertama di tahun pertama pengakuan pemerintah, ia memperoleh 450.000/tiga bulan. Jumlah tersebut setelah lama sekali kemudian naik menjadi 750.000/tiga bulan. Baru pada tahun 2010 nominalnya menjadi 3,5 juta/tiga bulan. “Alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Umi.

Gaji dari pemerintah daerah telah banyak membantu aktifitas Umi, sebab selain menjaga kebersihan dan menemani peziarah, Umi juga bertanggungjawab penuh atas beberapa kerusakan kecil yang sering terjadi di area makam. Untuk memperbaikinya ia menggunakan uang pribadi, semenjak di gaji pemerintah, ia memotongnya dari honor tersebut. “Jika kerusakannya kecil, saya sendiri yang akan membiayainya,” katanya. Menurut Umi, apa yang telah ia berikan untuk merawat makam hanyalah bagian dari pengabdian hidupnya kepada Allah.

Di hari tuanya kini, ia hanya meminta supaya seluruh anak cucunya diberi kebahagiaan dan kesuksesan. Semua telah ia jalani dengan ikhlas. Tak ada lagi ambisi dalam hidupnya, semua telah dikembalikan kepada pemilik sah kehidupan, Allah.[]


Catatan akhir:
1. Selamatan : upacara syukuran yang biasanya berisi pembacan tahlil dan tumpengan.

2. Greges-greges : kurang enak badan

3. Kulakan : belanja barang dagangan untuk dijual kembali.


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia