Para Penerus Nyai Sabirah

6 - Jan - 2012 | Ingwuri Handayani | 1 Comment »
Para Penerus Nyai Sabirah

Mbah Asrep sudah berusia 55 tahun. Tetapi, meski sudah lewat setengah abad, matanya masih awas menelusuri garis-garis yang ia bubuhi malam dengan canting. Mbah Asrep bahkan mengatakan bahwa kini ia merasa lebih sehat dan baru saja pulang dari Lampung tempat anaknya menetap. Nenek dengan dua cucu itu, sebelumnya, pernah berhenti dari membatik sejak suaminya meninggal. Tetapi, penyakit darah tinggi justru menderanya. Ia kemudian berobat dengan terapi dan setelah penyakitnya berkurang, ia pun membatik lagi.

Perempuan yang belajar nyanting secara ototidak itu pun kini bekerja seperti sedia kala. Duduk dilantai berganjal bantal, di lantai yang dipenuhi malam, dan sesekali terkena asap dari pekerja lainnya yang sedang memasukkan kain di kuali untuk menghilangkan malam. Di sebelahnya, ibu-ibu juga sedang menggores malam dengan kuas yang lebih lebar. Sementara di pojok, tiga orang sedang mengerjakan Lorot, mereka bergantian memasukkan kain yang sudah dilumuri malam ke dalam kuali yang mendidih airnya. Lorot fungsinya untuk menghilangkan malam.

Di dalam Griyo Tjokro, di ruang tengah, terlibat Bu Tini Bukhari, yang biasa dipanggil Bu Cokro (52) pemilik sekaligus istri penerus Batik Bakaran sedang sibuk menyetrika. Meski sedang dipotret, tampak ia tak peduli dengan sambaran blitz. Ia terus saja menyetrika batik-batik yang hampir selesai diproses itu. Sayangnya, ia tak mau menceritakan sejarah batik Bakaran, ia merasa tak kompeten dan meminta mewawancarai suaminya, pak bukhari, yang sayangnya sedang keluar kota.

Batik Bakaran sebenarnya ada sudah sejak dulu. Tetapi, waktu itu, batik hanya terbatas untuk jarik saja sehingga pesanannya juga terbatas. Kini, seiring berubahnya mode, batik berkembang tak sebatas untuk jarik, batik juga bisa dipakai untuk baju, bahkan, di banyak institusi, sejak munculnya kesadaran untuk menjadikan batik sebagai ciri bangsa, tiap hari jum’at di banyak kantor menerapkan wajib batik.

Batik bakaran sendiri sudah sejak lima tahun lalu bangkit. Saat itu, pemerintah daerah kabupaten Pati mewajibkan pegawainya memakai batik, yang membuat pesanan ke Griya Tjakra Batik meningkat pesat. Kini, meski pemerintah Pati tak lagi memakainya, pesanan rutin masih membanjiri Griyo Tjokro. Hampir setiap hari, batik dikirim ke Jakarta. Biasanya, untuk pesanan 400 buah, membutuhkan waktu 1,5 bulan.

Di Griya Tjokro batik itu, total ada 12 pekerja. Meski begitu, Griya Tjokro masih menampung batik hasil dari orang-orang Bakaran Wetan, setidaknya, sekitar 70 an ikut menggantungkan hidupnya dari Griyo Tjokro. Sejak dipasarkan di Internet, batik Bakaran juga memiliki pangsa yang semakin meluas.

Batik Tjokro sendiri berdiri sejak 1979. Di Griya Tjokro Pak Bukhari yang biasanya mendesign coraknya, kemudian Bu Cokro yang mewarnai. Pak bukhari biasanya membuat motif tiap hari dengan mendesign, menggambar langsung. Satu design juga tak pasti untuk dipakai berapa karena tergantung pesanan Satu. Setelah jadi, biasanya dikirimkan ke anaknya untuk dipasarkan di Internet.

Batik bakaran pernah tiarap di tahun 1998. Waktu itu, Krisis moneter membuat pengrajin tidak bisa mengambil untung karena harga dasar dengan harga jual tak sesuai, banyak pembatik yang banting stir mencari usaha lain. Pernah berhenti saat krismon. “Bayangkan, harga luar negeri naik, di kirim ke Indonesia, saya tidak terjangkau harga jual sama pembelian pewarna. Tidak sesuai, “kenang Bu Cokro. Ia kemudian les menjahit. Selesai les, bu cokro kemudian menerina jahitan. Empat tahun kemudian, setelah harga mulai stabil lagi, mereka pun melanjutkan membikin batik lagi. Setelah itu, beberapa penghargaan menghampiri mereka. Di tahun 1994, ia mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah, Ismail. Di tahun 2009, pernah mendapat penghargaan pula dari presiden RI.

Bu Tini juga menceritakan perjalanan batiknya. Mulanya, dulu ikut mertua yang sudah sejak turun temurun membatik di Bakaran. Keluarga bukhari sendiri adalah keturunan kelima. Bu tini sendiri, mulanya tidak mau diajari membatik, tetapi ia dimarahi mertuanya, kata mertuanya, “Pokoknya harus bisa,” katanya menirukan. Ia pun diajari sampai bisa, apalagi ia dididik dengan penuh kedisiplinan oleh mertuanya. Setelah menikah, mereka masih satu rumah dengan mertua. Tujuh tahun kemudian, barulah mereka membuat rumah. Setelah itu, ia meneruskan ajaran mertua, mulai membatik kecil-kecilan, dengan modal yang pas-pasan.

Tahun 1985, Bu Cokro pernah sekolah pewarna di Jogja selama satu setengah bulan. “Saya sekolah di Jogja itu kan mendapat pewarna, saya mendapat pewarnaan dari masyarakat sekitar. Jadi masyarakat yang membatik., saya yang warna, jadi, saya mendapat upah warna, seumpama 10 ribu perlembar, obatnya habisnya 8000, untung 2000. Kalau beberapa lembar kan bisa untuk makan sehari-hari,” paparnya.

Batik Bakaran memiliki motif gurat-gurat pecah seperti pada batik Wonogiren atau batik tulis khas Wonogiri. Secara lebih rinci lagi, corak batik di bakaran wetan dan kulo juga berbeda. di Bakaran Wetan garisnya lebih rajin dan dari remukannya sudah beda. Karena itu, biasanya, setelah jadi, ditiru oleh pembatik dari Bakaran Kulon.

Untuk membuat batik, pertama-tama, kain mori diberi pola. Setelah itu, kain di-sawiti. Selesai di-sawiti, kain kemudian ditembok atau di-blabari. Setelah di-blabari, dikasih warna. Setelah pewarnaan, kain kemudian di-lorot. Dilorot fungsinya untuk menghilangkan malam. Setelah itu, baru diseterika. Harganya bervariasi mulai dari 150 hingga 400 ribu berlembar. Harga tergantung dari jenis kain dan tentu saja batikannya, kalau motifnya halus dan rumit, biasanya lebih mahal.

Punden Nyai Ageng

Bagi masyarakat Bakaran kemahiran membatik tak lepas dari peran Nyai Ageng. Nyai Ageng alias Siti Sabirah ini kabarnya adalah keluarga dari Majapahit. Ada yang mengatakan, Nyai Ageng bernama asli Danowati. Kala itu, ketika Majapahit hendak diserang pasukan dari kerajaan Demak, bersama kakaknya ia melarikan diri. Dalam pelarian, sampailah mereka di Juwana. Di tempat itulah kemudian, mereka babat alas. Selesai babat, Nyai Danowati kemudian membakar babatannya sehingga nama itu pun kemudian terkenal dengan bakaran.

Setelah Nyai Ageng moksa, ia masih membantu warga dengan memberi warna (medelke) pada setiap kain mori yang ditaruh di sumurnya. Biasanya, setelah diletakkan di sore hari, paginya, warna mori sudah berubah biru. Karena itu pula mungkin muncul mitos, bahwa batik Bakaran itu, “Cek rupane olo lah macem dingo,” kata Bu Tini. Artinya, meski warnanya jelek sekalipun, tetap pantas untuk dipakai. Para pembatik juga masih berziarah ke punden Nyai Sabirah terutama Kamis Kliwon atau saat malam Jumat Legi.

Petilasan Nyai Ageng berada di jalan Mangkudipuro, berada di samping persis Kelurahan Bakaran Wetan. Punden Nyai Ageng juga bersebelahan dengan petilasan dari ki Dalang Soponyono. Punden Nyai Ageng, berjarak sekitar satu kilometer dari alun-alun Juwana. Suatu siang, saat Srinthil ke situ, tak ada satupun orang yang sedang berziarah. Tiga penjual bunga di seberang jalan juga hanya duduk-duduk saja karena sepinya. Di Punden Nyai Ageng, di depannya terdapat tempat seperti masjid tetapi tak ada mihrabnya, kabarnya, tempat ini adalah untuk mengelabuhi pasukan Demak. Di banding tempat keramat, punden Nyai Ageng tak menampakkan wajah ‘angker’. Di siang hari, karena berada di pinggir jalan, ramai olah lalu lalang kendaraan.

Meskipun begitu, hingga kini masyarakat di sekitar Bakaran masih patuh atas apa yang dititahkan Nyai Sabirah. Selain soal tradisi membatik yang masih bertahanm, mereka juga masih patuh untuk tak menjual nasi. Selain itu, masyarakat Bakaran juga masih ada yang membawa bayinya ke sumur di punden nyai, memutari sumur dan melempar uang ke dalamnya. Sementara, para pengantin juga diarak mengelilingi sumur sebanyak tujuh kali. Masyarakat juga masih percaya bahwa untuk menyelesaikan masalah, mereka bersumpah dengan meminum air sumur. bagi yang salah, mitosnya akan celaka.

Selain itu, orang yang mau berziarah juga tak ada yang berani membawa ingkung (ayam) karena, Nyai ageng tak mau menerima ingkung dan bagi siapa yang membawa ingkung ke situ, ingkungnya akan mentah lagi meski sudah berkali-kali dimasak.

Tiap tanggal 1 Muharram, saat pergantian klambu, di punden Nyai Ageng digelar ketoprak. Tapi lakon yang dimainkan tak pernah mengangkat tema Nyai Ageng, karena suatu ketika, ketika mementaskan ketoprak dengan lakon nyai ageng, kualat. Sementara di bulan besar (Dzulhijjah), di Bakaran juga digelar Wayang. Ramainya punden, biasanya sore ramainya sudah kelihatan. Calon bupati yang mau nyalon pun banyak yang ke sana. Semua minta pangestu tetapi yang menang kan Cuma satu.

Perempuan di Makam Sunan Muria Makam

Sunan Muria tak jauh dari kota Kudus, hanya membutuhkan sekitar setengah jam perjalanan dengan motor. Tetapi, begitu sampai di pelataran Muria, justru perjuangan lain menanti karena peziarah harus menapaki ratusan anak tangga yang berputar sepanjang 1,5 kilometer menuju makam.

Untunglah, di sepanjang jalan, di kiri kanannya berjejer ratusan kios yang bisa memenuhi kebutuhan peziarah. Bermacam dagangan, baik yang berkaitan langsung maupun tidak dengan ziarah digelar di situ, dagangan juga bervariasi mulai dari kerajinan hingga makanan. Tak hanya itu, di luar kios juga masih ada mereka yang duduk di emperan serta pedagang asongan yang ikut naik turun mengikuti langkah peziarah.

Banyaknya pedagang yang ‘nyadong’ dari Mbah Muria ini, sampai-sampai memunculkan kelakar, ramainya Pasar Kliwon yang terletak di Kudus Kota, ikut tergantung dari ramainya peziarah di Muria. “Orang yang disejahterakan termasuk yang jualan kalau di sini ramai, [pasar] Kliwon juga ikut ramai. Kalau malam senin, kan di sebelah sana ada toko yang agak gedhe itu sampai antri untuk kulakan,” kata juru kunci makam. Tapi, bagi yang tak ingin lelah naik tangga, ada jasa tukang ojek yang siap mengantar sampai di pintu makam. Jumlahnya juga banyak, di siang hari, ada sekitar 250 tukang ojek dan malamnya 150 orang.

Keberadaan makam Sunan Muria memang memberi berkah bagi warga sekitar. Bayangkan saja, setiap hari, rata-rata ada sekitar 50 bus peziarah. Di hari minggu, angkanya bisa naik hingga 500 lebih. Di awal liburan sekolah, bahkan sering membuat macet jalan hingga berkilo-kilo. Sayangnya, meski demikian besar putaran uang orang yang berziarah, yang mendapat keuntungan besar adalah para pemodal. Sementara, pedagang yang tak memiliki modal, tetap hanya untuk mencukupi keluarganya saja. Padahal mereka ini kebanyakan perempuan, dari warga sekitar muria. Hasilnya, meski sudah puluhan tahun berdagang, hanya segitu-segitu saja pendapatannya seperti yang dirasakan Misih saat ditemui Srinthil di sebuah sore (Selasa, 12/06/2011). Perempuan yang menggelar dagangan di sebelah kiri sebelum gapura makam itu mengatakan bahwa seandainya ia kaya, ia tak akan jualan dengan cara begitu. Saat ditemui, perempuan setengah abad itu sedang sibuk menawarkan dagangan ke peziarah.

Di depannya, ia menggelar pisang byar (pisang tanduk) dan jeruk bali. Dagangan Misih ditaruh di atas donak (keranjang terbuat dari bambu). Di Muria, pisang byar adalah salah satu oleh-oleh yang biasa dibeli oleh para peziarah selain buah parijoto dan potongan buah pakis. Parijoto, adalah tanaman berwarna merah tua agak keungu-ungungan, buahnya sebesar kelengkeng. Kabarnya, bagi perempuan hamil yang ingin memiliki anak yang cakep harus makan buah ini. Untuk memakannya, parijoto bisa dicampur dengan rujak saat hajatan tujuh bulanan. Potongan pohon pakis yang dijual di muria kabarnya bisa menjadi penolak kehadiran tikus.

Misih tak sendirian. Di sebelahnya, banyak ibu-ibu lain yang juga aneka makanan seperti Misih. Rata-rata, para pedangan ini berasal dari sekitar desa di kecamatan Colo. Biasanya, mereka datang pagi dan pulang di sore hari. Misih sendiri dari dukuh Kombang, Desa Colo, kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah. Ia tak ingat betul, kapan ia mulai jualan di makam sunan muria. Tetapi, ia mengira-ngira, jika anak tertuanya sudah berusia 24, berarti ia sudah berjualan lebih dari 24 tahun.

Mulanya, Misih jualan karena ikut-ikutan temannya, dari situ, keterusan. Saat ditanya pendapatan Misih mengatakan bahwa kadang ia mendapat cukup meski kadang kurang, tetapi ia coba cukup-cukupkan. Dalam sehari, ia bisa mendapat 25 ribu. Kalau lagi ramai, malah bisa hingga 50 ribu. “Tapi, kalau lagi benar-benar sepi, ya nggak dapat sama sekali,” katanya. Dengan berjualan, Misih bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan berjualan, Misih merasa bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga terutama untuk kumpulan. Mulai dari yang rutin seperti yasinan ibu-ibu hingga kumpulan insidental seperti ketika ada yang punya hajat.

Tak beda dengan Misih, adalah mbah Suminah. Nenek lima buyut ini menempati tempat di agak atas, melewati pintu gerbang. Dari arah gerbang, ia berada di sebelah kanan. Mbah Minah menggelar dagangan persis di depan kios. Ia bercerita bahwa ia berjualan dengan cara begitu sudah sejak sebelum nikah. Sore itu, ia menawarkan parijoto, jeruk bali dan delima wulung. Delima wulung, kabarnya berkhasiat untuk menguatkan rahim. Buah ini, demikian Suminah, pas dikonsumsi oleh ibu-ibu yang hendak memiliki anak. Cara memakannya bisa dengan dilumatkan bareng dengan buah lain yang diulek kayak rujak bebek. Karena tak mudah mencarinya, harga delima warna ungu itu terhitung mahal, 25.000 perbuah. Sama seperti Misih, ia juga menjual dengan cara kulakan, tak dari kebun sendiri. Menjelang magrib, sebelum ia pulang, barang dagangannya yang tak pernah dibawa pulang itu disatukan kemudian ditutupi terpal.

Misih dan Minah adalah dua pedagang kecil yang tak memikirkan untuk mengembangkan dagangannya. Mereka, tampaknya hanya menjalankan dari apa yang selama ini dilakukan sehingga meski sudah puluhan tahun tak memiliki tempat jualan sendiri, atau berstrategi supaya hasil dagangannya bisa meningkat. Mereka ini, rata-rata adalah warga sekitar dan menjual dagangan dari buah-buahan di sekitar Muria. Mereka juga mengalami fase saat Muria masih sepi tak seperti sekarang.

Berbeda dengan pedagang lain yang memiliki kios, bahkan membuat paguyuban. Sebenarnya, di muria ada beberapa paguyuban yang menaungi para pedagang dan pengojek. Di parkiran, yang biasanya memakai rompi paguyubannya Kinanti. Di sekitar gapura, nama paguyubannya Maskumambang. Untuk di sekitar makam, nama paguyubannya sinom. Banyaknya pedagang tak lepas dari mulai adanya rombongan ziarah yang menggunakan bus di tahun 1980an.

Di Muria, ziarah menjadi massif sejak tahun 1980. Muhdi (50) juru kunci makam Sunan Muria ingat bahwa di tahun itu, ziarah ramai di hari Rabo Kliwon, Kamis Legi, Jum’at Pahing, dan Minggu. Biasanya, para peziarah datang dengan naik motor. Lama-kelamaan, semakin mudahnya aransportasi, membuat peziarah semakin ramai. Apalagi jalan menuju muria semakin bagus. Kini, Muria tak hanya ramai, tapi juga sering macet. Hal lain yang membuat ziarah menjadi sering adalah kondisi ekonomi yang semakin naik dan peran ulama. Pria yang memiliki dua dua anak ini adalah salah satu dari 48 juru kunci muria. Ia diangkat menjadi juru kunci sejak tahun 1998.

Hampir tiap hari, kini bisa ditemui peziarah yang datang dari Lampung, Jambi, Palembang, kadang-kadang Medan. Peziarah asal Sumatera ini mulai ada sejak 1985. Para peziarah ini kebanyakan dari Jawa, sehingga dalam percakapan mereka juga berbahasa jawa. Peziarah juga datang dari Kalimantan. Mereka kebanyakan berasal dari Banjarmasin dan Samarinda. Biasanya, dari Banjar Masin mereka menggunakan pesawat yang setelah sampai Surabaya, sudah ada bus yang menampung.

Sesekali juga terdapat rombongan peziarah dari Makassar, Bali dan Mataram. Dari luar negeri, tiap tahun dua kali peziarah datang dari Malaysia dan Singgapura. Rutinitas peziarah dari Malaysia sudah sejak tahun 2000. Mereka, meski tak berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama juga melakukan ritual yang sama seperti tahlil. Bahkan kadang juga ada bule dan orang China yang berziarah ke Muria. Ini juga menimbulkan ketergantungan dari penduduk Colo. Maka, kalau seandainya tidak ada rombongan bus, orang Colo yang susah.

Banyaknya peziarah juga membuat juru kunci selalu menambah fasilitas, atau terkadang mengganti rute supaya bisa memberi pelayanan yang baik. Mereka juga menambah pengurus. Kini, ada 24 pengurus ditambah petugas lainnya sehingga totalnya ada 46.

Sunan Muria, ada yang mengatakan putra dari sunan kalijaga. Nama lain sunan muria adalah sunan ngudung. Ada juga yang mengatakan bahwa bahwa sunan muria adalah sayid karomat. Muria sendiri, Puncak ramainya tanggal 15 bulan muharram. Karena di tanggal itu, ada pergantian luwur (klambu penutup makam). Biasanya, orang-orang datang sore, malamnya ada pengajian. Setelah pengajian, biasanya rebutan untuk mendapatkan nasi tumpeng. Yang mendapat, sepulangnya biasanya dijemur untuk nantinya dicampur dengan nasi saat masak.

Biasanya setelah berziarah, sebelum meninggalkan makam, para peziarah meminum air dari gentong yang katanya peninggalan Sunan Muria. Gentong itu, sekarang masuk bagian dari benda cagar budaya. []


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Para Penerus Nyai Sabirah”

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia