Kisah para Juru Kunci Perempuan

6 - Jan - 2012 | Ingwuri Handayani | No Comments »
Kisah para Juru Kunci Perempuan

Matanya yang layu menoleh ke arah sebatang pohon mangga tua. Mulutnya komat-kamit, seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Padahal, tidak ada orang lain selain kami. Selang semenit, baru ia menatap kami lagi.

Ia adalah Suyati, usianya sudah 90 tahun, juru kunci Pesarean Syeh Maulana Malik Abdurahman, Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Banyuwangi. Setiap menjawab pertanyaan kami, ia lebih dahulu bertanya Suradin, saudaranya, yang menurutnya berada di dekat pohon mangga bambu di sekitar area pesarean, yang tak kami lihat. Suyati bercerita bahwa ia sudah sangat sulit mengingat apa pun mengenai dirinya. Sehingga ia harus bertanya kepada Suradin, yang telah menemaninya menjaga pesarean itu.

Begitulah Suyati menjelaskan asal-usulnya. Setiap pertanyaan, akan ia konsultasikan dengan Suradin kemudian baru memberitahukan ke kami. “Kata Suradin, saya di sini sudah lama, sekitar 15 sampai 20 tahun.”

Suyati berasal dari Madura. Kegagalan dalam membina rumah tanggalah yang menyebabkan ia memilih jalan hidup sebagai juru kunci. Ia pernah menikah lima kali, dan semuanya berakhir dengan kekecewaan. “Karena sering disakiti oleh suami-suami saya dan rasa kecewa terhadap lelaki. Maka saya memilih jalan hidup seperti ini, sebagai juru kunci,” katanya.

Kegagalan dalam membina rumah tangga juga memberi dampak psikologis cukup kuat. Ia menjadi sangat tidak percaya dengan laki-laki karena semua suami yang pernah ia kawini, selalu mengingkari janji dan mengecewakannya. Karena itulah kemudian ia berpikir untuk memilih hidup menyendiri.

Sekitar tahun 1994, Suyati hijrah ke Banyuwangi dan menjadi juru kunci padahal, silsilah di keluarganya tak satu pun ada yang pernah menjadi juru kunci, “Keluarga saya dulu petani,” katanya.

Menurut Suyati, pekerjaan sebagai juru kunci membantunya melupakan semua persoalan hidup yang selama ini mengikutinya. Ia ingin mengabdikan sisa hidupnya dan menjauhkan diri dari semua kekecewaan hidup di masa lalu. Pesarean Syekh Maulana Malik Abdurahman sendiri terletak di tengah hutan. Bangunannya terkesan kumuh dan kurang terawat. Semak-semak tumbuh di sekitarnya. Daun-daun jati juga berserakan tak terurus.

Menurut Suyati, Syekh Maulana Malik Abdurahman merupakan pengembara yang menyebarkan agama Islam di Jawi Wetan. Di sela-sela pengembaraannya, ia menyempatkan diri bertapa, memohon petunjuk kepada Allah. Tempat bertapa itulah yang hingga sekarang dikeramatkan. Masyarakat dari beberapa daerah pernah berziarah ke pesarean, terutama pada hari Minggu. Ada yang datang dari Asembagus, Bondowoso, Sampang dan Banyuwangi. Mereka berziarah dengan berbagai macam alasan. Salah satunya, yang diingat oleh Suyati, adalah kunjungan calon kepala desa yang ingin menang pemilihan kepala desa di daerahnya. “Ada pejabat yang datang kemari, mereka meminta doa supaya memperoleh kedudukan,” kata Suyati.

Suyati selalu terbuka dengan siapa saja yang membutuhkan bantuan. Meski tubuhnya telah renta, itu tak menghalanginya untuk wirid, membantu sesama yang membutuhkan pertolongan.

Dedikasi Suyati yang tinggi dan tanpa pamrih berbanding terbalik dengan kondisi hidupnya. Ia tinggal di ruangan yang hanya berukuran 3×4, yang terletak bersebelahan dengan pesarean. Tidak ada kasur, hanya dipan terbuat dari kayu keras yang membuat badan pegal-pegal. Di bawah dipan, berserakan kayu bakar, sampah dan alat penanak nasi yang hitam legam karena terbakar. Di sudut kamar, sebuah almari tua kosong tanpa pintu teronggok begitu saja. Bahkan, lingkaran seluas dua meter melubangi tembok belakang kamar Suyati. Setiap malam hawa dingin sering mengusik tidurnya. Jika sudah seperti itu, ia lebih memilih untuk wirid di dalam pesarean. Mendekatkan diri pada sang pencipta.

Hidup Suyati yang sangat sederhana, cenderung tak terawat. Meski begitu, tak sekalipun ia sesali. Ia mengatakan bahwa jalan itulah yang ingin ditempuh, menyendiri dan lepas dari hiruk pikuk kehidupan di luar. “Untuk menafkahi hidup, ya seadanya. Kalau ada peziarah yang ngasih, ya Alhamdulillah. Kalo tidak, ya sudah,” kata Suyati.

Cerita Suyati, tampaknya mewakili dari apa yang pernah ditulis oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot di buku Ziarah dan Wali di Dunia Islam. Bahwa kuncen (juru kunci) perempuan hanyalah sedikit dan ada di tempat-tempat yang dianggap tidak penting untuk diziarahi. Hampir sama seperti Suyati adalah Mbah Susur, perempuan yang tinggal di Baleadi, Sukolilo, Pati ini, menjadi juru kunci di sendang Jolotundo. Sendang itu berada di kawasan pegunungan Kendeng, masuk di desa Prawoto, Sukolilo, Pati. Hanya sesekali saja tempat ini diziarahi. Di tempat yang luasnya tak lebih dari lapangan bulutangkis ini ada beberapa pohon besar yang membuat tempat ini rindang. Di depan gua, terdapat seperti pelataran yang bisa dipakai untuk duduk-duduk. Orang yang datang, biasanya membawa dirigen untuk diisi dengan air yang melimpah di dalam gua.

Ketakhormatan orang atas kesakralan Sendang Jolotundo, bisa dilihat dari orang-orang yang melakukan penambangan batu kapur di sebelah barat sendang. Sendang Jolotundo, sebenarnya juga salah satu aliran dari sungai bawah tanah dari pegunungan Karst Sukolilo. Sayangnya, saat kami datang untuk mewawancarai Mbah Susur, ia sakit terkena stroke dan ia beristirahat di rumahnya di desa yang berbeda.

Lainnya, ada juga juru kunci perempuan yang menjadi juru kunci karena mereka mewarisi ‘pekerjaan’ suami. Seperti yang dijalani oleh Umi Kulsum (78) di Kelurahan Jember Lor, Patrang, Kabupaten Jember yang sudah sejak 1988, memilih menjadi juru kunci makam Mbah Demang.

Meski saat diwawancara, Umi Kulsum mengatakan bahwa ia menjadi juru kunci karena dipilih secara langsung oleh Mbah Demang. “Eyang memilih dan memberi tahu lewat mimpi dan firasat,” kata Umi. Pilihan disampaikan melalui mimpi kepada juru kunci terakhir, kemudian juru kunci tersebut menunjuk juru kunci baru untuk menggantikannya.

Selain itu ada juga juru kunci warisan suami, seperti Mbah Sewo (80), juru kunci kompleks kuburan kuno di Dusun Kedon, Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Di kompleks situ juga bersemayam jasad seorang tokoh besar dalam sejarah cerita Babad Tanah Jawa, Raden Ngabei Ronggowarsito. Sebagaimana ia ceritakan kepada KRjogja.com, Sewo menjadi juru kunci sejak tahun 1978 sejak suaminya meninggal dunia.

Di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, terdapat kompleks makam yang dijaga oleh lima juru kunci, dua laki-laki dan tiga perempuan. Lima juru kunci ini, adalah Bambang Suherman, Sardi, Ny Sidem, Ny Harto Sutarto, dan Ny Reso. Sidem sendiri, sudah 12 tahun didaulat menjadi juru kunci. Nenek berumur 65 tahun dengan 17 cucu ini menyatakan makam selalu ramai dikunjungi peziarah pada malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon. Makam Ki Ageng Balak ini kabarnya ramai diziarahi oleh orang-orang yang hendak meminta restu menjadi pejabat di sekitaran Sukoharjo.

Tak banyaknya perempuan yang menjadi juru kunci makam, tampaknya juga tak luput proses perubahan budaya di masyarakat Jawa dari candi menjadi pekuburan sebagaimana dikupas oleh Day Milovich (baca Ziarah: Agama Perempuan, Pengalaman Ruang dan Turisme).

Selain itu, ruang bagi perempuan juga menyempit seiring menguatnya puritanisme Islam di Indonesia. Dalam Islam, tak boleh ada perempuan yang menjadi imam. Ketakbolehan ini, tampaknya juga membuat perempuan hampir tak ada yang menjadi juru kunci. Hal ini masih ditambah dengan pendapat dari sebagian masyarakat Jawa yang menganggap perempuan hanya penerima (wadah) yang tak bisa dijadikan sebagai penerus nasab. “Perempuan itu kan wadah (tempat). Ditaruh di mana-mana itu kan wadah. Keturunan dari si A, lajer, naluri itu kan dari laki-laki. Tidak ada naluri dari perempuan. Perempuan sebagai tempat saja. Mau ditaruh dimana saja kan tergantung tempatnya,” kata juru kunci makam Syekh Jangkung. Dan ia pun menolak ketika kami ajukan contoh bahwa di Jepara, juru kunci makam Ratu kalinyamat adalah perempuan. lelaki tiga anak ini menukas, “Ratu Kalinyamat kan bukan keraton,” tegasnya.

Berkah dari Syekh Jangkung Makam Syekh Jangkung berada di Landoh, Kayen, Pati. Saat Srinthil hendak masuk ke makam Syekh Jangkung, di kiri kanan jalan beraspal tipis itu terlihat bertebaran spanduk dan poster para calon bupati Pati. Rasa-rasanya, tim sukses dari masing-masing kandidat seperti tak rela melihat pohon menganggur di pinggir jalan. Bahkan, tiang listrik di jalan menuju ke makam Syeikh Jangkung itu juga dicantoli spanduk berukuran lima meter bertuliskan, Selamat datang peziarah Khaul Syekh Jangkung Landoh, Kayen, Kec. Kayen, Kab Pati, 16 Juni 2011. Di sebelah kiri, tertempel foto dari pasangan Haryanto berbudi. Persis di sebelahnya, di pohon waru, poster calon bupati lainnya juga digantungkan di situ.

Melewati jembatan, berderet rumah menjadi warung. Sesekali, di jalan itu melintas pengendara motor. Dari situ juga mulai terlihat pohon randu alas yang berjejer menjulang. Pohon randu alas ini, di beberapa desa di Jawa menjadi penanda adanya makam, berada persis di samping gerbang masuk ke makam Syekh Jangkung.

Masih setengah sebelas saat Srintil sampai di makam Syekh Jangkung. Sampai di sebuah warung, yang di sebelahnya dipakai untuk tempat parkir, terlihat seorang ibu yang sedang mengupas sayur. Srinthil menyapa, ibu itu kemudian bertanya, “Mau ke makam?” kami mengangguk. Ia melanjutkan, “Pakai bunga, nanti dikasih uang wajib di atasnya,” lanjutnya. Kami pun membeli bunga dan berjalan menuju ke gerbang makam Syekh Jangkung.

Memasuki gerbang, kami menuju penitipan sandal. Di situ, cuma ada beberapa pasang sandal yang dititipkan. Di sebelah penitipan sandal itulah lorong menuju makam. Di atasnya, tertulis ayat 29 dari surat al Fath yang artinya kira-kira tentang Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya itu sangat keras terhadap orang kafir dan sangat kasih terhadap sesama orang muslim.

Sampai di depan penerima tamu, kami bersimpuh. Kami kemudian menjelaskan maksud kedatangan ke makam Syekh Jangkung. Tetapi, kami harus menunggu juru kunci yang mau mengantar masuk ke makam Syeikh Jangkung. Sambil menunggu juru kunci kami meminta izin memotret makam. Dari depan, bangunan terdapat tiga pintu dengan tengah sebagai pintu utama. Di sebelah kanan kirinya pintu terlukis laba-laba. Di atas pintu utama, tertulis Makam Syekh Jangkung. Di atasnya lagi, ada satu kutipan ayat dari surat annur ayat 55 yang berisi tentang rasa takut bagi orang-orang yang menyembah selain kepada Tuhan. Tampaknya, ayat ini semacam peringatan bagi orang-orang yang berziarah selain karena Allah.

Sambil menunggu juru kunci, kami juga menyaksikan dua orang yang sedang sibuk menghitung kain potongan seukuran lima kali lima centimeter. Kain putih itu juga distempel. Kami ditawari. “Mau? Ini kain penutup makam syeikh jangkung. Satunya 10.000,” katanya menawari. Tetapi kami menggeleng. Kami meminta izin memotret aktivitas mereka. Di tengah-tengah memotret itu, ada sepasang suami istri yang datang. Kemudian mereka berdoa di makam sebelah kanan.

Beberapa saat kemudian, si juru kunci datang. Ia kemudian mengantarkan kami masuk ke makam Syeikh Jangkung. Namanya Tono, usianya 38 tahun. Priakelahiran 1973 ini sudah sejak tahun 2002 menjadi juru kunci di makam Syeikh Jangkung. Ia memakai sarung kotak-kotak warna coklat, berpeci dan memaki kaos loreng bertuliskan Kostrad. Ia menjadi juru kunci sejak bapaknya meninggal, tahun 2002 silam. Sejak jadi juru kunci, ia tak mau menceritakan perjalanannya selama sembilan tahun menjadi juru kunci, khawatir orang-orang tak percaya. Selesai ‘nyekar’ kami memintanya wawancara.

Tampaknya, ia tak terlalu menikmati pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Mungkin, kami sama sekali tak terlihat seperti peziarah yang serius berziarah ke makam yang terletak di Kebolandoh, Kayen, Pati Jawa Tengah itu. Dengan jawaban yang tak terlalu jelas, juga beberapa pertanyaan yang membuat ia tampak tak nyaman, sehingga kami hanya mewawancarainya beberapa menit saja.

Rumah Tono terletak lima puluh meter dari makam. Dari arah perempatan, ke arah kanan. Tono sendiri memiliki dua anak. Ia mengatakan bahwa ia jadi juru kunci karena mengemban amanat. Ia adalah salah satu dari dua juru kunci di makam itu. Biasanya jam kerjanya ia gantian dengan pak Liknya. Dari jam 3 sampai jam 9 pak Liknya, berikutnya ia. Begitu seterusnya. Tetapi di hari-hari tertentu gantian. Tak ada waktu istirahat karena tamu bisa datang kapan saja.

Di sebelah kanan makam, ada ruang yang dipakai untuk tempat mengaji. Biasanya, setelah di’sowan’kan ke Syeikh Jangkung, orang-prang melanjutkan dengan mengaji di ruang ini. Dari ruang ini juga terlihat tulisan garwa (istri) Syekh Jangkung. Di pojok, kita juga akan menyaksikan benda-benda kuno seperti keris, baju sorjan, sarung kotak-kotak, tombak, lampu, batu akik, dan barang-barang lainnya termasuk vespa merah tua dan sepeda onthel.

Oleh sang juru kunci dikatakan bahwa Vespa warna merah itu milik ketua yayasan. Karena orangnya masih hidup, vespanya masih dipamerkan di situ. Tetapi, juru kunci sendiri mengatakan bahwa sebenarnya Vespa ditaruh disitu kurang etis, karena jaman Syekh Jangung belum ada vespa, tetapi, meski begitu ia merasa kalah kewenangan dibanding ketua yayasan. Di urusan kepengurusan, ketua yayasan memegang sepenuhnya kewenangan kecuali dalam masalah makam, yang ketua yayasan dan pengurus, di bawah juru kunci.

Syekh Jangkung seringkali dijadikan sebagai tokoh simbol perlawanan terhadap otoritas keagamaan yang kerap mengancam eksistensi kaum pinggiran. Karena perlawanannya pula, tokoh bernama lain Saridin yang dimakamkan di Landoh, Kayen, Pati, Jawa Tengah itu, pernah diusir oleh Sunan Kudus.

Alkisah, saat menjadi murid Sunan Kudus, Syekh Jangkung sering disuruh dengan cara tak lazim, tetapi dia selalu bisa menjalankan titah karena kesaktiannya. Tetapi, karena kesaktiannya itu pula yang membuat Sunan Kudus murka dan mengusir Syekh Jangkung dari pondoknya.

Perlawanan Syekh Jangkung ini, tampaknya menginspirasi masyarakat di sekitarnya. Selama ini, orang acap mengategorikan Pati selatan sebagai daerah abangan. Letak makam Syekh Jangkung yang berada di Pati selatan seperti menjadi penegas perlawanan itu. Karena itu pula, gerak kultural di sini berbeda dengan di utara. Hal ini juga bisa dilihat, saat orang berziarah ke makam Syekh Jangkung, mereka tak selalu membaca tahlil atau khataman al-Qur’an. Peziarah juga biasa tiduran di sekitar makam yang digunakan untuk mendapatkan ‘petunjuk’. Ini juga berbeda dibanding dengan misalnya ke makam Kiai Mutamakkin yang berada di Kajen yang tampaknya menjadi representasi Pati utara yang kental dengan budaya santrinya.

Cerita Syekh Jangkung sendiri, ada banyak versi. Misalnya, ia dikabarkan pernah membunuh kakak iparnya karena iri. Versi yang lain, kakak iparnya lah yang iri terhadapnya karena selalu untung saat menjaga durian sehingga kakak iparnya berpura-pura menjelma menjadi harimau. Karena menjadi harimau itulah Syekh Jangkung kemudian membunuhnya. Di cerita yang lain, ia dikabarkan adalah orang polos, tetapi versi yang lain lagi, ia adalah orang yang sombong karena memiliki kesaktian.

Menjadi semakin genap atas versi-versi ini, karena yayasan makam Syeikh Jangkung tidak mengeluarkan sejarah resmi. Suatu ketika, yayasan pernah menulis sejarah Syeikh Jangkung hingga berjilid-jilid. Tetapi, buku yang telah dikeluarkan itu ditarik kembali karena tak diizinkan Syekh Jangkung. “Dulu, dari pihak pengurusan makam sudah membuat buku. sudah ada beberapa jilid, disungkemke eyangnya, tidak boleh,” kata Tono (38) salah seorang juru kunci saat ditanya Srinthil. Ia mengatakan, memang ada beberapa pedagang yang menjual, tetapi itu hanya cuplikan-cuplikannya saja. “Itu saja, resikonya sudah besar,“ katanya.

Makam Syeikh Jangkung, biasanya ramainya di Kamis Legi dan Jum’at Pahing. Jum’at Pahing, menjadi hari yang teramai. Keramaian bisanya dimulai sejak pagi hingga pagi berikutnya. Tak hanya berziarah, di hari itu juga diadakan pengajian yang biasanya digelar di pendopo depan pintu masuk makam.

Sebagai simbol perlawanan, Srinthil semula berasumsi akan menemukan cerita lain dari sisi peremuannya, bahwa ada watak equal antara perempuan dan laki-laki di situ, apalagi waktu Srinthil datang ke makam Syekh Jangkung pertama tanggal 29 April 2011 lalu, tampak laki-laki dan perempuan tak terbatasi oleh satir saat di tempat mengaji di sebelah kanan bagian makam, yang di situ juga dimakamkan garwa Syeikh Jangkung.

Tetapi, tampaknya asumsi itu keliru. Setidaknya, saat mewawancarai juru kunci, ia justru menegaskan soal ketidakbolehan perempuan menjadi juru kunci karena perempuan hanyalah wadah (tempat). Sementara, laki-laki lah yang memberikan keturunan.

Meski begitu, perempuan tetap memiliki ruangnya sendiri. Di sekitar makam, ia mengisi wilayah-wilayah yang tak laki-laki lakukan seperti menjadi pedagang untuk menggenapkan uba rampe bagi yang mau berziarah. Biasanya, mereka berasal sekitar makam seperti yang dilakukan oleh Darwati. Di pojok rumahnya, ia menyediakan bunga yang sudah dibungkus daun pisang untuk kelengkapan ziarah. Biasanya, orang yang berziarah, selain menyerahkan bunga juga meletakkan uang diatasnya. Namanya uang wajib. Ibaratnya, karena sudah menyuruh orang, maka ia juga harus memberi imbalan. “Seumpama banca’an, minta diambilkan sesuatu, aku ambilkan ini, itu, kan mosok kosongan, ”kata ibu lima anak ini. Angka uangnya juga tak dibatasi, tergantung dari kerelaan peziarah. “Mau ngasih banyak ya silahkan tidak ya silahkan. Itu tergantung yang nyekar, pihak makam juga tidak menyuruh, tetapi yang perasaan kan kita sendiri,” katanyaa lagi.

Biasanya, di puncak keramaian itu, parkir di rumah Darwati sampai penuh. Untuk setiap parkir motor, ia biasanya menarif 2000 untuk kendaraan roda dua dan 5000 untuk mobil. Tetapi, ia akan diam saja jika ada orang yang hanya memberinya uang seribu. Ia menganggap bahwa itulah rezeki yang ia dapatkan hari itu. Apalagi ia melakukan itu juga terlebih karena mengabdi ke Mbah Jangkung. “Kalau saya ini kan ngawulo dari mbah jangkung. Kalau mbah jangkung ramai saya ikut ramai, kalau ditanya, parkirnya berapa bu? Itu saya jawab 2000. Kalau tidak ditanya, kemudian ngasih berarti rezeki saya ya itu tadi. Mobil juga begitu, berapa parkiran? Di sini itu 5000 tetapi kalau dikasih Cuma seribu, dua ribu ya itu bagian saya. Saya tak tahu yang lain,” terangnya.

Selain tempat parkir, di rumahnya juga tersedia kamar mandi. Sama seperti saat menarif parkir, untuk kamar mandi ia menarif 2000. Tetapi, kalau ada orang yang cuma memberi 1000, ia diam saja. Meski ia asli dari desa situ, tetapi lahan yang ia pakai itu bukan miliknya sendiri, ia mengontrak dari besannya. Ia berbagi waktu dengan suaminya.

Di setiap malam Jum’at Pahing, para pedagang ditarik iuran 2000. Tarikan ini lebih untuk memperbaiki prasarana bersama, misalnya kalau ada lobang, ditambal pakai uang dari iuran bersama itu. Dan ia tak merasa keberatan. Di Jum’at Pahing, banyak juga para pedagang dadakan yang ikut mremo. Di hari itu, orang jualan mulai dari perempatan sampai sampai di ujung. Para pedagang dadakan ini tak hanya warga sekitar, bahwa ada yang berasal dari Demak, Jepara, Purwodadi.

Istri Sutiyono ini juga mengatakan bahwa hidupnya, tergantung dari situasi di makam, kalau makam ramai, ia ikut mendapatkan untung begitupun sebaliknya. “Saya itu, kehidupannya ngawulo ke mbah Jangkung, kalau di situ ramai ya saya ikut ramai, kalau sepi saya ikut sepi. Uang sedikit atau banyak itu tergantung saya bagaimana mengaturnya cukup dan tidaknya tergantung saya. Saya sudah bersyukur tidak ke sana-sini sudah dikasih makan sama Mbah Jangkung. Saya sudah enam tahun mengelola ini. Sebelum saya mengelola ini saya sehari makan sehari tidak. Saya bersyukur. Kalau tidak sebab Mbah Jangkung ya tidak bisa.”

Setiap malam jum’at, Darwati selalu berziarah ke makam Syekh Jangkung. Biasanya ia ke makam jam 11 malam. Ia memilih jam 11, karena di sudah tak banyak orang menitip motor. Tetapi, seandainya jam 11 ia tak bisa, ia memilih mengganti ziarah di Kamis sore, sekitar pukul setengah lima.”

Biasanya ia ziarah sendirian. Ia tak bareng suami karena kalau ia ziarah, suaminya yang menjaga toko dan tempat parkirnya. Pun sebaliknya. “Saya di sini bapak di dalam, kalau saya di dalam bapak di luar. Jaga parkir juga begitu. Kalau saya jaga, bapak tidur, kalau saya tidur bapak jaga. Kalau seumpama jaga semua, kalau sakit ya sakit semua.”

Ia juga tak pernah mencari jasa orang lain karena tak mencukupi. “Kalau misalnya pakai orang, dapat seratus, dibagi dua dapat lima puluh, saya dapat apa? Kalau Kamis Legi, Jum’at Pahing ramai, baru saya nyari orang kalau saya sedang repot,” tuturnya

Yang ia lakukan saat ziarah adalah, nyekar, meminta berkah dari Syekh Jangkung, dengan perantara Syekh Jangkung, agar dimintakan ke Allah swt. “Agar saya bekerja lancar, langgeng slamet tidak ada ganggungan apa pun. Sebab di situ saya pentingkan karena saya dapat makan dari situ,” katanya lagi. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak pernah kesana- kemari. Menurutnya, lantaran Syekh Jangkung hingga ia dan keluarganya bisa makan dan anaknya bisa sekolah.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia