Tradisi Ziarah, Perdebatan dan Posisi Perempuan

6 - Jan - 2012 | Ari Ujianto | No Comments »
Tradisi Ziarah, Perdebatan dan Posisi Perempuan

Pak Fatimin duduk dan menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu selatan Masjid Keramat Luar Batang, Jakarta Utara siang itu. Ia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Cibubur untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Istrinya nampak masih mengemasi perlengkapan sholatnya, sambil sesekali melemparkan senyum pada kami. Mereka berdua tidak sekedar mampir untuk sholat Jumat di masjid itu, tapi tujuan utama jauh-jauh datang dari Brebes adalah untuk ziarah ke makam Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al Aydrus atau yang biasa disebut Habib Luar Batang, yang ada di dalam masjid tersebut. “Niatnya silaturahmi sama wali, kirim doa. Kalau doa saya nyampai, beliau nanti juga akan doakan saya, kan gitu. Kayak kalau saya ngasih mas, nanti kalau mas ada (rejeki) kan balas budi begitu,” pak Fatimin menjelaskan maksud kedatangannya ke makam Habib Al Aydrus.

Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al Aydrus memang sangat terkenal karena karomah dan ilmunya yang tinggi. Bahkan menurut Luthfi Makhasin, kandidat doktor dari Australian National University yang banyak meneliti tentang sufisme, Habib Luar Batang ini di kalangan Hadrami, dianggap sebagai patron saint atau semacam wali pelindung. Tak heran jika Al Habib Luthfi bin Yahya, Ra’is ‘Am Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Al Mu’tabarah, setiap ke Jakarta pasti “sowan” dulu ke Al Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang. “Itu bisa dianggap penghormatan, ngalap berkah, reconect dengan masa lalu, dan silaturahmi,” jelas Luthfi Makhasin.

Lain pula maksud pak Anton yang melakukan ziarah di Sendangsono, Kulon Progo, siang 23 November 2010 itu. Seperti banyak disebutkan pelbagai sumber, Sendangsono merupakan tempat yang mempunyai makna historis bagi umat Katolik Jawa. Di situlah pertama kali dilakukan pembaptisan orang-orang Jawa oleh Romo Van Lith, pada Desember 1904. Selain itu, menurut sebuah sumber, banyak orang Katolik pertama di daerah itu juga meyakini ada penampakan Bunda Maria di situ. Tapi banyak pula umat katolik yang tidak meyakininya.

Bagaimanapun, Sendangsono adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi umat Katolik di Jawa, untuk berziarah atau bersembahyang. Salah satunya pak Anton. Ia datang sendiri siang itu ke Sendangsono dan berdoa dengan kusyuk di depan Gua Maria. “Saya datang sendiri, karena kebetulan punya ujub dan ujub itu terkabul,” jelas pak Anton dengan semangat. “ Dulu saya berdoa dengan novena tiga salam Maria. Saya punya keinginan bisa promosi ke unit manajer pada akhir tahun. Kalau doa itu terkabul, saya akan datang ke sini (Sendangsono),” lanjutnya. Ternyata belum sampai akhir tahun keinginan itu sudah terkabul, sehingga pak Anton datang untuk melunasi nazar-nya.

Yang tak terduga adalah yang dilakukan pak Sadi, lelaki enam puluh tahun dari Yogyakarta. Srinthil bertemu pak Sadi di tangga menuju makam raja-raja Jawa di Imogiri. Waktu itu Ia baru saja melakukan ziarah ke makam raja-raja Mataram yang ada di Kota Gede, Yogyakarta. Di kompleks pemakaman Imogiri, makam yang menjadi tujuan utama dikunjungi adalah makam Sultan Agung. Kekeramatan makam Sultan Agung, kata pak Sadi maupun juru kunci, bisa dibuktikan dari baunya yang wangi, yang bukan dari wewangian biasa. Pak Sadi biasa melakukan “tour” ke beberapa makam sekaligus tanpa pulang dulu ke rumah. Kebiasaan tersebut telah ia lakukan sejak masih di sekolah dasar. Orang tua dan gurunya yang mengajarkan untuk rajin berziarah. Dari pelbagai tempat yang dikunjungi, permintaannya ternyata sangat “sederhana”, “ Namung nyuwun keslametan, bagas-waras mawon,” jelas pak Sadi.

Orang memang bisa mempunyai pelbagai tujuan dalam melakukan ziarah, seperti yang dilakukan pak Fatimin dan istrinya serta yang dilakukan pak Anton atau pak Sadi. Tapi secara umum memang ziarah itu seperti melakukan perjalanan atau kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap suci dan sakral, dan para peziarah berdoa di situ. Ini tradisi yang telah berurat-berakar pada agama-agama atau kepercayaan.

Agama-agama yang direpresentasikan oleh pengikut-pengikutnya mempunyai tempat-tempat “favorit” sebagai kunjungan spiritual tersebut, yang biasanya berupa makam tokoh-tokoh, pemimpin atau orang yang dianggap suci serta tempat-tempat yang terkait dengan tokoh-tokoh suci tersebut. Di agama Budha misalnya, orang-orang Budhist menjadikan tempat kelahiran Sang Budha, tempat ia mencapai pencerahan, tempat pertama kali menyampaikan ajaran dan tempat mencapai Parinirwana, sebagai tempat ziarah. Agama-agama lain pun tak beda jauh. Bagi umat Islam, ziarah paling kolosal adalah ke Mekkah, dimana tempat tersebut menjadi kutub utama dari tempat suci di dunia. Tetapi karena tidak semua umat islam bisa menunaikan haji ke Mekkah, maka mereka menciptakan tempat-tempat suci baru yang biasanya berupa makam para penyebar Islam atau wali.

Kajian tentang Ziarah dan Wali di dunia Islam yang dikumpulkan oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot menjelaskan secara gamblang munculnya tempat-tempat suci baru di dunia islam sebagai pengganti yang tidak sempurna dari Mekkah.1

Sedang bagi agama Katolik, tempat-tempat yang terkait dengan kelahiran dan peristiwa-peristiwa penting dari Yesus, Bunda Maria, martir atau para Santo menjadi tempat favorit ziarah. Tapi karena perlunya pengakuan resmi dari Vatikan terkait penetapan seseorang menjadi martir dan santo, maka jarang sekali ada makam santo/santa dan martir resmi di dunia non barat. Indonesia misalnya, tidak ada santo/santa atau martir, walau sebenarnya menurut sebagian umat katolik, ada tokoh yang layak dijadikan sebagai martir karena meninggal membela iman, sehingga makamnya pun ramai diziarahi.

Ada jutaan orang seperti pak Fatimin dan ada puluhan ribu mungkin juga jutaan tempat keramat di dunia yang dijadikan tujuan ziarah. Tapi, tradisi tersebut bukannya lepas dari kritik. Bahkan perdebatan soal boleh dan tidaknya ziarah telah berlangsung selama ratusan tahun dan belum selesai sampai sekarang. Ziarah di antara Perdebatan Dalam Islam, alih-alih peran perempuan dalam ziarah kubur, persoalan ziarah kubur pun mengalami perdebatan soal boleh dan tidaknya sampai sekarang.

Ziarah di antara Perdebatan

Dalam Islam, alih-alih peran perempuan dalamziarah kubur, persoalan ziarah kuburpun mengalami perdebatan sosial soal boleh atau tidaknya sampai sekarang. Ini terkait dengan mazhab atau aliran yang berangkat dari penafsiran yang berbeda terhadap sabda dan perilaku Rasulullah.

Menurut dokumen kaum Sunni, Nabi Muhammad awalnya jelas-jelas melarang mengunjungi pemakaman atau melakukan ziarah kubur karena cenderung berlebih-lebihan dalam tindakan yang dilakukan.2 Namun ketika dirasa iman umat Islam sudah mantap, Nabi kemudian menganjurkannya karena akan mengingatkan pada kematian atau hari kemudian. Ini pun masih ditafsirkan berbeda, sehingga ada sebagian kalangan umat Islam yang tidak mau melakukannya sampai sekarang.

Soal ziarah yang dilakukan perempuan juga menjadi perdebatan dalam umat Islam. Menurut para ahli fiqih Maliki dan Hanafi, praktik ziarah oleh perempuan diizinkan atas dasar cerita tentang A’isyah, istri Nabi, yang habis mengunjungi kuburan saudara lelakinya. Adalah ‘Abdullah ibn Ubayy yang mengingatkan A’isyah tentang larangan Nabi itu. A’isyah kemudian menjawab, “ Memang, awalnya Nabi melarang mengunjungi kuburan, tetapi sesudah itu beliau menganjurkannya”.3

Yang paling keras melarang perempuan melakukan ziarah kubur adalah pengikut mazhab Hambali dan juga Kaum Wahhabiyah, atau setidaknya bersifat makruh. Hal ini disandarkan pada Hadist Nabi yang lain yang menyebutkan Nabi mencela perempuan yang berziarah ke kubur. Mereka berpendapat kemakruhan itu disebabkan perempuan kurang sabar dan berlebih-lebihan kalau berduka.4

Bahkan kemudian ketika kaum Wahhabiyah berkuasa di Arab Saudi, makam-makam keluarga dan sahabat Nabi Muhammad dihancurkan. Yang terkenal tentu penghancuran komplek pemakaman Jannatul Al-Baqi di Madinah dan Jannat al-Muala di Mekah. Perlakukan yang berbeda dilakukan oleh kaum Syiah dan anggota kelompok-kelompok tarekat sufi. Kaum Syiah sangat menghormati Imam atau keluarga Nabi lainnya, termasuk melakukan ziarah secara rutin ke makamnya. Sedangkan tarekat sufi rajin melakukan kunjungan ke makam wali atau pendiri tarekat mereka. Ziarah kubur sering mereka lakukan, termasuk ke makam-makam orang suci dan wali perempuan. Bagi kaum Syiah, ziarah ke makam keluarga Nabi, baik laki-laki maupun perempuan, seperti menjadi ritual tahunan. Tentu saja ini bagi umat Syiah yang dekat dengan makam tersebut. Apalagi ini dianjurkan oleh para teolog mereka. Memang tempat yang paling ramai dikunjungi dan menjadi tujuan ziarah masih makam para Imam, seperti makam Imam Husein bin Ali di Karbala, makam Imam Ali di Najaf dan makam Imam Mousa al-Kadzim di Kazimiyah.

Bagi kelompok tarekat sufi, memang makam yang sering diziarahi biasanya adalah guru-guru tarekat mereka, tapi banyak makam wali yang diziarahi oleh semua golongan, tidak hanya tarekat sufi tapi juga umat dari pelbagai agama. Kelompok ini juga tidak memandang yang diziarahi adalah wali laki-laki atau perempuan. Termasuk di sini adalah makam wali perempuan terkemuka Rabi’ah Al Adawiyah di Mesir, maupun wali “lokal” seperti Bibi Kamalo di Kako, Jahanabad, India. Bahkan di makam Bibi Kamalo ini sebagain besar peziarah adalah perempuan miskin yang biasanya mempunyai masalah dengan kesehatan.5

Katolik Roma, tidak ada perdebatan soal ziarah ini. Bahwa tradisi gereja perdana justru menunjukkan adanya tradisi ziarah, seperti Santo Thomas yang makamnya di India selalu ramai peziarah. Demikian juga dengan tempat meninggal atau makam Santo Paulus dan Petrus. “Saya kira, dengan melihat tradisi ziarah itu sejak awal, itu bagian dari Katolikisme,” jelas Romo Setyo Wibowo, SJ. Ini dikuatkan dengan adanya Hari Raya Semua Orang Kudus dan Hari Arwah, yang jatuh pada 1 dan 2 November, dimana setiap umat Katolik bersembayang dan kemudian ke makam kerabat mereka yang telah meninggal. “Bahkan untuk negara dengan tradisi Katolik, dua hari itu akan menjadi libur nasional,” lanjut Romo Setyo.

Ini berbeda dengan Kristen Protestan yang memisahkan tegas antara tradisi dengan ajaran yang tertuang dalam kitab suci. Apa yang tidak ada di kitab suci tidak bisa menjadi doktrin iman, atau biasa disebut Sola Scriptura. Mereka juga tidak mengenal Santo atau orang suci yang bisa menjadi “perantara” dalam berhubungan dengan Tuhan. Dengan demikian, ziarah kubur menjadi bagian yang berada di luar doktrin iman tersebut. Tradisi ziarah menjelang hari Waisak juga sering dilakukan umat Buddha, khususnya ke kuburan orang yang dianggap berjasa terhadap agama Buddha. Ziarah ini bagian dari penghormatan terhadap leluhur atau orang mulia, yang merupakan bagian dari ajaran 10 kebajikan.

Posisi Perempuan dalam Tradisi Ziarah di Indonesia

Tradisi ziarah kini juga dimanfaatkan sebagai bisnis yang semakin hari semakin semarak. Agen wisata religi atau ziarah pun bermunculan yang menawarkan perjalanan ke dalam maupun luar negeri. Yang tak pernah surut adalah ziarah ke makam Wali Songo. Misalnya untuk hari biasa saja, makam Sunan Muria yang termasuk Wali Songo dikunjungi rata-rata 50 bus. Kalau hari minggu atau liburan, bis yang datang bisa mencapai 500. Yang paling gamblang terlihat dari fenomena semaraknya ziarah tersebut adalah banyaknya perempuan-perempuan sebagai peziarah. Ini ternyata tidak hanya terjadi dalam ziarah yang dilakukan umat Islam. Ziarah di umat Katolik pun perempuan mendominasi. Bahkan menurut Romo Setyo Wibowo, SJ, perempuan yang melakukan ziarah serta misa atau acara lingkungan bisa mencapai 80% dari yang hadir. “Mungkin karena laki-laki berpikirnya pragmatis, jadi tidak tertarik dengan yang kayak begitu,” kata Romo Setyo.

Sebenarnya posisi perempuan tidak sekedar sebagai peziarah, tapi juga termasuk orang yang diziarahi hingga juru kunci makam. Banyak sekali makam tokoh perempuan yang menjadi tujuan ziarah, seperti makam anak dan cucu perempuan Nabi Muhammad, para wali perempuan, santa dan sebagainya. Makam Rabi’ah Al-Adawiyah dan Bibi Kamalo yang disebutkan di muka, adalah contohnya.

Di Indonesia tidak kalah banyaknya, baik yang skala nasional maupun lokal. Di kampung saya, tepatnya dusun Mangsulan, desa Jambon, kecamatan Pulokulon, kabupaten Grobogan, ada sebuah makam yang dikeramatkan oleh sebagian besar warga dan menjadi tempat ngalap berkah.Konon, makam tersebut adalah makam seorang perempuan bernama Kasiyah yang masih punya hubungan darah dengan Ki Ageng Selo, seorang yang terkenal sakti dan bisa menangkap petir. Kasiyah dikeramatkan karena dianggap warga sebagai pendiri dusun kami. Tidak seperti makam keramat lain, makam mbah Kasiyah ini hanya ramai atau dikunjungi ketika orang punya hajat menikahkan anak atau saudaranya.

Dalam prosesi pernikahan, khususnya ketika iring-iringan rombongan calon pengantin pria menuju tempat calon pengantin putri, lebih dulu orang-orang yang membawa barang-barang persembahan memutari makam mbah Kasiyah ini. Mereka hanya memutari satu kali kemudian meneruskan perjalanan ke tempat calon pengantin puteri. Warga yang punya hajat percaya, dengan melakukan upacara atau meminta restu ke mbah Kasiyah tersebut bisa melancarkan acara pernikahan dan terhindar dari mara bahaya.

Kemudian di Jepara ada makam Ratu Kalinyamat yang menjadi tempat paling ramai dikunjungi wisatawan di Jepara. Ratu Kalinyamat merupakan putri Raja Trenggana, Raja Demak ketiga, yang tidak hanya cantik tapi juga berani dan berkuasa. Ini dibuktikan dengan keberaniannya menyerang Portugis di Malaka, sampai dua kali. Hingga penulis Portugis menyebutnya Rainha da Japara, senhora paderosa e rica, dekranige dame ( Ratu dari Jepara, seorang perempuan yang kaya dan berkuasa, seorang pemberani).

Menurut keterangan pemerintah Jepara, ada ribuan peziarah yang datang setiap harinya ke makam Ratu Kalinyamat, dengan pelbagai macam maksud. Ke arah Barat Daya dari Jepara, masih di Jawa Tengah, tepatnya di Purworejo, ada sebuah petilasan yang sangat terkenal: petilasan Nyai Ageng Bagelen. Seperti tempat-tempat sebelumnya, petilasan ini juga ramai dikunjungi para peziarah. Nyai Bagelen diyakini oleh masyarakat sebagai pendiri atau leluhur pertama warga Bagelen. Menurut penuturan HR Oteng Suherman, ahli sejarah Purworejo,Nyai Bagelen merupakan cucu Prabu Suwelocolo dari kerajaan Medang Kamulan. Setelah tua, Prabu Suwelocolo diganti oleh anak sulungnya yang bernama Jaka Panuhun yang kemudian memindahkan kerajaannya ke Pagelen atau Bagelen. Putri Sri Panuhun inilah, yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ageng Bagelen, mulai membentuk komunitas dengan niali-nilai dan adat istiadat yang masih bertahan sampai sekarang.6

Di Leran,Gresik, Jawa Timur, ada makam penyebar Islam yang menurut sejarah lebih empat abad awal dari Wali Songo. Nama penyebar Islam tersebut Fatimah binti Maimun, yang menurut pelbagai sumber berasal dari Parsi. Berdasar inskripsi dan sumber lain, Fatimah binti Maimun adalah tonggak pertama masuknya Islam di Nusantara. Inskripsi dengan menggunakan huruf Arab di nisannya menunjukkan bahwa pada abad XI Islam sudah masuk di pulau Jawa. Cungkup dan bangunan makam Fatimah merupakan perpadu an tradisi Hindu dan Islam. Ini menandakan ada upaya peleburan tradisi dengan simbol-simbol baru, bukan yang lama sama sekali dihilangkan. Makam ini ramai ketika tanggal 15 Syawal, karena bertepatan dengan haul Fatimah binti Maimun.

Selain makam-makam yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi makam-makam perempuan yang dianggap penting dan keramat di Nusantara ini. Dengan melihat makam-makam tersebut, setidaknya bisa dilihat betapa beberapa perempuan telah mempunyai kedudukan penting secara sosial maupun spiritual di masa lampau dan menjadi bagian dari perkembangan peradaban nusantara. Makam-makam mereka dan para peziarah yang datang telah membentuk sebuah tradisi panjang yang tak mudah hilang.[]


1 Edisi bahasa Indonesia buku tersebut diterbitkan oleh Serambi Pustaka tahun 2007 dan Komunitas Bambu tahun 2010, dengan judul Ziarah & Wali di Dunia Islam.

2 Periode pelarangan itu sekitar tahun 610 dan 622, lihat John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford; Dunia Islam Modern Jilid 6, Mizan, Cetakan 2, 2002, hal.195.

3 Ibid

4 Ibid

5 Henri Chanbert-Loir & Claude Guillot, op.cit

6 http://bagelen.net/?p=18


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia