Perempuan dalam Lingkaran Ritus Ziarah

6 - Jan - 2012 | Ari Ujianto | No Comments »
Perempuan dalam Lingkaran Ritus Ziarah

Jaman boleh berubah, kehidupan dunia beserta perangkat-perangkatnya boleh berkembang, tapi tradisi punya jalannya sendiri untuk terus bertahan. Ziarah adalah salah satu tradisi yang punya daya liatnya sendiri. Tradis ini telah ada sejak jaman kuno, sebelum Nabi Isa dan Nabi Muhammad lahir, walaupun ada yang menentang dan melarangnya. Ada yang berpendapat tradisi ziarah, khususnya ke makam, tetap semarak disebabkan masih misterinya sebuah kematian. Sehingga ziarah kadang dimaksudkan meminta mereka yang sudah meninggal, khususnya para wali atau orang suci, menjadi perantara antara kehidupan dunia dengan kehidupan setelah kematian. Menurut Henri Chambert-Loir & Claude Guillot, para orang suci tersebut dianggap telah menerobos batas antara dunia dan surga atau melangkahi batas maut dengan sukses, sehingga makam dan petilasannya di dunia pun menjadi sakral.

Di balik semarak tradisi ziarah tersebut, perempuan menempati peran yang unik. Tak disangkal dari tradisi ziarah, baik di kalangan umat Islam maupun Katolik, perempuan adalah peserta ziarah paling dominan. Romo Dr. Setyo Wibowo, SJ pun memperkirakan 80% peserta ziarah di Katolik adalah perempuan. Tidak hanya itu, dalam acara-acara keagamaan pun sama, mayoritas pesertanya perempuan. Ini tak beda jauh dengan Islam. Lihatlah rombongan ziarah ke Wali Sanga, atau acara pengajian di kampung-kampung atau televisi. Seragam para perempuan-perempuan itu nampak mencolok. Hal ini kiranya yang menyebabkan semakin maraknya paket-paket wisata ziarah. Usaha tour & travel yang terkait dengan ziarah juga terus bermunculan.

Selain sebagai peziarah, banyak pula perempuan yang berperan sebagai juru kunci makam. Suyati misalnya, walau telah berusia lanjut tapi tetap setia menjaga pesarean Syeh Maulana Malik Abdurrahman di Wonorejo, Banyumulih, Banyuwangi. Hampir dua puluh tahun Ia menjadi juru kunci, dan dengan begitu Ia juga telah melupakan semua kepedihan hidupnya. Umi Kulsum, perempuan renta berumur 78 tahun pun tak surut menjalani peran sebagai juru kunci. Dia merasa dipilih Mbah Demang sendiri untuk menjaga makamnya, lewat mimpi yang disampaikan ke juru kunci sebelumnya.

Tapi ada beberapa kompleks makam yang juru kuncinya harus laki-laki. Seperti makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak. Juru kuncinya selain harus keturunan dari Sunan Kalijaga, juga harus laki-laki. “Ya, aturannya begitu, sudah dari nenek moyang,” jelas Pak Prayitno, juru kunci makam Sunan Kalijaga. Demikian pula juru kunci di kompleks pemakaman Raja-raja Mataram di Imogri, semuanya laki-laki dan dibagi menjadi dua, juru kunci makam Raja Mataram Yogya dan juru kunci Makam Kasunanan Surakarta.

Dalam lingkaran ritus ziarah, pusatnya ada di seseorang yang diziarahi. Seseorang ini yang dianggap mempunyai kelebihan dan mempunyai hubungan yang dekat dengan Sang Pemberi Hidup sehingga bisa mengantar doa-doa orang yang masih hidup ke tujuannya. Perempuan di tengah lingkaran ini cukup banyak, dan ini menandakan betapa peran yang diemban dulu sebelum meninggal juga demikian penting. Di tanah Jawa ini ada Mbah Kasiyah, Nyai Ageng Bagelen, Ratu Kalinyamat, dan seseorang yang luar biasa tapi banyak orang belum tahu : Fatimah binti Maimun. Menurut Ludvik Kalus dan Claude Guillot, inskripsi di batu nisan Fatimah binti Maimun yang terletak di Leran, Gresik, Jawa Timur ini dianggap sebagai inskripsi Islam tertua di Indonesia. Dengan kata lain, insripsi tersebut adalah sumber tertulis paling tua tentang kehadiran Islam di Nusantara. Dengan angka tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi, maka kehadiran Fatimah binti Maimun lebih awal 4 abad dari Wali Sanga. Pelbagai sumber juga menyebutkan Fatimah binti Maimun tidak hanya pemeluk Islam, tapi juga penyebar agama Islam pertama di tanah Jawa. Waktu bergulir, pelan-pelan akhirnya makamnya dikenal dan peziarah pun berdatangan, dengan pelbagai maksud.

Tradisi ziarah memang terus bertahan. Tapi kini komodifikasi hal-hal yang awalnya demikian sakral terus terjadi. Ziarah telah menjadi ladang bisnis yang terus berkembang. Orang-orang yang datang ke tempat yang dianggap sakral kini tidak sekedar berdoa, tapi juga berwisata dan tentu, belanja. Ini bisa bermakna ganda, di satu sisi bisa dimaknai komodifikasi, tapi di sisi lain juga dianggap memberi barokah bagi warga sekitar. Semakin ramai sebuah tempat ziarah, semakin banyak pula orang yang mendapatkan barokah, dan semakin dihormati orang yang dimakamkan di situ.


Beranda  |  Kategory: Edisi 24 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia